
“Apa kau masih ingin di sini atau mau melanjutkan perjalanan?” George mulai tak tahan terus berdebat dengan Gabby yang tak ada ujungnya.
“Mundur!” Gabby memilih memberikan perintah untuk George yang hendak menguasai kemudi. “Hari ini aku yang mengemudi.”
“Kau tak berniat mencelakai aku lagi, kan?” George ingin memastikan keselamatannya, karena Gabby tak menunjukkan tanda-tanda apapun seperti sebelumnya.
“Tidak, cepat mundur!”
George pun akhirnya kembali duduk di kursi belakang.
Gabby masih emosi, karena gagal membalas perbuatan George. Ia mengendarai dengan kecepatan penuh tanpa memperdulikan keselamatannya dan pengendara lain.
“Kau ingin segera bertemu Tuhanmu?” George bertanya dengan berteriak, karena angin yang begitu kencang membuat telinga berdengung dan pastinya sulit untuk mendengar jika suara pelan.
Gabby paham apa yang dimaksud oleh George. Pria itu sedang mengomentari caranya berkendara yang ugal-ugalan. “Kenapa? Kau takut? Jika takut, maka pegangan!”
“Oke!”
Greb!
George sungguh berpegangan, namun bukan berpegangan di pegangan motor yang ada di belakang. Tapi pada tubuh Gabby.
“Lepas!” Gabby menyentakkan tangan George dengan tangan kirinya.
“Tadi kau menyuruhku untuk pegangan, aku sudah pegangan, sekarang kau melepaskannya,” protes George.
“Bukan berpegangan denganku, tapi di belakang jok motor ada besi yang bisa kau jadikan pegangan!” sentak Gabby.
“Oke,” sahut George, namun ia tak berpegangan. Pria itu diam dan melipat kedua tangannya di dada. Sesungguhnya George bisa mengimbangi tubuhnya sendiri dengan kecepatan Gabby.
Tak berselang lama, motor mereka pun sampai di Desa Adat Panglipuran. Terlihat Davis dan Diora sudah menunggu kedatangan mereka.
Davis sudah memasang tatapan tajamnya, sedangkan Diora terlihat bernafas lega.
“Kenapa kalian lama sekali?” tanya Diora.
“Tersesat.” George dan Gabby menjawab bersamaan, membuat keduanya saling berpandangan sejenak. Namun langsung membuang muka lagi.
“Sudahlah, ayo kita masuk.” Diora menggandeng tangan Gabby dan mengabaikan suaminya.
George dan Davis berjalan dibelakang kedua wanita yang mana satu wanita terlihat antusias dan satunya lagi biasa saja.
“Seharusnya kalian sungguh tersesat berdua agar aku bisa menghabiskan waktuku berdua dengan istriku,” keluh Davis.
“Seharusnya kau tak memintaku untuk datang kesini dan membawa sahabat istrimu itu.” George tak mau kalah. “Jika kau mau menyalahkan karena istrimu lebih memilih jalan bersama sahabatnya, salahkan dirimu sendiri, aku pun akan menyalahkanmu! Karena kau membuat pendirianku goyah!”
Davis mengernyit dengan pernyataan George, terutama kalimat terakhirnya. Namun keduanya tak ada yang membuka suara lagi setelah saling mengeluh dan menyalahkan.
Berbeda dengan kedua pria itu, Gabby dan Diora sedang melihat seorang wanita yang menggunakan kebaya khas Bali.
“Aku ingin memakai itu, kita sewa, yuk. Sebagai kostum berkeliling di sini,” ajak Diora menunjuk salah satu penyewaan dan penjual baju adat di sana.
Gabby hanya mengikuti Diora saja ketika tubuhnya ditarik paksa karena terlalu antusias.
Keduanya pun masuk ke dalam tempat penyewaan dan memilih mana yang cocok untuk dipakai.
“Aku ini saja.” Diora sudah memutuskan ingin menggunakan kebaya khas Bali dengan warna peach. “Kau tak memilih?” tanyanya karena sedari tadi Gabby hanya diam dan melihatnya memilih.
“Tidak, kau saja.”
Diora tak mau jika menggunakan pakaian adat sendirian untuk menyusuri destinasinya saat ini. Ia memilihkan untuk Gabby pakai. “Ini, kau cocok menggunakan ini.” Ia memberikan setelan kebaya dengan warna marun yang sangat cocok dengan karakter Gabby yang kuat dan berani.
Gabby tak menolak, dia menghargai apa yang sudah dipilihkan oleh Diora. Meskipun sesungguhnya dia tak ingin.
Setelah berganti kostum. Keduanya keluar, George dan Davis menunggu keduanya di bawah teriknya matahari. Kedua mata pria itu langsung tertuju pada Gabby dan Diora.
“Bagaimana?” Diora menanyakan pendapat suaminya tentang penampilannya.
“Cantik,” puji Davis.
“Kalau Gabby, bagaimana?”