
Suasana begitu hening di sekitar George dan Gabby. Keduanya tak ada yang membuka suara.
Gabby melanjutkan membersihkan lukanya sendiri, kedua tangannya begitu mahir dalam melakukannya seolah ia sudah terbiasa dengan hal itu. Tangan kanannya membersihkan luka di tangan kirinya, begitupun sebaliknya.
Selesai dengan luka di tangannya, Gabby berganti ke luka yang ada di kakinya. Ada bagian yang sedari tadi terus mengeluarkan darah namun tak pernah dirasa oleh Gabby. Bahkan cairan merah itu mungkin sudah mengering disekitar lukanya.
Dia sedikit memutar kaki kirinya, ada luka di betisnya itu. Gabby tak menunjukkan ekspresi apapun, tak ada rasa takut atau sakit melihat kondisi betisnya saat ini. Ia buka alkohol yang sudah ditutup rapat, tanpa mengambil kapas, Gabby langsung menyiramkan alkohol itu ke lukanya.
Tak meringis kesakitan layaknya orang pada umumnya ketika ada luka yang lumayan besar disiram oleh alkohol.
“Apa kau sudah gila!” bentak George. Pria yang sedari tadi hanya diam saja sambil mencuri-curi pandang dari ekor matanya, akhirnya mulai membuka suara ketika melihat luka yang disiram oleh Gabby.
“Kenapa?” Gabby mengalihkan pandangannya dari betisnya ke wajah George.
“Kau menyiram lukamu itu begitu saja?” Masih tak mengerti George dengan jalan fikiran Gabby.
“Ya! Ada masalah?” Gabby menutup kembali botol alkoholnya dengan rapat.
George bergeleng kepala. “Kurasa kau memang sudah gila! Lukamu bahkan seharusnya dijahit.” Ia menunjuk betis kiri Gabby.
Gabby tersenyum sinis. “Luka seperti ini? Dijahit?” Ia tertawa sejenak entah apa yang ia tertawakan, tak ada yang lucu menurut George. “Hanya luka karena terkena plat nomor sepeda motor kau bilang harus dijahit? Lucu sekali kau!”
“Hanya, kau bilang? Bahkan dagingmu sampai terlihat jelas dari sini,” bentak George yang entah mengapa dia merasa tak suka Gabby meremehkan luka itu.
Lagi-lagi Gabby tertawa. “Bahkan aku tak merasakan sakit apapun, sekalipun ku beri air laut.”
George menaikkan sebelah alisnya menunggu pembuktian. “Oh ya?” Terdengar meremahkan sekali dia.
Gabby sungguh menyiram luka itu dengan air laut seperti ucapannya. Tak ada ringisan kesakitan.
Lukaku ini tak terlalu sakit dibandingkan hatiku.
George langsung berdiri, sebelumnya ia memasukkan ponsel Gabby kedalam tas kecil milik Gabby. Membawa tas serta plastik berisi obat yang ia beli. Ia langsung berjalan ke arah Gabby berada. Mencekal pergelangan tangan wanita itu hingga Gabby memberhentikan aksi gilanya.
George menyeret paksa Gabby, tak perduli dengan berontakan wanita itu dan para wisatawan yang menatap ke arahnya.
“Kau itu kenapa?” sentak Gabby disela langkah kakinya yang tergopoh-gopoh.
George diam, ia tak menanggapi. Ia memilih terus melangkahkan kakinya. Bahkan dia tak sadar jika melewati Davis dan Diora yang sedang berjemur.
Diora langsung berdiri melihat sahabatnya yang terlihat diseret paksa, ia takut Gabby akan diapa-apakan oleh George manusia yang dia anggap tak memiliki hati.
“Hei! Tunggu! Kau mau bawa kemana sahabatku?” teriak Diora.
Davis mengikuti istrinya mengejar George yang tak memperdulukan panggilan itu.
“Kenapa kau mengejarnya?” tanya Davis pada Diora.
“Tentu saja aku mengejarnya, apa kau tak lihat wajah asistenmu itu terlihat sangat marah,” jelas Diora. “Aku takut asistenmu itu akan melakukan sesuatu yang tidak-tidak dengan Gabby,” imbuhnya.
Mendengar penjelasan istrinya yang terlihat begitu khawatrir, membuat Davis langsung berlari untuk menyusul George.