Gabby, My Fierce Girl

Gabby, My Fierce Girl
Part 67



Menerima lamaran mendadak seharusnya senang dan terharu bagi seorang wanita, terlebih ia pernah memiliki sebongkah rasa yang meskipun pernah menorehkan luka. Pembuktian dari George bahwa dirinya sungguh menepati janjinya seharusnya membuat Gabby percaya akan pria itu.


Namun ada hal yang mengganjal di hati Gabby. Waktunya, George melamarnya ketika selang beberapa hari dari pengakuan George yang menyatakan dirinya mencari gadis kecil yang bertemu di danau setelah ia merasa dihianati oleh mantan kekasihnya itu. Ia tak tahu bagaimana perasaan George yang sesungguhnya. Apakah hanya menjadikan Gabby sebagai pelarian saja? Atau hanya sekedar menepati janji saja agar tak merasa dikutuk oleh janjinya sendiri? Ataukah George memang mencintainya?


Diantara ketiganya Gabby tak tahu yang mana perasaan George padanya. Ia memilih menanyakan kepada yang bersangkutan sebelum ia mengambil keputusan. “Kenapa melamarku?”


Pertanyaan itu membuat George mengernyitkan keningnya. “Bukankah sudah ku katakan, aku ingin membuktikan bahwa aku tak ingkar janji. Aku ingin menepati janjiku yang akan menikahimu.”


Mendengar jawaban itu seharusnya membuat Gabby lega karena penantiannya akhirnya terbalas dan orang yang selama ini ia tunggu menepati janjinya datang juga. Tapi tidak, ia justru tak senang. Ia memutar kembali ingatannya, bagaimana Mamanya melewati hari-hari dengan seorang pria yang berstatus suami namun tak ada cinta di dalamnya. Betapa menderitanya Mamanya saat yang dicintai Papanya adalah wanita lain.


Gabby tak ingin hidup seperti Mamanya, hanya berakhir memendam rasanya sendiri. Bukankah pengalaman adalah guru terbaik untuk kehidupan yang lebih baik? Meskipun bukan pengalamannya langsung, tapi ia cukup bisa belajar dari pengalaman orang terdekatnya.


“Ada lagi?” Gabby masih belum puas dengan jawaban George.


George tak paham dengan maksud pertanyaan itu. “Maksudnya? Ada lagi apanya?”


“Ada lagi alasan yang membuatmu melamarku?” Gabby memperjelas maksudnya. Pandangannya kini fokus pada manik mata George. Ia ingin melihat kesungguhan dari jawaban yang akan dilontarkan.


“Tidak, memang ada alasan lain yang harus menjadi alasanku untuk melamarmu kecuali menepati janjiku?” jawab George. Ia merasa tak ada yang salah dan aneh dengan tujuannya itu, dia rasa tujuannya sangat jelas melamar Gabby.


“Jadi bagaimana? Apa kau menerima lamaranku?” tanya George lagi. Karena ia belum mendapatkan jawaban dari pertanyaannya sebelumnya.


“Renungkan apa yang menjadi alasan terbesarmu melamarku!” seru Gabby. Tak ada penerimaan ataupun penolakan darinya.


George menjadi bingung sendiri dengan apa yang disampaikan Gabby baru saja. Memangnya apa lagi alasannya melamar? Cinta? Bahkan dirinya bingung bagaimana mendefinisikan perasaannya pada Gabby saat ini. Hanya rasa yang selalu ingin bersama, mungkin karena sering berdebat sehingga ia merasa terbiasa dengan sifat galak dan arogan dari seorang Gabby Gabriella.


“Apa artinya kau menolakku?” George ingin meluruskan hasil dari lamarannya hari ini.


“Ada alasan aku harus menerimamu?” balas Gabby.


“Bukankah kau sendiri yang mengatakan saat di danau itu, jika berjanji harus ditepati. Sekarang waktunya aku ingin menepati, tapi kenapa kau jadi mempersulit dan membuat semuanya menjadi membingungkan?” George yang tadinya lembut kini sedikit merasa kesal. Pasalnya, ia sudah sangat percaya diri dengan membuktikan hal ini akan memecahkan keraguan Gabby padanya.


Tak ada ulasan senyum di bibir wanita cantik itu. Hanya sebuah cibiran kecil yang tak terlihat jelas. “Tanyakan pada hatimu, dimana letakku berada,” ujarnya menunjuk dada George.


Dari kejauhan, Tuan Muda yang baru saja datang dan melihat sebuah cincin dalam kotak di tangan George serta tangan Gabby yang menyentuh dada pria lain tengah terbakar api cemburu.