
“Kalian tahu kan jika Marvel adalah bandar dari segala bandar. Dia mafianya,” ujar Lord.
“Mantan, dia sudah berhenti,” ralat George meluruskan.
Lord berdecak dan menatap sebal karena George memotong ucapannya. “Aku tahu dia sudah berhenti.”
“Lalu, apa masalahnya?” tanya Davis.
Lord beralih menatap menantunya. “Masalahnya, kau menjebloskan Sanchez ke penjara. Kau membawa tuntutan bahwa dia juga bandar narkoba. Itu masalahnya!”
Davis yang ditatap tajam oleh mertuanya, hanya biasa saja menanggapinya. “Pria bermulut wanita itu memang pantas ku masukkan ke jeruji besi.”
“Dengarkan dulu mertuamu itu, biarkan dia menyelesaikan apa yang akan dia sampaikan.” George menyenggol tangan Davis agar tak menyela. Sebab, ia saat ini tengah penasaran dengan alasan Lord yang tak menginginkan Marvel menjadi menantunya. “Lanjutkan.”
Davis dan George kembali terdiam dan fokus untuk mendengarkan.
“Sanchez membawa nama Austin sebagai sindikat juga.”
“Lalu?”
“Austin adalah bandar yang paling berhubungan dekat dengan Marvel.”
Davis dan George mengangguk kembali. “Lalu?”
“Austin sekarang menjadi buronan!” Lord menggebrak meja di hadapannya saat mengucapkannya.
“Lalu? Yang menjadi buronan kan Austin bukan Marvel, untuk apa kau bingung?” tanya George.
Lord berdecak sebelum ia menjawab pertanyaan itu. “Jika Austin tertangkap, ada kemungkinan Marvel juga akan terusut. Meskipun Marvel sudah berhenti, tapi jejak kejahatannya tetap masih ada.”
“Lalu, di mana letak ketidaksetujuanmu tentang pernikahan mereka? Kau terlalu berputar tak jelas.” George yang sudah kesal tak juga mendapatkan titik terang alasan Lord tak menyukai Marvel pun mulai kesal dan meninggikan suaranya.
George menggelengkan kepalanya. “Langsung saja pada intinya, kau terlalu berbelit mengatakannya.”
“Aku tak mau Gabby menjadi janda di usia muda. Kalian kan tahu hukum seorang bandar narkoba bagaimana, ditambah Marvel adalah mafianya. Tak perlu aku katakan, seharusnya kalian tahu itu,” ujar Lord frustasi dengan permasalahan yang ia hadapi saat ini.
“Kau kan juga ketua mafia.” Tunjuk George pada Lord.
“Mantan ketua mafia,” ralat Davis.
George melirik ke sahabatnya. “Iya, maksudku itu.”
“Kau seharusnya bisa membantu Marvel agar tak sampai ketahuan. Itu juga demi kebahagiaan anakmu, kau jangan egois. Biarkan anakmu hidup dengan pilihannya sendiri.” Meskipun sakit tak dapat memiliki Gabby, tapi George tak ingin memaksakan diri.
“Jika aku bisa, pasti akan aku lakukan. Masalahnya adalah, Austin tak akan segan-segan menyeret Marvel bersamanya. Dia tak akan membiarkan Marvel hidup tenang, sedangkan dia menderita. Dan Austin sudah jelas menjadi buronan pihak berwajib,” jelas Lord. “Sekalipun Marvel tak menjadi buronan, aku tetap tak menyetujuinya,” imbuhnya dengan nada penuh sesal dan frustasi.
“Kenapa?” Davis dan George bertanya penuh antusias.
“Dia seorang pecandu. Kalian tahu, kan?” Lord menatap satu persatu dua pria berumur yang sudah seperti sahabatnya juga.
“Mantan pecandu.” George lagi-lagi meluruskan.
Davis berdecak. “Kenapa kau malah membela sainganmu terus.”
“Siapa yang membela? Aku hanya meluruskan kesalahan yang diucapkan oleh Lord,” bela George.
“Sudah, diam!” George dan Davis kembali terdiam.
“Meskipun Marvel seorang mantan pecandu, tapi ada konsekuensi yang pasti akan didapatkan olehnya. Bahkan dia menjadi seorang pemakai dalam waktu yang sangat lama. Aku hanya ingin menghindarkan Gabby, anakku, dari penyakit berbahaya yang bisa saja bersarang di tubuh Marvel. Misalkan, HIV. Ada kemungkinan seorang mantan pecandu akan terserang penyakit itu,” jelas Lord menyampaikan alasannya.