Gabby, My Fierce Girl

Gabby, My Fierce Girl
Part 140



Kini, giliran Gabby yang mencoba untuk memasak sandwich. Ia mencoba melakukan seperti apa yang dilakukan oleh Marvel.


“Aku akan ke toilet sebentar, aku tak tahan. Perutku sakit sekali,” pamit Marvel yang ingin buang air besar.


“Hm ... pergilah, jangan ditahan. Aku akan mencoba mengingat setiap langkah yang kau contohkan.”


Marvel langsung beranjak pergi meninggalkan Gabby sendiri.


Gabby mulai menyalakan kompornya. Ia tak tahu harus memasak dengan api besar atau kecil. Dan, ia memutuskan untuk menggoreng telur dan memanggang daging dengan api besar. Agar cepat matang pikirnya.


“Rotinya, aku lupa belum memasukkan ke toaster.” Ia meninggalkan kompor dengan api besar, di mana telur dan dagingnya masih ia masak.


Gabby mengolesi roti dengan butter, lalu memasukkan ke toaster. Ia kembali lagi ke kompor untuk melihat telur dan juga dagingnya.


“Kapan waktunya ini di balik, ya?” gumam Gabby. “Kenapa aku tak menghitung waktunya tadi, dan malah melihat Marvel saja.”


Gabby bingung sendiri, ia mencoba mengingat bertepatan dengan apa saat Marvel membalik telur dan dagingnya.


“Ah, saat toaster berbunyi.” Gabby lalu memilih duduk untuk menunggu toaster berbunyi. Sembari tangannya bermain ponsel.


“Bau apa ini?” Marvel yang baru saja keluar dari toilet langsung berlari ke dapur. Ia mematikan kompor saat asap keluar semakin pekat.


Gabby meletakkan ponselnya dan melihat Marvel yang sudah berdiri di samping kompor. Ia pun ikut berdiri dan melihat ke atas pan. “Gosong?”


“Apimu terlalu besar. Jika memasak dengan api besar, maka akan cepat matang. Jadi, jangan ditinggal,” jelas Marvel tanpa marah sedikitpun. Ia justru memberitahu dengan perlahan.


“Maaf, aku tak tahu. Aku hanya menunggu toaster berbunyi dan akan membalikkan telur serta daging itu. Seperti yang kau lakukan.”


Marvel menepuk jidatnya. “Sudah, tak apa. Kita makan yang sudah jadi saja. Kau makan sandwich buatanku, aku akan memakan buatanmu.”


“Tapi, sudah tak ada telur lagi. Itu yang terakhir.”


Marvel duduk mengamati Gabby yang mulai menata sandwich. Wanita itu nampak ragu saat hendak meletakkan telur yang gosong ke atas roti. Namun ia sadar, itu tak layak makan. Ia hendak membuangnya.


“Jangan dibuang. Aku ingin merasakan mahakarya masakan pertamamu,” cegah Marvel.


“Tapi, ini gosong.”


“Tak masalah.”


Marvel pun akhirnya mengambil alih pan itu saat Gabby teguh dengan pendiriannya ingin membuang telur gosong. Marvel meletakkan dan menyatukan dengan komponen lainnya.


Marvel mengajak Gabby untuk duduk dan makan malam bersama. Gabby menyantap sandwich buatan Marvel, sedangkan Marvel menyantap sandwich dengan telur gosong buatan Gabby.


Sembari mengunyah, mata Gabby melihat ekspresi Marvel yang terlihat menikmati hidangan buatannya. Ada perasaan tak enak karena membiarkan telur gosong itu dikonsumsi.


“Jika tak enak, jangan dipaksakan. Buang saja.”


Marvel menggeleng. “Tidak ada yang tak enak jika yang membuatnya adalah orang yang ku cintai.”


Gabby membiarkan Marvel menghabiskannya. Melarangpun percumah.


“Menurutmu, pekerjaan apa yang cocok untukku? Aku tak bisa berlama-lama tak bekerja. Meskipun aku memiliki tabungan uang, pasti akan habis perlahan jika aku tak bekerja,” tanya Marvel setelah menghabiskan makanannya.


“Apa keahlianmu?”


“Menjual narkoba dan jual beli organ manusia,” jawab Marvel. Ia sendiri tak tahu keahliannya, yang ia tahu ya kedua itu. Profesi kotor yang sudah ia geluti lama.


Pletak!


Gabby menyentil kening Marvel dengan cepat. “Kau mau terjun ke dunia itu lagi?”