
Enam bulan kemudian, hari ini adalah hari eksekusi Marvel. Sampai detik ini, George belum juga memberitahukan kepada Gabby. Sesuai amanat yang diberikan kepada Marvel.
Marvel ingin Gabby tahu saat di tempat eksekusi, ia tak ingin memberikan beban pikiran kepada istrinya yang harus memberi ASI eksklusif untuk anaknya yang masih bayi.
Pagi ini seperti biasanya, Gabby, George, Davis, dan Diora sarapan bersama. Mereka masih tinggal di kartel Lord.
Setelah selesai makan, Gabby lalu menyuapi anaknya yang sudah berumur enam bulan itu. Makanan Pembantu ASI selalu ia buat sendiri. Ia mencoba untuk memasak demi sang buah hati, dan beruntungnya anaknya menyukainya.
“Anak Daddy pinter, ya. Makannya selalu habis,” puji George. Ia menghampiri Gabby dan anaknya yang berada di halaman luar.
“Yes, Daddy. Makanan buatan Mommy enak.” Gabby yang menjawabnya dengan menirukan suara anak kecil.
Anaknya masih belum bisa bicara, hanya berceloteh tak jelas saja yang keluar dari mulut mungil itu.
Meskipun mereka berdua belum juga menikah sampai sekarang, namun panggilan itu memang cocok untuk keduanya. Mereka memang orang tuanya. Hanya saja, ada hubungan rumit di dalamnya.
George menggendong anak laki-lakinya, ia membersihkan sisa makanan di mulut bayi itu. Ia yang tadinya tak pernah berekspresi, sekarang sering tersenyum karena sang buah hati.
“Mommy sekarang jago masak, ya? Daddy jadi pengen dimasakin Mommy,” kelakar George. Ia memandang Gabby dengan penuh cinta.
Gabby terkekeh dengan candaan George, ia tak menjawabnya. Ia membersihkan tempat yang baru saja digunakan anaknya untuk makan. Lalu berdiri untuk menggendong anaknya.
“Ada yang ingin ku sampaikan padamu,” ujar George saat bayi itu sudah berpindah ke tangan Gabby.
“Apa?”
“Suamimu ingin bertemu dengan kalian,” jelas George seraya tangannya terus bermain di pipi bulat putranya.
“Sekarang?”
“Aku akan bersiap dulu,” pamit Gabby. Ia hendak melangkah masuk ke dalam.
“Biar aku yang mengurus anakku, kau bersiap saja.” George mengambil alih sang buah hati.
...........
Entah kenapa kaki Gabby gemetaran sepanjang ia berjalan di penjara itu. Dadanya bergemuruh seolah ia sedang merasakan kekhawatiran yang selama ini ia takutkan.
“Kenapa kita tak masuk ke ruangan itu?” tanya Gabby saat mereka melewati ruangan yang biasa digunakan untuk menjenguk tahanan.
George mengulas senyumnya. “Kita ikuti petugas saja,” ujarnya.
Stroller bayi itu terus maju diikuti kedua orang tuanya di belakangnya.
Telapak tangan Gabby mulai mengeluarkan keringat dingin saat tujuannya mengarah ke ruangan yang jelas bertuliskan ruang eksekusi.
Mendadak tangan Gabby tergelincir dari pegangan stroller. Buru-buru George memegangi wanita yang ia cintai itu untuk memberikan kekuatan.
“Kenapa kita ke sana?” tanya Gabby dengan suara yang mulai bergetar merasakan takut.
George tak menjawab, ia terus mengusap lengan Gabby sepanjang perjalanan.
Sampai di depan ruangan itu, mata Gabby mulai berkaca-kaca. Gemuruh di dadanya kian berpacu. Berkali-kali ia menghirup udara dalam-dalam dan mengeluarkannya perlahan. Ia sedang menguatkan diri untuk melangkahkan kakinya masuk ke ruangan itu. Pipinya pun bahkan sampai menggelembung saat menghela nafasnya.
“Kau harus kuat. Suamimu sangat ingin bertemu denganmu dan anakmu,” ujar George. Ia memberikan keyakinan pada Gabby.
Gabby menatap George dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Meskipun di dalam hatinya belum ada cinta untuk Marvel—suaminya, tapi ia tetap merasa sedih jika harus kehilangan suaminya, temannya sedari kecil, orang yang tulus mencintainya.