
Gabby mengayunkan kakinya untuk mendekati anak dan suaminya. Senyum manisnya terus mengembang melihat kedekatan dua pria pengisi hatinya itu.
“Kau sudah pulang?” tanya Gabby pada suaminya.
“Hm.” Suaminya mengangguk. “Aku punya hadiah untukmu.” Ia memperlihatkan bingkai berukuran besar yang masih tertutup oleh kertas berwarna coklat.
“Kita buka di dalam, ya?” pinta Gabby, dijawab anggukan oleh suaminya.
“Marvel, ayo bereskan mainannya dan segera masuk. Makanan sudah matang.” Gabby ikut duduk di atas rumput itu untuk membantu anaknya memasukkan mainan ke dalam box.
“Yes, Mommy.”
“Daddy bantu, ya.”
Gabby, George, dan Marvel memasukkan mainan yang sangat banyak itu ke dalam box. Mereka lalu masuk ke dalam rumah untuk makan siang.
Setelah kepergian Marvel untuk selamanya, Gabby dan George melangsungkan pernikahan mereka tiga bulan setelahnya. Anak pertama mereka diberi nama Marvel Gabriel Giorgio. Keduanya sepakat untuk mengenang nama itu.
Gabby yang mencetuskan nama untuk anaknya. Ia ingin anaknya tumbuh menjadi pria yang tulus mencintai pasangannya seperti Marvel yang mencintainya.
Ketiganya kini sudah duduk di meja makan. Hidangan sederhana namun terlihat lezat di mata mereka.
“Mommy ... suapi,” rengek Marvel.
George menggerakkan telunjuknya di depan wajahnya. “No ... no ... Marvel harus belajar mandiri, ya. Kan sudah mau punya adik,” nasihatnya.
Marvel mengerucutkan bibirnya, namun tangannya tetap meraih sendoknya sendiri. “Yes, Daddy.”
Gabby hanya bisa terkekeh dan bergeleng kepala dengan suami dan anaknya.
Mereka lalu makan dengan penuh suka cita. Tak ada suara saat makan, seperti biasanya.
George mengajak anak dan istrinya untuk ke ruang tengah setelah selesai makan. Ia ingin mengajak keluarganya membuka bingkai yang ia bawa.
“Aku harus mencuci piring dulu,” tolak Gabby. Ia hendak beranjak menuju wastafel.
George mencekal pergelangan tangan istrinya. “Nanti saja, biar aku yang mencucinya. Kau sudah lelah menjaga Marvel dan mengurus seisi rumah.”
“Sudah tugasku,” elak Gabby.
George menggeleng. “No, kau bukan asisten rumah tanggaku. Kau istriku, bahkan aku tak tega membiarkanmu mengurus semuanya sendirian.”
Gabby mengulas senyumnya, senyum yang selalu George dambakan sejak dulu akhirnya setiap hari ia dapatkan. “Aku senang dengan kegiatanku ini.”
George tak mau berdebat dengan istrinya. Ia langsung menggendong tubuh istrinya yang sedang hamil itu. Ia membawa ke sofa dan mendudukkan di sana dengan hati-hati.
“Daddy ... aku juga mau digendong.” Marvel iri dengan Mommy nya sendiri. Ia merengek dengan merentangkan tangannya.
“Pengen, ya ...?” George menggoda anaknya dengan alisnya yang naik turun. Namun kakinya tetap mengayun menghampiri tubuh mungil itu. Ia menggendong Marvel dan mendudukkan di samping Gabby.
George mengambil bingkai besar yang ia bawa tadi. Ia memberikan kepada Gabby. “Bukalah.”
Gabby menerimanya. Tangannya perlahan mengoyak kertas pembungkusnya. Matanya berkaca-kaca saat melihat lukisan yang diberikan oleh George untuknya.
“Papa Marvel.” Marvel menunjuk lukisan Marvel.
Gabby mengangguk. “Ya, ini Papa Marvel, Daddy, Mommy, dan Marvel baru lahir.” Ia memperkenalkan satu persatu orang di lukisan itu.
George memberikan hasil lukisan dari foto mereka berempat saat di rumah sakit.
Sesuai keinginan Gabby dan sudah disepakati juga oleh George. Mereka tak akan melupakan Marvel. Mereka akan mengenang Marvel, bagaimanapun pria itu tetap bagian dalam hidup mereka.
Gabby tak ingin membuat Marvel terlupakan seperti Mamanya yang terlupakan. Bahkan ia juga memperkenalkan almarhum suaminya kepada anaknya. Ia mengatakan kepada anaknya jika memiliki Papa dan Daddy. Ia juga sudah membawa anaknya untuk ke makam suaminya yang telah tiada.
“Terima kasih.” Gabby mendaratkan ciuman ke bibir suaminya.
Marvel menarik lengan dress Gabby. “Mommy ... kenapa cium-cium Daddy.”
Gabby sampai lupa jika ada anaknya di sampingnya. Karena terharu dengan suaminya yang pengertian, ia sampai terbawa suasana. Ia pun melepaskan pagutannya.
George menoel hidung mancung anaknya. “Pengen, ya ...?” Dengan senyumnya yang terus menggoda anaknya. Ia menaik turunkan alisnya.
George sangat senang menggoda anaknya. Wajah Marvel yang terlihat lucu jika sedang merajuk, membuatnya tak henti-hentinya menggoda bocah kecil itu.
“Mommy ... Marvel juga mau.” Bocah itu merengek minta di cium.
Cup!
Bukan Gabby yang menciumnya, tapi George. Pria itu sudah tak tahan melihat kelucuan anaknya sendiri.
“Daddy ...!” seru Marvel melayangkan protesnya.
Gabby terkekeh, ia sangat bahagia dengan keluarganya ini. “Jail banget sama anak sendiri.” Ia mencubit lengan suaminya.
“Abisnya gemes banget, By.” George menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
Gabby lalu membenamkan kecupan di dahi dan kedua pipi anaknya.
“Wle ....” Marvel menjulurkan lidahnya mengejek Daddy nya karena berhasil mendapatkan ciuman juga dari Mommy nya.
Gabby dan George bersamaan mengacak-acak rambut anaknya hingga membuat Marvel mengerucutkan bibirnya. Dan mereka tertawa bersama melihat tingkah lucu bocah kecil itu.
“Marvel,” panggil George saat mereka sudah berhenti tertawa.
“Yes, Daddy?”
“Marvel tidur siang, ya?” pinta George.
“No ... Marvel belum ngantuk.”
George lalu mensejajarkan wajahnya pada sang anak. “Daddy pengen jengukin adiknya Marvel, Marvel tidur siang, ya?” Ia mencoba memberitahukan maksudnya.
George mendapatkan cubitan dari sang istri hingga ia mengaduh karena cubitannya sangat kecil.
“Kau jangan memberinya kosa kata seperti itu, Ge!” seru Gabby dengan matanya yang melotot.
“Mommy ... Marvel juga mau jengukin adik,” rengek Marvel.
Gabby dan George saling berpandangan, lalu mereka beralih menatap Marvel yang duduk di tengah-tengah.
“Marvel mau jenguk adik juga?” Seperti biasanya, George tetap menggoda anaknya.
“Yes, Daddy.”
George tersenyum penuh arti kepada istrinya.
“Jangan mengajarkan anakmu yang tidak baik!” Gabby melayangkan peringatan.
“Ayuk kita jenguk adik Marvel sama-sama,” ajak George.
Marvel langsung bersorak gembira.
Sedangkan Gabby wajahnya merah padam karena suaminya. “Ge ...!”