Gabby, My Fierce Girl

Gabby, My Fierce Girl
Part 174



George dan Gabby langsung membawa Lord ke rumah sakit saat tubuh pria tua itu tak juga terbangun. George sudah mengecek nadi di pergelangan tangan, masih ada namun lemah.


Gabby menangis tersedu-sedu sepanjang perjalanan menuju rumah sakit. Inilah yang ia takutkan selama ini, melihat tubuh tua Papanya lemah digerogoti penyakitnya. Penyakit yang sengaja dimasukan sendiri ke dalam tubuh Lord.


Perawat dan Dokter yang berjaga langsung sigap membantu mengangkat Lord ke atas brankar dan segera menangani pasien.


Gabby terus menangis menunggu di luar ruangan. George mengajak Gabby agar duduk.


“Tenanglah, kau harus tenang. Kau sedang hamil,” pinta George dengan memberikan sentuhan lembut di punggung Gabby.


Gabby terus menangis, tak ada niatan untuknya berhenti mengeluarkan isakan. “Bagaimana aku bisa tenang? Papaku sedang melawan maut di dalam sana,” elaknya dengan suaranya yang tercekat.


George tak bisa lagi membantah, dia membiarkan Gabby menangis di pelukannya. Pakaian mahalnya yang harusnya digunakan untuk makan bersama malam ini, sudah basah dengan lelehan air mata orang yang ia cintai.


Derap langkah yang memburu semakin mendekat ke arah dua orang yang tengah berpelukan itu.


Diora dan Davis datang berdua secara bersamaan. Mereka yang sudah berada di restoran, langsung ke rumah sakit saat mendapatkan kabar tentang Lord yang tak sadarkan diri dari George.


“Bagaimana kondisi Papa?” tanya Diora pada Gabby. Ia sama halnya dengan adiknya yang juga menangis sedari perjalanan menuju rumah sakit.


Gabby hanya menggeleng. Ia tak bisa mengeluarkan suara. Tenggorokan tercekat hebat.


“Kita tunggu kabar dari Dokter, Lord sedang ditangani oleh mereka,” ujar George menatap Diora.


Diora meremas dress berwarna peach yang ia kenakan. Ia sangat takut akan kehilangan orang tuanya lagi. Enam bulan lalu ia sudah kehilangan Mamanya. Dan kini ia merasa takut akan kehilangan Papanya juga.


Pintu ruangan itu terbuka, Dokter keluar dari sana dengan wajah yang membuat keempat orang itu semakin memacu detak jantungnya.


Mereka langsung berdiri dan menghampiri Dokter bersamaan. “Bagaimana kondisinya?” semua bertanya hal yang sama.


Dokter itu tak mengulas ekspresi apa pun, tak tersenyum, tidak juga bersedih. “Kondisi tubuhnya semakin melemah, kami akan memindahkannya ke ruang ICU,” ujarnya meminta persetujuan pada keluarga.


Semua mengangguk menyetujui. “Lakukan penanganan yang terbaik.” George dan Davis berucap bersamaan.


Brankar itu mulai didorong keluar UGD dan dipindahkan ke ruang ICU. Semuanya mengikuti sampai ke depan ruangan. Namun Dokter lagi-lagi belum memperbolehkan anggota keluarganya untuk menjenguk. Mereka akan memberikan penanganan ketat untuk mencoba membantu memperpanjang hidup pasien.


Gabby, George, Diora, dan Davis hanya bisa menurut dan menunggu di luar ruangan. Pakaian mahal yang mereka kenakan sudah tak rapi lagi, basah dengan air mata yang terus membanjir. Bahkan George dan Davis membiarkan wanitanya menghapus ingus mereka dengan pakaian yang mereka kenakan.


“Kita pulang, ya? Kau sedang hamil, kau juga harus istirahat,” ajak George pada Gabby. Ia berbicara dengan lembut.


Gabby menggeleng. “Tidak, aku ingin menunggu Papa,” tolaknya.


George menghembuskan nafasnya, ia sungguh tak mau memaksa. Namun ia takut kondisi Gabby akan melemah lagi jika tak istirahat. Ia mendudukkan Gabby di kursi. “Tunggu di sini.”


George lalu menghampiri Diora dan Davis. “Aku titip Gabby, tolong jaga dia,” pintanya.


George lalu pergi meninggalkan mereka semua, entah ke mana perginya.


Diora menghampiri Gabby. Ia memeluk adiknya, keduanya saling berpelukan dengan erat. “Papa tak akan pergi meninggalkan kita, kan?” Keduanya bertanya hal yang sama bersamaan. Entah siapa yang akan menjawab jika dua-duanya saling bertanya hal yang sama.