
George mengajak Gabby untuk bertemu dengan Marvel, pria yang masih berstatus sebagai suami Gabby.
George dan Gabby duduk menunggu di sebuah ruangan yang bisa dikatakan nyaman.
Klek!
Pintu terbuka, Marvel diantarkan oleh petugas untuk menemui Gabby dan George. Tangan Marvel tak terborgol, dia hanya menggunakan baju tahanan saja.
Gabby langsung berdiri dan mendekat ke suaminya yang terlihat sangat kurus. Matanya berkaca-kaca. Ia mematung di hadapan Marvel tanpa mengeluarkan suara.
“Apa kau tak merindukanku?” Marvel merentangkan kedua tangannya.
Gabby masih bergeming, dia sedang sedih memikirkan nasib Marvel, suaminya dan juga teman baiknya sedari kecil.
Marvel langsung maju dan merengkuh tubuh istrinya yang sangat ia rindukan. “Jangan menangis, aku baik-baik saja di sini.” Ia mengelus punggung Gabby, menyalurkan ketenangan.
Marvel merasakan ada sesuatu yang mengganjal dibagian perutnya saat berpelukan dengan Gabby. Ia mengurai rengkuhannya dan meletakkan kedua tangannya di bahu Gabby. Ia memberikan jarak untuk melihat perut istrinya yang membuncit.
“Kau hamil?” tanya Marvel.
Gabby mengangguk membenarkan, ia kembali menangis. “Maaf.” Lagi-lagi ia merasa tak enak hati dengan suaminya.
Marvel kembali memeluk Gabby. Ia mengusap lagi punggung wanita yang ia cintai. “Tak masalah, aku justru ikut bahagia mendengarnya,” ujarnya. Meskipun Marvel memeluk Gabby, tapi matanya menatap George untuk meminta penjelasan.
George paham dengan tatapan Marvel. “Hasil kesalahanku malam itu, aku tak menyentuhnya sama sekali setelah kau dipenjara,” ujarnya menjelaskan.
Marvel mengangguk. Ia percaya dengan George. Bagaimanapun juga, George sudah mengatakan sedari awal akan ada kejadian seperti ini.
Pria dengan baju tahanan itu mulai menuntun istrinya untuk duduk. Ia mengelus perut Gabby yang sudah membuncit. Ia turut senang dengan kehamilan istrinya, meskipun bukan anaknya.
“Maafkan aku,” ujar Gabby. “Aku istrimu tapi aku hamil anak orang lain.” Ia menunduk malu.
George mendengus. “Aku yang membuat, kau yang mengakui,” protesnya.
Mereka lalu berbincang dan saling bertukar kabar. Gabby menceritakan kehidupannya setelah Marvel dipenjara. Ia menceritakan hubungannya dengan Papanya yang mulai membaik.
Begitu juga dengan Marvel, ia bercerita tentang kehidupannya dipenjara. Tapi ia tak mengatakan tentang hukumannya. Ia tak ingin membebani pikiran Gabby untuk saat ini.
“Hari ini aku wisuda, aku ingin mengabadikan foto bersamamu,” ujar Gabby mengajak Marvel.
Marvel mengangguk setuju. Ia melepaskan kemeja tahanannya dan menggunakan kaos polos saja. Wajahnya tetap tampan meskipun semakin kurus.
Gabby memberikan ponselnya pada George. Ia meminta tolong pada pria itu.
Gabby dan Marvel berpose layaknya keluarga biasa. Marvel juga berpose memegangi perut Gabby seolah dia adalah orang tua dari anak itu.
“Kita foto bertiga, pria pelit itu juga harus berfoto dengan kita. Dia juga bagian dalam hidupmu. Aku dan dia sama-sama mencintaimu,” pinta Marvel pada istrinya.
George mendengus saat dirinya dijuluki pria pelit oleh Marvel. “Aku tak pelit. Jika aku pelit, maka tak akan ku bawa istrimu untuk bertemu denganmu. Akan ku bawa kabur dia sejauh-jauhnya agar tak bisa melihatmu,” protesnya.
Marvel terkekeh, ia menatap George. “Itu kan panggilan sayangku padamu, agar kita seperti orang terdekat.”
George bergidik geli dengan mengelus kedua lengannya menggunakan tangannya. “Lebih baik aku tak disayang olehmu.”
Mereka bertiga tertawa bersama saat saling melemparkan candaan. Mereka seolah sedang membuang kesedihan dengan candaan itu.
Marvel meminta tolong pada petugas di sana untuk membantu memotret mereka.
Gabby berada di tengah. Ia diapit oleh George dan Marvel. Kedua pria itu sama-sama memegang perut buncit Gabby.