Gabby, My Fierce Girl

Gabby, My Fierce Girl
Part 124



George melepaskan pagutan bibirnya saat merasakan ada yang basah menyentuh pipinya yang menempel dengan pipi Gabby. Ia melihat mata wanita di hadapannya tengah terpejam dengan air mata yang mengalir.


Beruntungnya, Gabby duduk membelakangi semuanya. Sehingga, tak akan ada yang melihat dia menangis kecuali George.


Tangan George terulur ke rambut belakang Gabby. Ia menarik kunciran di rambut Gabby, hingga rambut curly itu terurai. Ia sengaja melakukannya untuk menutupi wajah Gabby.


George melihat jarum jam Richard Mille yang melingkar di pergelangan tangannya. “Sudah malam, aku akan mengantarkanmu pulang,” ajaknya.


Gabby tak menanggapi ajakan George. Ia memang ingin segera pulang. Lagi pula, apa lagi yang ia harapkan? Ucapan selamat ulang tahun? Sepertinya, tak ada yang ingat. Pesta barbeque itu dikhususkan untuk merayakan pernikahan Lord dan Natalie.


George mengambil tas Gabby dan memakaikannya ke punggung wanita itu. “Ayo.” Ia mengulurkan tangannya untuk membantu Gabby berdiri.


Gabby membalas uluran tangan itu, ia pun berdiri dibantu oleh George. Pria yang semakin membuatnya bingung dan pusing. Andai kata cinta keluar dari mulut George, pasti ia tak akan pusing seperti ini.


“Aku pulang dulu.” Gabby berpamitan tanpa menoleh sedikitpun ke belakang.


“Kalian lanjutkan saja pestanya,” ujar George menatap keempat orang yang duduk di tikar, sebelum ia mengayunkan kakinya pergi dari rooftop.


Diora, Davis, Lord, dan Natalie menatap kepergian George dan Gabby. Ada perasaan lega di hati Diora setelah melihat dua orang itu berciuman, tapi ada rasa bersalah juga saat melihat Gabby enggan untuk melihat ke arahnya. Bahkan saat berpamitan pun memalingkan wajahnya.


“Apa dia marah denganku?” Diora bertanya pada suaminya, ia takut jika memang benar seperti itu.


Davis yang tak peka itu hanya menjawab dengan kedikan bahunya. Tangannya mengelus pundak istrinya agar tak berpikiran yang berlebihan.


“Apa kau tak melihat anakmu itu? Sepertinya, dia memendam sesuatu?” Natalie bertanya dengan berbisik kepada Lord.


Natalie memukul pelan lengan suaminya itu. “Kau sudah tahu seperti itu, kenapa menghasutnya agar mau melakukan yang diminta Diora?”


Lord mengalihkan pandangannya dari kepergian Gabby ke istrinya. “Kau juga ikut menghasutnya,” balasnya tak mau kalah. Ia berucap lembut tapi menohok.


Natalie terdiam tak menjawab. Ia dan Lord menatap bersamaan ke Davis. “Apa yang kau bisikkan pada George hingga dia mau mencium Gabby duluan?” Keduanya bertanya bersamaan.


“Aku hanya memberikannya sahamku lima persen, jika dia mau melakukan permintaan istriku. Apapun yang diinginkan istriku, aku akan memberikannya,” jawab Davis santai.


“Jadi, dia melakukannya karena saham?” tanya Lord dan Natalie bersamaan.


Davis menggelengkan kepalanya. “Dia bukan pria seperti itu, ia tak akan mau melakukan hal itu demi kekayaan. Itu hanya akal-akalanku saja agar dia ada alasan. Dia menyukai Gabby, hanya saja tak bisa mengatakannya,” jelasnya.


Lord lega mendengarnya, ia kira karena kekayaan saja. “Baguslah, semoga setelah kejadian ini Gabby bisa luluh dengannya.”


Lord sungguh menginginkan Gabby memilih George, bukan Marvel. Meskipun Marvel sudah ia kenal sejak kecil, tapi ia tak setuju jika Gabby bersama Marvel. Entah apa alasannya.


...........


Dalam mobil Tesla abu-abu itu, Gabby masih terdiam dengan pandangan kosong. Ciuman pertamanya sudah direnggut oleh George, orang yang ia cintai. Seharusnya ia senang, tapi kenapa ia justru penasaran dengan alasan George yang berani menciumnya.


Gabby tak mengalihkan pandangannya yang kosong menatap jalananan itu, namun bibirnya mengeluarkan pertanyaan untuk George. “Kenapa kau menciumku?”