Gabby, My Fierce Girl

Gabby, My Fierce Girl
Part 130



George dan Lord masih berdiri berhadapan dengan tatapan yang sama-sama tajam. George sungguh tak sabar menghadapi Lord yang menganggap dirinyalah paling memahami Gabby. Padahal, Lordlah yang paling tak memahami anaknya.


Maafkan aku melanggar lagi janjiku, tapi aku sungguh tak tahan memendamnya. Papamu ini tak akan paham dengan apa yang kau rasakan jika tak ada yang memberitahunya. George berdialog dengan hatinya.


Ia tak ada pilihan lain untuk membuat Lord sadar akan kesalahan yang sudah diperbuat oleh pria tua itu.


“Sejauh mana kau mengenal anakmu? Ha!” George seperti orang yang menantang.


“Apa maksudmu? Tentu saja aku mengenalnya, seluruh dirinya aku mengenalnya, bahkan sifatnya sekalipun, karena aku membesarkannya sedari kecil,” jawab Lord.


“Sifat mana yang kau maksud?”


“Kuat, tegas, tak mudah ditindas, angkuh, bahkan keras kepalanya. Semua aku tahu!”


George mencebikkan bibirnya lalu berdecak. “Hanya sejauh itu kau mengenalnya?” Ia meremehkan seraya menghempaskan tubuhnya di kursi lagi.


“Kau jangan berbelit, katakan dengan jelas! Jika pukulanmu tak sebanding dengan kesalahanku yang tak seberapa itu. Aku akan membalasmu lebih dari ini!” balas Lord. Ia mengikuti George untuk duduk di hadapan pria kaku itu.


“Tak sebanding? Bahkan pukulanku itu kurang untukmu! Luka yang kau torehkan pada Gabby sangat dalam dan bahkan membuatnya memilih pergi dari kota ini!”


“Apa maksudmu?”


“Tidak mungkin dia menangis, dia bukan wanita lemah.” Lord masih saja tak percaya dan menampiknya. “Aku tak pernah mengajarkannya menjadi wanita yang lemah.”


Rahang George semakin mengeras mendengarnya. Pak tua satu ini sungguh mengesalkan. Ingin rasanya menghajar lagi hingga babak belur dan masuk rumah sakit.


“Dia tak pernah menunjukkan sisi lainnya padamu, karena kau selalu memberikannya hukuman jika dia tak sesuai kemauanmu!” sentak George. “Apa kau tak sadar dengan sindirian yang diberikan olehnya untukmu? Jelas dia menyindirmu agar tak pilih kasih. Kau tahu? Kau sangat terlihat menyayangi Diora, tapi tidak dengan Gabby. Anakmu merasa tersisihkan, kau tahu tidak?” imbuhnya dengan nada tingginya.


“Aku tak pernah pilih kasih dengan kedua anakku, aku sama-sama menyayanginya. Hanya saja, sedari kecil aku sudah bersama dengan Gabby. Tapi tidak dengan Diora. Aku hanya merasa, bahwa Diora membutuhkan kasih sayangku juga saat ini.”


“Diam! Kau itu membuatku sangat ingin membunuhmu sekarang juga! Kau menempatkannya di sisi Diora, untuk menjaga anakmu yang lemah itu, hingga Gabby mengesampingkan kehidupannya sendiri karena kau yang mendesaknya masuk ke dalam situasi itu! Orang tua macam apa kau, Ha! Kau bahkan tak tahu jika Gabby menangis karena kau! Kau terlalu menilainya kuat!”


“Kau hanya tahu untuk mendidiknya keras! Hingga kau melupakan bahwa anakmu itu seorang wanita yang tetap memiliki hati mudah tersakiti,” imbuh George. Ia juga tak menyadari bahwa dirinya jugalah yang menjadi alasan Gabby untuk pergi, dia jugalah yang turut andil menyakiti hati wanita itu.


Lord terdiam. Ia memang tak sadar jika Gabby tengah menyindirnya. Karena ia yang membentuk karakter Gabby jadi wanita yang seperti itu, sehingga ia tak sadar. Yang ia sadari hanya itu memanglah gaya Gabby.


“Apa aku terlalu pilih kasih dengannya? Aku bahkan mendidiknya menjadi seperti itu juga demi dirinya,” gumam Lord.


“Diam! Kau itu salah, kau tidak memahami karakter anakmu sendiri. Sekarang, kita harus mencarinya. Dia pergi entah ke mana, terakhir kali aku melihatnya menangis, dia berbuat nekat menyelam ke laut dalam tanpa bantuan oksigen. Jika aku tak datang tepat waktu, mungkin dia sudah karam dan menjadi santapan biota laut. Entah kegilaan apa yang akan dia lakukannya sekarang dengan situasi hatinya yang buruk.”