
George, sedari tadi tak memejamkan matanya. Ia terus mengamati layar televisi yang menempel di dinding kamarnya. Menampilkan rekaman cctv yang berada di ruang tamunya.
Satu jam lamanya, George hanya memandangi apa saja yang dilakukan oleh Gabby.
“Apa dia selalu sulit tidur?” gumam George. Ia mengingat kembali ketika tak sengaja menabrak Gabby di Bali dan melihat wanita itu membeli obat tidur.
Tanpa banyak kata lagi, George bangkit dari ranjangnya. Ia merasa kasian dengan Gabby yang tak juga bisa mengistirahatkan mata dan pikirannya.
Pria itu keluar kamar, melihat ke arah sofa. Menyunggingkan sebelah bibirnya ketika Gabby langsung berpura-pura tidur lagi saat mendengar suara pintunya.
George menuju ke ruang kerjanya, mencari-cari obat yang mungkin saja ia pernah membeli obat tidur.
Beruntungnya, ia memiliki itu. Ternyata ia pernah mengkonsumsinya ketika terlalu banyak pikiran dan membuatnya kesulitan untuk terlelap.
Kakinya segera diayunkan kembali, kali ini ia menuju dapur untuk mengambil air minum. Langsung ke sofa mendekati Gabby setelah obat tidur dan air mineral berada di kedua tangannya.
“Minumlah, aku tahu kau belum tidur,” ujar George. Ia meletakkan sesuatu di tangannya ke meja, lalu mendudukkan dirinya di lantai samping sofa di mana Gabby tidur.
Gabby bergeming, ia tak ingin ketahuan jika tengah berpura-pura tidur.
“Sudahlah, aku melihat semua yang kau lakukan dari cctv. Jadi, tak perlu kau berakting lagi,” cicit George.
Gabby mendengus, ternyata ia ketahuan. Ia lupa jika orang kaya pasti menaruh cctv di mana-mana. Ia membuka kelopak matanya dan menatap tak suka pada George. Tentu saja dia malu, ia malu jika nantinya George tahu dia memperhatikan pria itu.
“Bukan urusanmu!” tampik Gabby. Ia mendudukkan tubuhnya.
“Kau masih saja galak, padahal aku sudah tak kasar dan dingin lagi denganmu, apa kau tak bisa merubah sifatmu juga seperti aku?”
“Jika yang kau lakukan itu tak ikhlas, lebih baik kau tak perlu susah payah merubah sesuatu yang bukan kepribadianmu. Aku memang seperti ini, galak! Kau suka silahkan, tak suka ya sudah.”
Jika George memang mencintai Gabby, pasti akan menerima apapun kondisi Gabby. Bahkan Marvel saja tak pernah mempermasalahkan Gabby yang galak dan selalu menolak Marvel. Justru Marvel selalu berusaha untuk mendapatkan hati Gabby.
“Bukankah wanita lebih anggun jika lembut?” George menaikkan kedua alisnya seolah membenarkan argumennya yang berupa pertanyaan itu.
“Wanita mana yang kau maksud?”
“Semua wanita, bukankah wanita memang seharusnya penuh kelembutan dan perhatian. Catherine selalu memperlakukanku seperti itu, hingga aku bisa nyaman dengannya,” jelas George seolah merasa tak ada yang salah dengan ucapannya. Ia ingin Gabby memperlakukannya dengan lembut dan perhatian seperti ketika wanita itu kecil dulu. Bisa membuat bahagia dan melupakan kesedihannya.
Gabby menghela nafasnya kasar. Kau masih memikirkan wanita itu! Tapi kau mencoba mendekatiku! Gumamnya dalam hati.
“Aku bukanlah bagian dari semua wanita yang kau sebutkan, dan aku bukanlah Catherine. Aku Gabby Gabriella!” ucap Gabby penuh penekanan, ia ingin menanamkan pada George bahwa dirinya berbeda dari wanita lain. “Jika kau masih memikirkan mantanmu bernama Catherine itu, maka kejarlah dia! Untuk apa kau membuang-buang waktumu untuk mendekatiku! Sia-sia!”
Sungguh, aku membenci ketika berbicara dengan pria bermulut sampah ini! Hanya membuatku sakit hati saja!