Gabby, My Fierce Girl

Gabby, My Fierce Girl
Part 77



Mesin mobil Tesla berwarna abu-abu mulai memutarkan keempat ban yang melekat di sana. Keluar dari tempat parkir rumah sakit yang sangat sepi karena kini sudah lebih dari tengah malam.


Jalan Kota Helsinki bahkan hanya menampakkan beberapa kendaraan, hingga bisa dihitung menggunakan jari berapa jumlah yang berlalu lalang di sana.


Suasana di dalam kendaraan mewah itu sangat sepi. Tak ada pembicaraan diantara dua manusia yang berada di sana. Hanya keheningan dan deru suara mesin mobil yang seperti menertawakan keduanya.


Gabby masih merutuki dirinya yang tiba-tiba perhatian dengan George hingga membuatnya disudutkan terus dengan George yang menggodanya hanya karena perduli dengan luka kecil di tangan pria itu.


Sedangkan George, mata tajamnya terus menerus memperhatikan jalanan di depannya dan beralih melihat ke arah spion yang menunjukkan kendaraan di belakangnya. Ia bahkan tak memperdulikan Gabby yang saat ini tengah memalingkan wajah untuk menutupi betapa malunya wanita itu atas tindakan dadakannya.


Hingga tak terasa, mereka telah sampai di basement apartemen milik George.


“Sudah sampai,” ujar George memberitahu. Ia pun keluar mobil mendahului Gabby.


Bukan untuk membukakan pintu mobil dan keluarlah wanita cantik, namun untuk melihat di mana letak parkir mobil yang mengikutinya terus itu.


Karena dirasa sudah membawa kembali Gabby ke tempat motor gede Gabby ditinggalkan, George meninggalkan Gabby di mobil. Lagi pula, ia selalu di usir jika mendekati wanita galak satu itu. Lebih baik, dia mencaritahu orang-orang mencurigakan yang terus memantau dirinya. Urusan Gabby, belakangan.


Gabby yang sudah turun dari mobil merasa aneh dengan George. Ia terus mengikuti kemana kaki pria itu melangkah. Hingga ia tersadar, untuk apa dirinya ingin tahu dengan urusan seorang pria. Terlebih orang yang dia benci.


Gabby menggelengkan kepalanya, “lebih baik aku pulang.” Ia mulai mengangkat kakinya untuk menuju lokasi yang berjarak kurang lebih lima ratus meter dari tempatnya berdiri saat ini.


“Kenapa aku harus bertemu dengan pria itu terus?” gumam Gabby setelah sampai di tujuannya. Motor gedenya. Ia berdecak sejenak, lalu mencari kunci motornya untuk lekas meninggalkan tempat yang begitu sepi tak ada hembusan nafas manusia lain, kecuali dirinya.


Tas ransel berukuran tak terlalu besar itu dijungkir balikkan, hingga seluruh isinya berceceran di atas lantai yang berlapis oleh semen.


“Pasti terjatuh di dalam mobil pria itu!” Gabby berdecih sejenak. “Pasti aku sial terus jika dekat dengannya!” Ia menyalahkan orang lain atas perbuatan yang bukan kesalahan orang itu.


Dengan langkah yakin, Gabby kembali ke mobil George. Ia berdecak setelah sampai. Sebab, mobil sudah terkunci otomatis. Pandangannya beralih ke tiga pria di sudut basement itu. Tanpa banyak berfikir, ia langsung mendekat ke arah mereka.


“He pria bermulut sampah!” panggil Gabby. Ia masih tetap tak ingin merubah julukannya pada George.


Ketiga orang yang tengah terlibat perbincangan serius itu menghentikan kegiatan mereka. Keenam mata beralih menuju sumber suara.


“Hm?” George menaikkan sedikit dagunya.


“Kemari!” Gabby memberikan isyarat menggunakan tangannya agar George mendekat ke arahnya.


George mengayunkan kakinya, ia paham dengan maksud wanita yang masih membuatnya bingung itu. Bingung dengan perasaannya, apakah ia mencintai wanita itu, atau sekedar karena ikatan janjinya saja, atau karena ia terbiasa dengan perdebatan kecil dengan wanita itu, atau mungkin karena alasan lainnya.


...........


Maaf lagi ya teman-teman, kemarin aku ga up, dan hari ini up cuma dikit ga kaya biasanya. Kebanyakan makan daging sama minum minuman kemasan nih, langsung pusing dan panas sekarang. Kolesterol kayanya.