
Pintu ruangan itu mulai dibuka oleh petugas. Gabby masih menguatkan hatinya untuk menerima kenyataan yang ada. Tanpa diberitahu pun, dia sudah paham sedang dihadapkan dengan apa.
Gabby menengok sejenak ke arah George, ia sedang meminta kekuatan untuk pria yang masih menguasai hatinya. Apa lagi setelah pernyataan cinta saat itu.
George mengangguk dan mengulas senyumnya. “Kau harus kuat. Ayo kita masuk, suamimu pasti sudah rindu ingin bertemu denganmu,” ujarnya.
Dengan mengatupkan bibirnya agar tak bergetar, Gabby mengangguk memberikan jawaban.
Mereka pun mulai melangkah memasuki ruang eksekusi itu. Dada Gabby bergemuruh saat melihat punggung suaminya yang membelakanginya. Ia tak bisa berkata apa-apa lagi.
Gabby tak kuasa menahan air matanya, ia menitikan cairan bening itu saat Marvel mulai berbalik menghadap ke arahnya.
Pria itu tetap saja tersenyum, padahal ajalnya sudah di depan mata.
“Hei ... kenapa menangis?” Marvel berjalan menghampiri istrinya. Ia mengusap pipi yang basah itu dengan jemarinya.
Gabby tetap tak menjawab, tenggorokannya tercekat. Bibirnya mengatup dan air mata yang menjadi jawaban atas kesedihannya.
“Apa kau sangat merindukan suamimu sampai kau menangis melihatku?” tanya Marvel dengan merentangkan tangannya agar istrinya memeluknya.
Gabby mengangguk sebagai jawaban. Ia melepaskan pegangan stroller dan memeluk erat Marvel. Ia menangis dengan mengeluarkan isakan.
George langsung mengambil alih stroller bayinya. Ia hanya bisa menyaksikan sepasang suami istri yang sebentar lagi akan terpisah oleh maut itu. Ia tak cemburu, ia justru ikut merasakan kesedihan.
Marvel mengelus pundak istrinya, ia ingin menangis tapi sebisa mungkin ia tahan. Tak ingin membuat istrinya semakin berat untuk meninggalkannya.
Kedua tangan itu mulai mengurai pelukannya dari sang istri, Marvel memegangi pundak Gabby dan memberikan jarak agar bisa melihat wajah cantik istrinya. Mata istrinya masih terus mengeluarkan air mata.
Dengan jemarinya, Marvel lagi-lagi menyeka air mata istrinya dengan ulasan senyum. “Jangan menangis.”
Gabby memukul dada suaminya dengan tak bertenaga. “Bagaimana aku tak menangis saat bertemu dengan suamiku di ruangan seperti ini? Kenapa kau jahat sekali tak memberitahuku?”
“Maafkan aku, aku hanya tak ingin membebani pikiranmu.”
Gabby hanya bisa menggelengkan kepalanya. Ia sedang sangat sedih. Kenyataan apa ini, kenapa kesedihannya bertubi-tubi. Sudah kehilangan Papanya, sekarang ia harus mengantarkan kepergian suaminya.
Marvel beralih berjongkok di depan stroller. Tangannya terulur bermain dengan tangan bayi yang gembul itu.
“Hei, jagoan. Jaga Mommy mu, ya? Tumbuhlah dengan sehat.” Tangannya mulai meraih tubuh mungil itu. Ia menggendongnya layaknya seorang Ayah kandungnya.
Bayi itu berceloteh saat Marvel mengajaknya berbicara. Tangan mungil itu terulur menyentuh rahang Marvel yang ditumbuhi bulu-bulu halus.
George hanya menatap pemandangan itu sedari tadi. Ia hanya diam.
Sedangkan Gabby menatap suaminya bersama bayinya dengan lelehan air mata yang tak juga berhenti.
Marvel mendekat ke arah George. Ia tersenyum. “Pria pelit, terima kasih atas segala bantuanmu untukku.”
George tak protes saat Marvel memanggilnya pria pelit, tak seperti dulu. “Sudah tugasku sebagai seorang manusia untuk saling membantu,” balasnya.
“Boleh aku minta satu hal lagi padamu?”
George mengangguk. “Katakan saja.”
“Pasti.”
Marvel mencium kening bayi digendongannya dalam-dalam. Setelah puas, ia kembali menatap George dan menyerahkan bayi itu kepada Daddynya.
