Gabby, My Fierce Girl

Gabby, My Fierce Girl
Part 85



Sudah satu jam, Mark dan Jack menghadapi kemarahan Tuan Marvel. Mulai dari mendapatkan omelan, pukulan. Apapun pertanyaan yang dilontarkan oleh Tuan Marvel, jawabannya akan selalu salah dan tak mau diterima oleh tuannya.


“Kalian! Kenapa tak menghentikan mereka agar tak berduaan di dalam mobil?” Lagi dan lagi, itu terus yang ditanyakan oleh Tuan Marvel. Seolah kurang puas dengan jawaban yang diberikan.


“Maaf, tuan. Jika kami datang menghampiri mereka, bisa saja ketahuan. Karena, pria yang kami mata-matai sepertinya sudah curiga dengan keberadaan kami.” Mark mencoba menjelaskan alasannya.


Bugh!


Kepalan tinju mendarat di perut Mark. Sungguh sial nasib pria itu. Menjawab salah, tak menjawab makin salah.


“Bodoh! Kalian bisa menyamar menjadi satpam atau yang lainnya! Gunakan otak kalian!” seru Marvel dengan nafas memburunya. Ia kembali duduk ke kursi kayu yang ada di gudang tempatnya berada saat ini. Menenggak minuman sejenak. Ternyata marah-marah juga membutuhkan tenaga.


Marvel sesekali melihat ponselnya, menunggu laporan dari anak buahnya yang lain. Ia mendapatkan pesan jika Gabby masuk ke dalam apartemen George dan belum juga keluar hingga saat ini.


Marvel segera menelfon Gabby, ia ingin memastikan jika George tak berbuat sesuatu di luar batas. Ia tahu jika Gabby bukanlah wanita yang murahan. Karena itu jugalah yang membuatnya semakin jatuh hati pada Gabby.


“Shit! Kenapa tak diangkat!” gerutunya. Ia pun kembali menghubungi anak buahnya.


Sementara itu, Jack menatap iba pada Mark, ia merasa beruntung karena belum babak belur seperti rekannya itu. Mungkin, karena ia merasa sudah menjalankan tugasnya.


“Maafkan aku yang tak bisa membelamu, aku juga takut dengan kemarahan Tuan Marvel. Ternyata sangat mengerikan,” lirih Jack pada Mark yang berdiri di sampingnya. “Sepertinya aku beruntung karena melaporkan secara langsung, sehingga Tuan Marvel tak terlalu marah denganku,” imbuhnya.


Mark menyempatkan untuk menengok ke arah Jack. Ia sedikit menyunggingkan senyumnya. “Kau belum tahu Tuan Marvel,” ujarnya memberikan tepukan pada bahu rekannya.


Jack sungguh tak paham dengan maksud Mark. “Memangnya bagaimana Tuan Marvel? Aku sudah melihat sedari tadi bagaimana dia mengamuk dengan kita, tapi lebih marah denganmu.”


Setelah menghabiskan minuman di gelasnya, Tuan Marvel kembali berdiri. “Jo!” serunya memanggil tangan kanannya.


“Ya, tuan?” Jo segera mendekat ke arah Tuan Marvel.


“Kau tahu, kan? Jika salah satu orang di dalam team gagal atau melakukan kesalahan, apa artinya?” Tuan Marvel bertanya pada Jo, namun matanya tak lepas dari Mark dan Jack.


“Jika salah satu orang dalam team gagal atau melakukan kesalahan, artinya semua yang bekerja di team itu gagal juga. Karena di dalam sebuah team, haruslah saling bekerjasama dan berkoordinasi untuk mencapai tujuan yang sama,” jelas Jo panjang lebar.


“Bagus, kau tahu apa artinya Jack?” tanya Tuan Marvel.


Jack menganggukkan kepalanya. “Tahu, tuan. Artinya, saya juga salah.”


“Bagus, kau tahu apa kesalahanmu, Jack?” tanya Tuan Marvel lagi.


“Karena saya berada dalam satu team dengan Mark yang melakukan kesalahan, tuan.” Jack menjawab sesuai apa yang ada di pikirannya.


Tuan Marvel tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban Jack. Ia melangkah mendekat, mensejajarkan wajahnya. Lalu, tangannya mengulur menepuk sedikit kencang di pipi Jack.


“Ternyata kau bodoh! Siapa yang membawamu kemari? Bisa-bisanya mempekerjakan seseorang yang tak memiliki otak sepertimu!” hina Tuan Marvel diakhiri dengan toyoran hingga tubuh Jack terhuyung ke belakang.


Sudah pikirannya saat ini menghawatirkan Gabby, takut George berbuat licik. Ditambah ia dihadapkan dengan anak buah yang bodoh. Semakin memuncak saja amarahnya.