
Gabby hendak menutup kembali pintu apartemennya setelah melihat siapa yang berkunjung malam-malam. Bukan berkunjung, lebih tepatnya mengganggu. Sebab ia tak pernah mendapatkan kunjungan dari siapapun, termasuk Papanya.
“Tunggu!” cegah George.
Sebelum pintu benar-benar tertutup, George, pria penganggu dan pengacau hidup Gabby itu meletakkan tangannya di kusen pintu agar pintu tak terkunci otomatis jika sudah menutup sempurna.
Brak!
“Shit!” umpat George ketika Gabby membanting pintu dengan paksa hingga tangannya terapit. “Apa kau tak bisa lembut sedikit? Aku sudah mengatakan tunggu.” Ia mendorong pintu hingga terbuka kembali.
Tak ada sapaan ramah dari Gabby. Hanya tatapan kebencian di matanya. Kedua tangannya terlipat di dada.
“Salah kau sendiri meletakkan tanganmu disana,” sinis Gabby. Ia tak mau disalahkan karena memang ia tak merasa bersalah. “Lebih baik kau pergi! Aku tak menerima tamu,” usirnya.
“Hei, apa begini caramu memperlakukan seseorang yang terluka? Lihat, tanganku langsung memerah dan pastinya sebentar lagi akan memar akibat ulahmu.” George memperlihatkan tangan kirinya.
“Cih! Bisanya menyalahkan orang lain karena ulah diri sendiri, memang benar kau cocok ku juluki pria sampah!” Gabby mendorong tubuh George agar menjauh dari pintunya. Namun tubuh pria itu sengaja mematung hingga tak bergeser sedikitpun.
George memegang tangan Gabby, kali ini dengan lembut. “Ada hal penting yang ingin aku tanyakan dan bicarakan denganmu.” Ia maju selangkah untuk masuk ke dalam sebelum sang pemilik mempersilahkannya.
“Aku tak ingin bicara denganmu, dan silahkan pergi dari kediamanku! Sudah ku katakan jangan mengusik hidupku lagi jika kau tak ingin ku permalukan lebih dari ketika di Bali!” ancam Gabby.
Kenapa dia membenciku? Apa dia lupa dengan aku? Apa dia lupa dengan janji yang sudah kita buat? Tidak mungkin, ketika di Bali ia mengataiku pria ingkar janji, berarti dia mengingatku. Tapi sorot mata itu penuh amarah. George kebingungan sendiri dengan sikap Gabby.
Plak!
Bunyi pertemuan telapak tangan dengan permukaan wajah menggema di ruangan itu. George baru saja mendapatkan tamparan dari Gabby.
“Sudah ku katakan jangan menatapku lebih dari tiga detik!” Gabby menghempaskan kedua tangan George yang menempel di bahunya. “Cepat katakan ada urusan apa kau kesini? Dan cepat kau pergi dari sini!” Dadanya sudah naik turun menahan amarahnya.
George menghela nafasnya. “Oke, aku hanya ingin mengembalikan dompetmu yang tertinggal di mobilku.” Ia mengambil benda kotak berbentuk panjang dari saku dalam jaketnya.
Gabby langsung mengambil paksa dompetnya tanpa mengucapkan terima kasih. “Urusanmu sudah selesai, sekarang, pergilah!” Ia menunjuk pintu yang masih terbuka menunjukkan jalan keluar.
George memejamkan matanya sejenak, mengatur kesabarannya untuk menghadapi wanita angkuh dan galak di depannya ini. Lalu ia berjalan ke arah pintu setelah membuka matanya. Bukan untuk keluar, namun ia menutup pintunya rapat hingga berbunyi pertanda sudah terkunci secara otomatis.
“He! Pria sampah! Aku menyuruhmu untuk keluar, bukan menutup pintu! Apa kau itu bodoh? Atau kau itu tuli?” hina Gabby mendorong-dorong bahu George.
George memegang tangan yang mendorongnya itu, enggan untuk melepaskan. Dia tatap manik mata abu-abu milik Gabby.
“Aku melihat foto anak kecil di dompetmu, apa itu sungguh kau?” Pertanyaan yang seharusnya tak perlu ditanyakan lagi, namun George begitu bingung dengan respon Gabby yang seperti tak mengingatnya. Membuatnya bingung, apakah Gabby sungguh gadis kecilnya atau tidak.