Gabby, My Fierce Girl

Gabby, My Fierce Girl
Part 34



Berkat obat tidur yang ia beli semalam, Gabby dapat berselancar dengan mudah ke alam mimpinya. Ia hanya bisa berharap semoga George tak akan mengatakan sisi lain dari dirinya kepada orang lain. Karena sisi lainnya menunjukkan kelemahan yang ia miliki.


Pagi menyapa, burung-burung telah berkicau membangunkan siapa saja yang masih setia bergelung di bawah selimut.


“Engh ....” Gabby meregangkan otot-otot tubuhnya.


Tok ... tok ... tok ...


Suara pintu diketuk terdengar nyaring ditelinga Gabby. Ia langsung beranjak turun dari ranjang untuk membuka pintu.


Klek!


Gabby menghembuskan nafasnya malas, ia ingin sekali langsung menutup pintunya lagi. Namun sudah dicekal oleh George.


“Apaan sih, ganggu hidupku terus!” seru Gabby. Ia merasa terusik dengan George yang selalu saja muncul di hadapannya, entah itu disengaja ataupun tidak.


George juga tak tahu kenapa dirinya selalu saja ingin dekat dengan Gabby. Seolah nalurinya yang menuntun jiwanya. “Aku cuma mau kasih tahu, kita akan pergi jalan-jalan lagi, kau mau ikut atau tidak?” Ia tak menatap Gabby, meskipun matanya sangat ingin. Sekuat tenaga ia menahannya untuk mempertahankan citranya sebagai pria dingin.


“Tidak!” tolak Gabby dengan lantang.


Entah mengapa mendapatkan penolakan seperti itu membuat George sedikit kecewa. “Kenapa?” Ia pun kini mengalihkan pandangannya ke arah wanita cantik di hadapannya.


George akui, memang Gabby terlihat cantik meskipun dengan kondisi acak-acakan setelah bangun tidur. Ia gelengkan kepalanya untuk menepis fikirannya itu. Wanita tomboi dan kasar, bukan tipeku!


“Kenapa? Tentu saja karena aku tak mau dibonceng oleh kau!” tegas Gabby tanpa ragu menunjuk George dengan telunjuknya. Ia tak ingin kejadian kemarin terulang lagi. “Kecuali jika kau menyewakanku satu motor lagi, atau aku yang mengendarai di depan, baru aku mau.”


“Oke, kau yang di depan.” Spontan saja George mengatakannya. Ia sungguh tak berfikir panjang dalam menjawab.


Gabby menaikkan sebelah alisnya, ada rasa tak percaya manusia seperti George mau mengalah begitu saja. Namun seketika ia tersenyum sinis, ada angin sepoi-sepoi untuknya membalas perbuatan George kemarin.


George tak langsung pergi, membuat Gabby membanting pintu dengan kasar.


Brak!


“Semoga aku tak berjodoh dengan wanita sepertinya,” gumam George sebelum ia berlalu meninggalkan kamar Gabby.


George, Davis, dan Diora sudah menunggu Gabby di resto yang ada di villa itu.


“Maaf, lama,” ujar Gabby sedikit merasa bersalah.


“Kau membuang waktu kami yang berharga ini,” kesal Davis yang sudah siap satu jam lalu di sana.


Diora menginjak kaki suaminya dan memberikan pelototan. Lalu ia mengulas senyuman untuk sahabatnya. “Tak masalah, kau tak apa-apa kan? Asisten dingin itu tak melakukan apapun denganmu, kan?” Ia mencecar Gabby, takut terjadi hal yang buruk dengan sahabatnya hingga membuatnya menunggu lama.


Gabby menatap sekilas ke arah George yang acuh dengannya, kemudian mengalihkan lagi ke Diora seraya bergeleng kepala. “Aku baik-baik saja,” bohongnya. Ia lama karena mandi harus menghindari lukanya dan dia juga harus mengganti perbannya sendiri.


“Syukurlah, kau tumben pakai celana panjang?” tanya Diora yang sedari tadi mengamati penampilan Gabby.


“Di sini panas, kulitku bisa hitam jika terpapar sinar matahari,” kilah Gabby. “Sudah, ayo kita berangkat,” ajaknya.


Mereka pun berjalan bersama menuju tempat parkir.


“Mana kuncinya?” Gabby menengadahkan tangannya ke hadapan George.


George langsung memberikan kunci motor itu. “Nih!”


Gabby memberikan senyum penuh artinya pada George, namun George sudah tahu arti dibalik senyuman itu. Pria itu pun membalas senyuman penuh arti juga pada Gabby yang membuat wanita itu memudarkan senyumannya karena tak tahu apa isi otak George.