George mengambil alih putranya. Ia menggendongnya dengan hati-hati.
“Selamat atas kelahiran anak pertamamu. Maaf, aku baru mengucapkannya sekarang.”
“Terima kasih. Maafkan aku, aku juga lupa menyampaikan pesan Lord sebelum dia meninggal. Dia berpesan untuk menyampaikan maafnya padamu karena tak bisa menjengukmu selama di penjara.”
Marvel mengangguk. “Aku akan bertemu dengannya setelah ini. Semoga kami bisa bertemu di sana.”
Marvel beralih menatap Gabby—istrinya. “Terima kasih Gabby, cintaku, istriku. Kau sudah hadir di dalam hidupku yang penuh dengan dosa dan kesalahan. Terima kasih kau sudah menerimaku menjadi suamimu. Aku sungguh bahagia bisa menjadi suamimu. Maafkan aku karena belum bisa menjadi seorang suami yang bisa melindungimu. Kesalahanku terlalu besar. Hukum memang harus ditegakkan. Jika boleh menyesal dan bisa mengulangi waktu, pasti aku tak akan menjadi seorang mafia. Namun waktu terus bergulir ke depan. Semua hanya bisa menjadi penyesalanku.”
Marvel lalu membimbing Gabby untuk berdiri di samping George. Ia menyatukan tangan istrinya dengan George.
“Setelah aku tiada, menikahlah dengan George. Dia akan menjadi orang yang selalu menjagamu, mencintaimu, dan mengasihimu. Dia orang yang tepat untuk menjadi pendamping hidupmu.” Marvel menyerahkan istrinya itu kepada pesaing cintanya. Pesaing yang banyak membantunya. “Aku ingin kalian berjanji akan hal itu.”
Gabby dan George mengangguk sebagai jawaban.
Marvel menengok ke petugas yang berjaga di sana. Ia menganggukan kepala memberikan isyarat jika dia sudah siap sekarang.
Salah satu petugas berjalan mendekat, ia membawa nampan berisi gelas.
Gabby dan George hanya bisa menyaksikan dalam diam. Tak bisa berucap apa pun. Memang sudah jalan hukumnya seperti itu.
Marvel mulai meraih gelas itu. Perlahan ia mulai meminumnya. Air sianida. Marvel mengajukan permohonan terakhir kepada pihak berwajib. Penjara di tempatnya memang memiliki previlage untuk terpidana mati mengajukan permintaan terakhir sebelum dieksekusi, apa pun itu akan dikabulkan asalkan bukan pembebasan.
Marvel mengajukan permohonan terakhirnya untuk diizinkan keluarganya datang menemuinya dan memilih mati dengan racun daripada digantung, tembak, atau disetrum. Ia ingin tubuhnya tetap utuh saat keadaan meninggal.
Tuk!
Marvel meletakkan kembali gelas itu. Sianida itu belum bereaksi.
Marvel kembali menatap istrinya. “Bisa kau memelukku? Aku ingin menghembuskan nafas terakhirku di dalam pelukan orang yang ku cintai,” pintanya.
Gabby mengangguk. Ia langsung merengkuh tubuh Marvel. Masih terisak dirinya, stok air matanya sangat melimpah.
Sianida itu mulai bereaksi di dalam tubuh. Marvel mulai mengeluarkan busa dari mulutnya. Ia menutup kelopak matanya saat oksigen mulai sulit masuk ke dalam paru-parunya.
Tangan yang merengkuh tubuh istrinya itu mulai lemas tak berdaya. Perlahan Marvel ambruk di dalam pelukan istrinya, kakinya tak bisa menopang lagi beban tubuhnya.
Tubuh Gabby perlahan merosot ke bawah, tak melepaskan pelukannya dari Marvel. Ia duduk bersimpuh di sana. Perlahan ia mengurai tangannya.
Marvel terjatuh di pangkuan Gabby.
Wanita itu menangis tersedu-sedu saat melihat wajah suaminya yang sudah mengeluarkan busa banyak. Ia memeluk lagi tubuh itu.
“Tidurlah dengan damai, suamiku. Terima kasih sudah mencintaiku,” ujar Gabby.
Gabby mendaratkan kecupannya di dahi sang suami. Air matanya sampai menetes membasahi kulit yang sudah membiru bibirnya.