Gabby, My Fierce Girl

Gabby, My Fierce Girl
Part 63



George menengok ke belakang untuk melihat Gabby yang memberikan perhatian kecil padanya. Hatinya tersentuh, ternyata dibalik kegalakan Gabby, masih memiliki sisi manusiawi juga.


“Jangan berfikir yang tidak-tidak, aku hanya menyayangi nyawaku. Jika kau berkendara tanpa menggunakan helm dan terjadi hal seperti tadi, bisa terjadi kecelakaan yang akan merugikan orang lain dan diriku. Kalau hanya kau saja sih aku tak masalah,” kilah Gabby yang tahu jika George pasti sedang terkesan dengan apa yang ia lakukan barusan.


“Terima kasih,” ujar George.


Apa Gabby tak salah dengar? Pria itu mengatakan terima kasih, dan jika diingat kembali, George juga mengatakan maaf padanya. Bukankah ini kali pertama pria itu mengatakan hal keramat yang hampir tak pernah diucapkan oleh George? Ah sayangnya Gabby tak perduli dengan kata-kata sederhana itu. Dan ia pun tak menyadari jika George ternyata perlahan menurunkan egonya hanya demi Gabby.


Gabby membalikkan kepala George agar menghadap ke depan. “Cepat jalan!” titahnya.


George tak langsung menjalankan motornya, beberapa saat ia masih berhenti.


“Ayo jalan, kau menunggu apa lagi?” Gabby mulai kesal.


“Aku tak akan jalan jika kau tak berpegangan seperti tadi,” balas George.


Membuat Gabby memutar bola matanya. “Sudah! Ayo jalan,” ujarnya setelah kedua tangannya kembali mencengkram jas berwarna navy yang sangat kebetulan senada dengan warna kemeja yang saat ini tengah di pakai oleh Gabby.


Motor Ducati Diavel keluaran tahun 2021 yang masih mulus itu kembali membelah jalanan.


Tak ada percakapan antara keduanya, hanya sapaan angin dan sahut-sahutan suara mesin kendaraan di jalan yang terdengar di telinga mereka.


Pria itu membuka helmnya, meletakkan di atas tangki motor. “Tunggu sebentar,” ujar George mengelus rambut Gabby sejenak. Sebelum mendapatkan amukan dari Gabby, ia langsung berjalan menuju salah satu ruko.


Gabby hanya melihat kemana George menghilang dari pandangannya. Entah apa yang dilakukan oleh George, Gabby hanya membuang nafasnya dan mencebikkan bibirnya. Ia dibuat menunggu untuk beberapa saat. Andai ia tak bertemu George, pasti sekarang sudah berada di atas kasur kesayangannya atau ia sudah berkutat di depan MacBook nya untuk mendesain dan membuat konten di youtubenya.


Disaat Gabby menunggu, ponselnya lagi-lagi berbunyi. Tasnya ia balikkan ke depan untuk mengambil benda pipih itu. Dilihatnya sudah ada tiga puluh panggilan tak terjawab dari nomor yang sengaja tak ia simpan.


Mau tak mau, Gabby menganggkat panggilan itu. Sesungguhnya ia sangat malas, namun jika tak diangkat, pasti akan menelfon lagi. Bahkan dirinya sudah ganti nomor ponsel pun sang penelfon tetap bisa mengetahui nomornya yang baru.


“Apa!” ketusnya setelah menggeser tombol hijau ke kanan.


“....”


Gabby menengok ke kanan dan ke kiri, melihat kondisi sekitar setelah mendengar dari sang penelfon.


“Dasar psikopat! Apa kau memata-mataiku? Berhenti menganggu hidupku! Berapa kali aku katakan padamu alasanku tak menyukaimu!” kesal Gabby meneriaki sang penelfon.


Dari kejauhan, George melihat Gabby yang sedang berbincang dengan benda pipih. Ia pun melihat raut wajah Gabby yang terlihat sangat marah. Buru-buru ia menghampiri Gabby, takut terjadi sesuatu hal yang tak diinginkan.