Gabby, My Fierce Girl

Gabby, My Fierce Girl
Part 176



Mata kedua wanita cantik yang masih sembab itu kembali memupuk cairan bening saat melihat tubuh pria tua yang tak berdaya dengan alat medis menempel di tubuh.


Mereka mematung dengan bibir yang sama-sama terkatup. Tenggorokan keduanya tercekat tak bisa mengeluarkan apa pun dari mulut mereka. Hanya air mata yang mulai mengalir menggambarkan kesedihan keduanya.


Tangan Lord memberikan isyarat agar mereka semua mendekat. Tangan itu sangat lemah. Sebisa mungkin ia mengulas senyum dan tak memperlihatkan rasa sakitnya. Ia juga menahan agar air matanya tak keluar saat melihat kedua putrinya yang bersedih.


Kaki Gabby dan Diora masih gemetaran saat mendekati ranjang pasien.


Lord justru semakin melebarkan senyumannya. “Hei ... anak Papa, kenapa kalian menangis? Papa baik-baik saja,” ujarnya berbohong.


Kedua putrinya tak menjawab. Mereka langsung merengkuh tubuh tua tak berdaya itu dari sisi kanan dan kiri. Menumpahkan segala kesedihan dan air matanya di sana. Membuat Lord juga tak bisa menahan lagi cairan bening yang sudah menumpuk di balik kelopak matanya.


“Papa harus sembuh, Papa harus kuat,” ujar Gabby.


“Papa pasti bisa melawan penyakit ini,” ujar Diora.


Lord memberikan usapan di rambut putrinya, dengan lembut dan perlahan ia menggerakkan tangannya. “Papa sudah cukup bersyukur masih diberikan waktu lebih oleh Tuhan untuk memperbaiki kesalahan Papa. Jika memang batas waktu yang diberikan oleh Tuhan sudah berakhir, Papa tenang meninggalkan kalian di dunia tanpa membawa rasa bersalah Papa.”


Gabby dan Diora menggeleng bersamaan. “Papa harus bertahan, demi kami.”


Lord tak menanggapi rengekan kedua putrinya, matanya beralih menatap dua pria yang terus terlihat tenang.


“Davis?” panggil Lord pada menantunya.


“Aku titip anakku Diora padamu. Jaga dia baik-baik, bahagiakan dia sepanjang umurnya. Limpahkan kasih sayang dan cintamu untuknya,” pinta Lord.


“Pasti, itu sudah menjadi tugasku,” jawab Davis.


Membuat hati Lord lega mendengarnya. Menantunya itu memang bisa diandalkan untuk menjaga anaknya—Diora.


Lord beralih menatap George yang berdiri di samping Gabby dengan tangan terus mengelus pundak putrinya itu.


“George?” Lord memanggil dengan lirih.


“Ya?” Pria yang dipanggil sama saja masih tenang. Matanya tegas menatap Lord.


“Meskipun kau bukan menantuku, tapi ku harap kau bisa menjaga putriku. Aku menitipkan Gabby padamu. Tolong, perlakukan dia dengan baik, bahagiakan dia. Sudah terlalu lama dia hidup dalam kesedihan yang tak bisa ia utarakan, karena diriku. Limpahkan cinta dan kasih sayangmu padanya.” Lord menjeda sejenak ucapannya. Tenggorokannya sedang tercekat hebat. “Sampaikan salamku pada menantuku, Marvel. Sampaikan maafku padanya, aku tak bisa menjenguknya. Aku akan bertemu dengannya di dunia selanjutnya,” imbuhnya.


“Maafkan aku jika tak bisa melihat anakmu dan Gabby lahir di dunia. Ku harap, cucuku akan sehat dan menjadi anak yang berbakti dengan orang tuanya. Dia akan menjadi sumber kebahagiaan untuk kalian berdua. Bagaimanapun akhir dirimu dan anakku, Gabby, ku harap kau tetap menjaganya.” Lord masih memberikan amanat untuk George. Ia tahu tak bisa menitipkan putrinya pada menantunya—Marvel. Ia tahu hukuman dari seorang mafia narkoba dan jual beli organ manusia ilegal sekala internasional.


George mengangguk. “Pasti, aku pasti akan menjaga Gabby sepenuh hatiku.”


“Papa bicara apa? Kenapa Papa menitipkan kami seolah Papa ingin pergi meninggalkan kami?” Gabby protes dengan Papanya yang seperti terdengar memberikan amanat terakhir.