Gabby, My Fierce Girl

Gabby, My Fierce Girl
Part 33



Gabby menatap ke arah George untuk meminta penjelasan dari pria itu. Mungkin George yang memesan makanannya. Namun George hanya menjawab dengan kedikan bahu.


Pelayan hanya menjalankan tugasnya. Ia tetap meletakkan hidangan yang sudah dia bawa. Lalu segera kembali ke dapur.


“Kau yang memesannya?” Gabby mencoba bertanya baik-baik dengan George.


“Tidak.” George tak mengalihkan pandangan matanya dari layar ponselnya.


Gabby akhirnya bertanya dengan pelayan tentang pesanannya.


“Pesanan meja delapan belas sudah diganti, nona. Dan yang dihantarkan ke meja anda itu adalah pesanan baru.” Pelayan itu mencoba menjelaskan.


Gabby mengangguk mengerti. Ia kembali lagi ke mejanya. “Kau yang mengganti pesananku?”


“Iya.” George menjawab seperti orang yang tak bersalah.


“Tadi kau ku tanya menjawab tidak, sekarang iya!”


“Tadi kau bertanya apakah aku yang memesan, jawabanku memang tidak. Pertanyaan keduamu baru benar.”


Mendengus kesal Gabby dengan jawaban George. “Kenapa kau kurang ajar sekali! Main mengganti pesanan orang lain!” geramnya.


“Makan saja! Itu untuk mempercepat lukamu sembuh juga. Makanan yang kau pesan semuanya adalah larangan dokter,” jelas George tak mau dibantah.


“Lain kali, kau tak perlu mencampuri urusanku!”


“Hm.”


Mau tak mau, suka tak suka, Gabby pun memakan nasi dan sayur sop biasa. Daripada terbuang sia-sia.


Disela-sela Gabby menyantap makanannya, George mengajaknya bicara.


“Desain kamarmu sama persis dengan ini, kau menirunya?” George menunjukkan sebuah video di youtube GARCHI.


Gabby melihat sekilas ponsel itu. “Bukan urusanmu!”


Gabby menahan tawanya mendengar kejujuran George. Ingin rasanya dia mengatakan bahwa itu adalah dirinya, tapi diurungkan. Ia takut mulut pria itu tak bisa menjaga rahasia.


“Memangnya kenapa?”


“Kau seharusnya bisa membuat desainmu sendiri dan tak meniru karya orang lain. Cih! Mahasiswi arsitektur abal-abal,” hina George dan Gabby tak menanggapinya.


Gabby menenggak air mineral setelah selesai menghabiskan makanannya. “Kau yang membayarnya, karena kau yang memesan, bukan aku!” Setelah mengucapkan itu, Gabby langsung beranjak pergi.


Wanita itu pun berjalan ke arah jalan raya. Sambil menikmati ramainya pulau Bali yang selalu menjadi tujuan banyak turis asing.


Menyusuri trotoar seraya matanya terus membaca setiap tulisan yang ada di ruko sekitar. “Itu dia.”


Gabby menyeberang jalan karena tempat yang ingin dia tuju ada di arah yang berlawanan dari lokasinya berjalan.


Setelah Gabby mendapatkan apa yang dia cari, kakinya mengayun kembali ke villa.


Brug!


Gabby yang sedang fokus menatap ponselnya tak sadar jika di hadapannya ada orang yang dia tabrak hingga sesuatu yang baru saja dia beli terjatuh ke lantai.


“Maaf.” Gabby sadar jika dia salah, sehingga ia mengucapkan kata tersebut.


Orang yang ditabrak terlihat berjongkok mengambil barang Gabby yang jatuh. Lalu membaca informasi di kemasan itu.


“Kenapa kau membelinya?” Seraya menyodorkan botol berwarna putih kepada Gabby.


Gabby tahu betul pemilik suara itu. Kepalanya sedikit mendongak untuk memastikan. Benar saja, George orang yang dia tabrak.


Gabby langsung menyabar miliknya dari tangan George. “Bukan urusanmu, urusi saja kepentinganmu sendiri.” Dia tabrak bahu kokoh George. Sudah terlalu jauh pria itu mencampuri urusannya.


Langkahnya terhenti sejenak, ia membalikkan badannya dan bertemu tatap dengan George. “Jangan pernah kau katakan pada siapapun jika aku mengkonsumsi obat tidur!” Ia pun berlalu menuju kamarnya.


Entah mengapa, George semakin penasaran dengan Gabby. Wanita itu seolah menyimpan segala sesuatunya sendiri.