
“Tidak perlu, nona. Kami percaya kalau mobil ini kuat. Sekarang, pelankan lajunya, kami mohon, nona,” pinta pria itu mengiba.
Gabby berdecak. “Apa kalian takut? Anak buah mafia takut kebut-kebutan di jalan?” Ia meremehkan.
“Kami tak takut, nona. Tapi demi keselamatan anda dan juga pengendara lain. Jika nona berkendara seperti ini, anda bisa merugikan orang lain, bukan hanya nona,” jelas pria brewok itu menasehati Gabby yang hatinya tengah sakit hingga melupakan bahwa apa yang dilakukannya bisa merugikan orang lain.
Gabby mulai menurunkan laju mobilnya, dua pria itu bisa bernafas lega karena bisa menjalankan tugasnya.
Cit ...
Suara decitan pertemuan ban dengan lantai semen menggema di basement saat Gabby mengerem mobilnya.
“Turun! Kita sudah sampai!”
Gabby melepaskan seatbeltnya, membuka pintu dan menapakkan kakinya di lantai semen itu. Menyembulkan tubuhnya keluar.
Diikuti dengan dua anak buah Marvel yang juga keluar.
Gabby langsung pada tujuannya mencari ponsel baru. Ia tak terlalu ribet, cukup simple saja. Ponsel keluaran perusahaan asal Cupertino, California, ponsel keluaran paling terbaru menjadi pilihannya. Karena ia sedang berkabung, maka pilihannya jatuh pada warna hitam.
Selesai membeli ponsel baru, Gabby mengajak anak buah Marvel untuk makan di restoran khas makanan Eropa yang ada di mall itu.
“Kalian, bantu aku memikirkan kado apa yang cocok untuk pernikahan Papaku. Agar kalian berguna, tak hanya mengekoriku seperti anak ayam.” Gabby masih bingung untuk memberi hadiah yang cocok pada pernikahan Papanya yang akan berlangsung dua jam lagi itu pun meminta pendapat pada anak buah Marvel.
Tiga orang itu pun mengetuk-ngetukkan jemari di atas meja seraya berpikir. Sambil menunggu pesanan mereka datang.
“Bagaimana jika jam tangan couple?” cetus rekan pria brewok.
“Terlalu biasa,” sahut Gabby dan pria brewok.
“Bagaimana kalau, perhiasan?” Kini giliran pria brewok itu yang menyampaikan pendapat.
“Sudah biasa!”
“Terlalu mewah!”
“Jet pribadi.”
“Rumah.”
“Saham.”
“Cukup! Kalian ini malah membuatku semakin pusing saja!” Gabby menghentikan dua pria yang malah berdebat tentang kado pernikahan yang tak ada ujungnya itu. “Aku sudah terpikirkan kado yang paling cocok dan akan membuat mereka terkesan.” Ia tersenyum membayangkan kado yang akan ia berikan.
“Apa?” Dua pria itu sama-sama penasaran.
“Rahasia!” Gabby tak ingin memberitahukan kado yang akan dia berikan itu, yang pasti akan berkesan.
Gabby mulai memainkan jemarinya di atas layar ponsel barunya, menghubungi seseorang melalui pesan. Ia membeli kado pernikahan Papanya dengan orang itu, lalu membayarnya langsung melalui mobile banking. Senyumnya tersungging saat membayangkan wajah Papanya dan Natalie ketika menerima kado darinya.
Pesanan mereka pun datang, pembahasan tentang kado selesai. Ketiganya segera menghabiskan hidangan di meja itu.
Selesai makan, Gabby langsung menuju ke tempat pernikahan Papanya.
“Nona, apa anda tak mengganti pakaian terlebih dahulu? Anda seperti ingin ke pemakaman,” sela rekan pria brewok saat Gabby sudah memarkirkan mobilnya di Helsinki Cathedral.
Gabby menatap tajam ke pria itu. “Aku tak butuh penilaian kalian, kalian cukup diam dan jalankan saja tugas kalian yang semestinya! Tak perlu mengikutiku ke dalam, pernikahan ini tertutup, daripada kalian ditangkap oleh anak buah Cosa Nostra,” perintahnya.
Anak buah Marvel pun menurut, tentu saja mereka tak mau berurusan dengan Cosa Nostra.
Gabby berjalan seperti biasa, tak ada senyum sedikitpun di wajah cantiknya. Kedatangannya disambut oleh anak buah Cosa Nostra. Semuanya menatap heran pada penampilan Gabby. Tapi wanita itu cuek saja.
Baru saja Gabby duduk di kursi sendirian, memejamkan mata di balik kaca mata hitamnya sambil menunggu pengucapan janji suci dimulai. George datang dan langsung duduk di sampingnya.