Gabby, My Fierce Girl

Gabby, My Fierce Girl
Part 161



“Aku hanya tak ingin dia menyakiti diri sendiri,” elak George.


“Kau tak perlu sampai mengikatnya! Kau cukup memberinya obat penenang.” Marvel memegang kerah kemeja George. Matanya saling berpandangan dengan sorot marahnya. “Bagaimana bisa aku melepaskan wanita yang ku cintai kepada pria sepertimu!” sentaknya dengan mendorong ke belakang tubuh George.


Marvel lalu mendekat ke ranjang Gabby. “Bisa kau tinggalkan aku dengan Gabby sendiri?” ujarnya mengusir Diora yang masih menangisi Gabby.


Diora mengalihkan pandangan matanya untuk menatap sumber suara. Ia melihat Marvel yang tengah kesetanan, wajahnya sangat menakutkan karena sedang marah. Ia pun langsung beranjak menghampiri suaminya yang berada di ambang pintu.


Marvel melepas tali yang mengikat Gabby. Ia tak ingin memperlakukan Gabby layaknya orang dengan gangguan jiwa. Ia berjongkok di lantai untuk mensejajarkan tubuhnya dengan Gabby yang lemah di atas ranjang. “Bangunlah, aku di sini.” Tangannya terus mengelus pipi yang semakin tirus itu. Ia tak kuasa menahan air matanya saat melihat Gabby tak berdaya.


Lord melihat betapa tulusnya Marvel pada anaknya. Ada rasa bersalah saat ia tahu sebesar apa cinta Marvel untuk Gabby. “Andai dia bukan seorang mafia dan pecandu narkoba, aku pasti akan melepaskan anakku untuknya,” gumamnya.


George melirik Lord. “Mantan mafia dan mantan pecandu narkoba. Dia sudah berhenti, kau harus ingat itu,” ralatnya.


Lord dan George kembali melihat Marvel. Mereka bisa menilai ketulusan cinta Marvel pada Gabby saat itu.


“Lord, bisa izinkan aku untuk menjaganya?” pinta Marvel. Ia ingin saat Gabby terbangun, yang dilihat adalah dirinya.


Lord terdiam, ia nampak menimbang untuk menjawab apa.


“Bedebah itu juga bisa menjaganya. Biarkan kami berdua menjaga Gabby bersama-sama,” imbuh Marvel. Ia seperti tahu jika Lord terasa mengganjal meninggalkan Gabby bersamanya.


Lord melirik George, mereka mengangguk bersamaan.


Kelopak mata yang lama terpejam itu perlahan terbuka. Sang pemilik raga mulai memegang kepalanya yang terasa pusing.


“Kau sudah bangun?” Marvel buru-buru menghampiri Gabby saat ia melihat pergerak dari atas ranjang.


Mendengar suara seseorang yang sangat ingin ia jaga perasaannya, membuat Gabby mengalihkan pandangan ke orang itu. Lagi-lagi ia menitikan air mata saat melihat Marvel di sana. “Maaf,” lirihnya.


Marvel duduk di samping Gabby, ia mengulas senyumnya dengan mengelus lembut rambut yang bau karena tak keramas selama satu minggu itu. “Kenapa kau minta maaf?”


Gabby berangsur duduk. Ia menunduk malu tak berani menatap Marvel lagi. “Maaf karena aku tak bisa menjaga kehormatanku, aku hina! Aku kotor! Kau bisa membatalkan pernikahan kita jika kau mau.” Tetesan air mata mulai membasahi kedua punggung tangan Gabby yang meremas selimut itu.


Marvel kembali mengelus punggung wanita yang ia cintai. “Kita orang Eropa, hal seperti itu tak menjadi masalah untukku.”


Semakin menunduk malu Gabby mendengar jawaban Marvel. “Tapi, kau bukan lagi yang pertama untukku jika kita tetap menikah.”


“Semua keputusan, ku kembalikan lagi padamu, kau yang akan menjalaninya. Aku sudah mendengar semua ceritanya,” ujar Marvel. “Aku tetap mencintaimu, walaupun bedebah itu sudah mengambil sesuatu yang berharga darimu,” imbuhnya.


Tepat saat pintu kamar Gabby terbuka dan menyembulkan George dari balik pintu dengan membawa nampan berisi makanan.


Gabby mendongakkan wajahnya untuk melihat orang yang baru saja masuk. Kembali lagi dirinya dilanda kebingungan. Dua-duanya mengatakan cinta padanya.