Gabby, My Fierce Girl

Gabby, My Fierce Girl
Part 49



Srak!


Bunyi kaki-kaki kursi yang bergesekan dengan lantai menggema di ruangan itu. George menarik kursi dengan kencang dan membenamkan tubuhnya di sana.


Tangannya meraih dompet yang masih tergeletak di atas meja. Ia membolak balikkan dompet itu. Jari-jarinya tanpa permisi dengan sang pemilik langsung membuka dompet itu.


Deg!


Jantung George serasa berhenti berdetak ketika seluruh pandangan matanya terisi dengan sesuatu.


Pertama kali yang ia lihat adalah foto seorang anak kecil dengan senyum lebarnya, tiga gigi depannya sudah tak ada akibat terlalu banyak makan makanan manis, pipinya tembem hingga membuat wajahnya terlihat bulat. Ya, itu adalah gadis kecilnya.


Tangannya beralih melihat kartu identitas untuk meyakinkan dirinya, siapa pemilik dompet itu.


“Gabby? Jadi selama ini orang yang aku cari ada di dekatku?” gumamnya.


Kini ia tahu, mengapa dirinya selalu ingin dekat dengan Gabby. Ternyata tubuhnya mengenal siapa orang yang dia cari, namun tidak dengan otaknya.


“Pantas saja aku tak mengenalimu, ternyata kau tumbuh jadi wanita yang cantik. Namun kepribadianmu sungguh berbeda, dulu kau gadis ceria, sekarang mengapa kau jadi gadis yang galak dan angkuh?” gumamnya lagi seraya mengelus foto Gabby.


Entah harus bahagia atau sedih ketika ia menemukan orang yang selama ini dia cari. Ia sadar sudah meninggalkan begitu banyak luka pada Gabby.


Ia semakin yakin jika Gabby adalah gadis kecilnya, saat ia menemukan sebuah gelang dengan inisial GGG di salah satu bagian dompet itu. Gelang miliknya yang ia berikan pada Gabby. Ia yakin itu.


Fikirannya melayang tentang ‘pria ingkar janji’ kini ia sadar dengan maksud Gabby. Ia ingin meluruskan kesalah pahaman itu.


George langsung berdiri dan masuk ke kamarnya. Ia segera berganti pakaian tanpa mengeringkan rambutnya yang masih basah.


Dengan langkah seribunya, ia bergegas menuju basement menuju apartemen Gabby.


...........


Sementara itu, di Apartement Casa De Jule. Gabby tengah mengeringkan rambutnya yang masih basah setelah mandi.


Gabby melihat pantulan dirinya di depan cermin. Tak ada senyum yang mengulas di bibirnya. Hanya kilatan kebencian dari sorot matanya.


Wanita itu mencengkeram erat pegangan hairdryer. “George! Aku membencimu seumur hidupku! Bertemu denganmu adalah kesialan untukku!” kutuknya pada diri sendiri.


Ingin rasanya ia memecahkan kaca di hadapannya yang seolah mengejek betapa mirisnya kehidupannya. Namun ia urungkan, karena kaca itu peninggalan Mamanya.


Gabby beranjak dari meja riasnya menuju almarinya. Ia memilih pakaian untuk ia kenakan bersantai. Kaos putih berukuran sangat besar dan celana pendek yang bahkan celana itu tak terlihat karena terbenam oleh kaos.


Tubuhnya sengaja ia hempaskan kasar di atas kasur. Memejamkan matanya sejenak, entah apa yang ia fikirkan. Karena sesaat kemudian ia membuka matanya dan langsung duduk.


“Gelang itu! Aku harus membuangnya atau ku kembalikan pada pria bermulut sampah itu! Gelang tak berguna, bertahun-tahun aku memakainya tak membuat pria itu mengenaliku! Memang dasar pria sampah tak bisa dipercaya ucapannya!” berang Gabby.


Ia meraih tas yang ada di sudut kasurnya. Mencari-cari dompetnya.


“Dimana dompetku?” gumamnya. Ia balikkan tasnya hingga seluruh isi dalam tas itu keluar semua.


“Sial! Pasti tertinggal di dalam mobilnya saat aku membeli makanan tadi!” Ia acak-acak rambutnya. Dia yang sudah tak ingin bertemu dan berhubungan dengan George lagi, mau tak mau harus berurusan dengan pria itu.


Ting ... tong ...


Suara bel apartemennya berbunyi beberapa kali.


“Argh ... siapa yang bertamu di malam hari!” kesalnya. Dengan hentakan kaki yang menunjukkan kemarahannya, ia keluar kamar untuk melihat siapa gerangan yang datang.