Gabby, My Fierce Girl

Gabby, My Fierce Girl
Part 165



Polisi membawa surat penangkapan untuk Marvel. Pria itu hanya pasrah saat tangannya mulai di borgol oleh pria berpakaian navy bertuliskan poliisi dengan huruf kapital dan sangat besar di baju belakang.


Gabby langsung berdiri saat suaminya ditangkap oleh pihak berwajib. Ia memegang lengan suaminya sebelum polisi membawa masuk ke dalam mobil putih dan sedikit warna navy.


“Kenapa kalian menangkap suamiku? Apa salahnya?” Gabby tak terima karena suaminya sudah tak terlibat dalam kejahatan lagi.


“Marvel Salvatrucha adalah orang yang kami cari selama ini, kejahatannya sudah sekala internasional. Dia menjual narkoba dan barang-barang ilegal lainnya,” jelas salah satu petugas.


Gabby beralih menatap suaminya, Marvel hanya mengulas senyumnya. Ia kembali melihat petugas itu. “Dia sudah berhenti, dia tak ada kaitannya lagi dengan tuduhan yang kalian sebutkan.” Ia masih terus membela Marvel.


Marvel meminta izin pada polisi itu untuk berbicara dengan istrinya dan diberikan izin untuk beberapa saat saja. Ia pun mencoba mengelus pipi yang putih bersih itu dengan jemarinya. “Jangan khawatirkan aku, aku akan baik-baik saja. Percayalah.” Ia mencoba menenangkan Gabby yang sudah mulai menitikan air mata.


“Bagaimana aku bisa tenang saat suamiku sendiri ditangkap di depan mataku?” Gabby langsung memeluk suaminya. Ia menumpahkan segala kesedihannya. Ia sedih dengan nasib Marvel, ia tak ingin membayangkan yang tidak-tidak tentang suaminya. Padahal, ia tahu perjuangan suaminya untuk meninggalkan semua yang digeluti itu.


Marvel tak bisa membalas pelukan istrinya karena tangannya yang terborgol. Ada rasa sakit di hatinya saat ia harus meninggalkan wanita yang ia cintai tepat dihari pernikahannya.


“Waktu anda habis.” Petugas itu kembali menarik Marvel untuk ikut bersamanya.


“Kita lihat bagaimana hasil penyelidikan dan semua tuntutan di pengadilan,” jelas salah satu petugas yang memegangi Marvel.


Marvel terus mengulas senyumnya pada Gabby, ia ingin memperlihatkan bahwa dirinya baik-baik saja. Ia ingin menenangkan istrinya agar tak terlalu memikirkannya.


Petugas itu lalu membawa Marvel masuk ke dalam mobil. Mobil itu mulai melaju.


Gabby mencoba berlari untuk mengejarnya. Ia menangis sejadi-jadinya di pinggir jalan. Ia bersimpuh saat mobil itu sudah menjauh dan tak terlihat lagi.


George yang melihat Gabby berlari mengejar mobil, langsung ikut mengejar wanita yang ia cintai itu. Ia takut jika akan terjadi sesuatu yang tak diinginkan saat suasana hati Gabby sedang kacau. Ia berjongkok dan menepuk pundak yang masih menggunakan gaun pengantin. “Percayalah, dia pasti akan baik-baik saja.”


Gabby tak menanggapi George yang mencoba menenangkannya. Emosinya tiba-tiba memuncak, entah apa yang membuatnya seperti itu. Ia lalu berdiri dan kembali ke halaman rumahnya. Ia tak memperdulikan George yang mengejarnya.


Gabby melayangkan tatapan bencinya pada sang Papa. “Apa kau yang mengajukan tuntutan untuknya? Sebenci itu kau dengan suamiku? Apa salahnya dia? Kenapa kau tega sekali? Dihari pernikahanku! Ini hari pernikahanku! Kenapa kau tega menghancurkannya? Apa tak cukup kau menghancurkan kehormatanku? Apa tak cukup kau menjebakku malam itu? Kenapa kau selalu memaksakan kehendak agar semuanya berjalan sesuai keinginanmu? Kenapa!” Ia berteriak dengan mendorong tubuh Papanya.


Gabby menjadi berpikiran negatif dengan Papanya setelah pria tua itu menjebaknya dengan obat perangsang. Dan mengetahui jika Papanya ingin menyatukannya dengan George menggunakan cara licik yang berhasil membuatnya depresi.