
Lord dan Diora tercengang mendengarnya. Mereka sungguh tak menyangka jika Gabby sangat ahli menutupi kesedihannya selama ini. Mereka ingin maju untuk meminta maaf pada Gabby, namun lagi-lagi Gabby tak mengizinkan mereka mendekat.
Lord dan Diora bersimpuh di atas rumput itu. Mereka tak tahu bagaimana harus meminta maaf pada Gabby.
“Maafkan Papa, kau boleh membenci Papa. Tapi ku mohon, disisa umurku ini, biarkan aku menebus semua kesalahanku itu,” ujar Lord.
Gabby bergeming. Dia masih emosi, ia tak ingin menanggapi.
“Maafkan aku, aku memang sahabat dan kakak yang tak berguna untukmu. Aku tak tahu jika ternyata kau menyimpan luka yang sangat dalam.” Kini giliran Diora yang memohon ampunan pada Gabby.
Gabby melayangkan senyum sinisnya. “Tentu saja kau tak tahu, kau tak pernah bertanya padaku, kau tak pernah peka dengan sekelilingmu. Dan karena kau terbiasa ku lindungi. Sehingga kau menganggap diriku wanita yang sempurna dan tak bisa terluka.”
Gabby mengangkat pandangannya, ia beralih ke Davis. “Kau! Gara-gara kau menuntut Sanchez, kau menghancurkan pernikahanku yang baru satu hari!”
Gabby menyalahkan semuanya. Ia meluapkan kekesalannya.
“Dan kau!” Sekarang beralih ke George. “Jika kau mengatakan cinta padaku sejak awal, dan kau membuktikannya. Hatiku tak akan sehancur ini. Kenapa? Kenapa kau baru mengatakannya saat orang lain hadir dalam hidupku? Saat dia membuktikan kata cinta yang selalu ia ucapkan padaku? Aku tak akan hidup dalam kebingungan jika kau mengatakannya padaku sejak aku menanyakan letakku di hatimu, berkali-kali aku bertanya padamu tapi jawabanmu selalu tak memuaskan.”
“Aku tak ingin menyakiti hati siapapun,” lirihnya. Gabby mulai jatuh bersimpuh di atas rumput. Ia menangis sejadi-jadinya saat membayangkan Marvel di balik jeruji besi. Ia memukuli dadanya yang terasa sesak. “Kenapa ... kenapa kalian tak bisa melihatku bahagia? Sekali saja ... cukup sekali saja aku ingin bahagia.”
Semua terdiam, tak ada yang mengangkat suara. Mereka membiarkan wanita yang tengah bersedih itu meluapkan amarahnya.
Gabby mengangkat kepalanya. Pipinya sudah basah dengan air mata. “Lebih baik aku mati! Kalian senang kan jika aku menderita? Kalian pasti akan tertawa bahagia melihat diriku yang tak bernyawa.” Ia lalu berdiri dan meraih pisau yang ada di dekat alat pemanggang.
Gabby mulai mengarahkan pisau di lehernya. Nadi yang paling dekat dengan kematian. Jika ia mengiris nadi dipergelangan tangannya, masih ada kemungkinan untuk selamat. Tapi jika di lehernya, mungkin ajalnya akan semakin cepat datang. “Selamat tinggal duniaku yang kejam. Hukumlah mereka semua yang pernah menyakitiku. Rasa sayangku pada mereka sudah hilang, seiring dengan kebahagiaanku yang perlahan mereka renggut tanpa sadar.”
“Jangan ...!” seru mereka bersamaan.
Pandangan Gabby mulai buram, tubuhnya mendadak menjadi lemas, telinganya juga sudah mulai berdengung. Perlahan, kesadarannya mulai menghilang.
Mereka semua langsung panik dan segera membawa ke rumah sakit.
...........
Sementara itu, di ruang tahanan. Marvel bertemu dengan Jo. Mereka sedang berada di ruang yang sama.
“Jo, kenapa kau bisa berada di sini?” tanya Marvel.
Jo menunduk seolah dia sedang menyesal. Ia melihat pakaian yang dikenakan oleh Marvel. Ia tahu jika mantan tuannya itu baru saja menikah.
“Maafkan aku, aku gagal melindungimu. Aku sudah mencoba menutupi segala bukti tentangmu, tapi polisi berhasil mendapatkannya. Semua data-data yang sudah aku hapus, berhasil dikembalikan oleh mereka. Maafkan aku.” Jo sangat menyesal.
Marvel menepuk pundak Jo. “Tak apa, terima kasih kau sudah mau membantuku. Semua ini memang konsekuensi yang harus aku dapatkan.”
“Sekali lagi aku minta maaf.”
Marvel mengangguk. “Bukan salahmu, justru aku yang harusnya meminta maaf padamu karena sudah membawamu ke dalam masalah yang besar.”
“Bagaimana dengan pernikahanmu?” Jo memilih mengganti pembahasan mereka.
Marvel menyandarkan tubuhnya di kursi. Ia menatap langit-langit ruangan itu, wajahnya terlihat tersenyum. “Aku sudah menikah dengan cintaku. Sekarang aku suaminya.” Ia menunjukkan cincin yang melingkar di jari manisnya. “Tapi, aku tak bisa melindunginya. Aku suami yang tak berguna, bukan?” desahnya.
Jo menggeleng. “Tidak, kau suami terhebat. Dia pasti bangga dan senang menjadi istrimu. Dia bangga dengan perjuanganmu.”
“Semoga saja.”