Gabby, My Fierce Girl

Gabby, My Fierce Girl
Part 58



George dan bocah kecil itu saling berbincang, namun lebih banyak bocah kecil itu yang berbicara untuk menghibur George agar tak bersedih. Dan menguatkan agar tak larut dalam kesedihan, sebab masih banyak cara kita untuk bahagia.


“Bahagia itu dari dalam diri kita. Jika kita menghendaki untuk bahagia, sepahit apapun hidup kita, sesedih apa kondisi hati kita, sesulit apa jalan yang kita lalui. Semua akan terasa membahagiakan jika kita menghendaki untuk bahagia. Sebab, bahagia itu tercipta dari dalam hati kita. Meskipun kita mencari kebahagiaan di luar sana, tapi diri kita tak menghendaki bahagia, tetap saja kita tak akan bahagia.”


George tertegun dengan penuturan bocah kecil itu. Anak sekecil itu bijak sekali memberikan nasihat pada orang yang lebih dewasa. Ia merasa bocah di hadapannya ini sungguh lebih berpemikiran dewasa, meskipun umur dan badannya masih kecil. Mungkin memang benar jika bocah di hadapannya itu memiliki IQ di atas rata-rata anak seumuran itu.


Atau mungkin karena dia sudah di hadapkan pada kondisi keluarga yang berbeda dari kebanyakan teman-teman seusianya yang penuh keharmonisan yang sesungguhnya, lain dengannya yang hanya keharmonisan semu di dalamnya menyimpan beribu kebohongan dan kepiluan.


George diam dan mengulas senyumnya. Tangannya mengelus rambut bocah itu. “Siapa yang mengajari dirimu sebijak itu?” tanyanya kemudian.


“Tidak ada, aku hanya melihat bagaimana Mamaku selalu terlihat bahagia dan tersenyum. Meskipun aku tahu dibalik itu dia tengah bersedih karena Papaku menikahinya bukan karena cinta, namun karena dijodohkan,” jelasnya.


Lagi-lagi George dibuat tercengang. “Darimana kau tahu hal itu?”


“Aku memiliki telinga untuk mendengar, mata untuk melihat, otak untuk berfikir, hati untuk merasakan. Aku bisa tahu sebab aku mendengar bagaimana mereka bertengkar saat aku tertidur lebih tepatnya berpura-pura tidur, melihat ulasan senyum palsu, ku rangkai dalam otakku, dan aku rasakan dalam hatiku. Aku tidak bodoh, aku cukup cerdas menilai situasi itu.”


“Andai kau sudah besar, aku pasti akan langsung menikahimu. Energi positifmu itu langsung menular padaku,” ujar George menatap kagum pada bocah itu. “Siapa namamu?” tanyanya. “Mungkin jika kau sudah besar, kita akan hidup bersama,” imbuhnya.


“G2, orang tuaku memanggilku G2.” Ia memperkenalkan nama panggilannya. “Kak, untung kau itu berbicara dengan seorang anak kecil yang belum memikirkan pernikahan. Jika aku ini orang dewasa, pasti sudah menuntut kakak untuk segera menikahiku sungguhan,” celotehnya.


“Maka cepatlah besar,” kelakar George mengulas senyumnya.


Hanya bertemu sebentar dan berbincang sebentar saja, George sudah merasa nyaman. Itulah yang membuatnya yakin akan bisa hidup bahagia dengan bocah itu. “Ini, pakailah ini. Suatu saat nanti aku akan mencarimu jika kau sudah besar. Aku sungguh akan menikahimu, ku rasa hidup kita tak jauh berbeda. Mungkin kita bisa membuat kebahagiaan bersama nantinya.” George melepaskan gelangnya yang berinisial namanya kepada G2.


G2, ya Gabby Gabriella. Tak dapat dipingkiri jika ia juga senang berbincang dengan George, membagikan hal positif pada orang lain. Ini adalah kali pertamanya berbincang dengan seorang pria di luar temannya sesama anak mafia.


Gabby tak langsung menerima itu. “Kakak tahu? apa yang kakak ucapkan itu adalah sebuah janji, jika berjanji artinya harus ditepati. Kalau suatu saat nanti kakak tak bisa menepatinya, lebih baik hati-hati ketika berucap,” nasihatnya.