Gabby, My Fierce Girl

Gabby, My Fierce Girl
Part 88



Cahaya mentari mencoba menerobos masuk melalui sela-sela ventilasi. Semburat itu ingin membangunkan dua insan yang masih memejamkan matanya.


“Engh ....” Gabby meregangkan ototnya dengan menarik kedua tangannya ke atas kepala. Tubuhnya menggeliat melenturkan badannya yang baru saja selesai beristirahat.


Gabby duduk dengan posisi bersila, nyawanya masih belum terkumpul semua. Matanya masih berat untuk dibuka.


Drt ... drt ... drt ...


Bunyi getaran ponsel di atas meja, terdengar di telinga Gabby. Ia melihat ke arah sumber suara. Ternyata ponselnya yang bergetar.


“Sejak kapan aku merubahnya menjadi mode getar?” gumam Gabby. Ia tak merasa menggunakan mode itu, agar ketika ia tidur bisa terbangun jika ada yang menelfon. Siapa tahu panggilan darurat untuknya.


Gabby tak memikirkan siapa yang merubah mode ponselnya, ia menganggap bahwa dirinya lupa merubahnya sendiri.


Gabby menurunkan kakinya untuk mempermudahkan dirinya meraih ponsel. Sebab, tangannya tak sampai jika ia tak mendekat.


“Aw!” pekik seorang pria di lantai itu. Ia segera bangun ketika merasakan ada sesuatu yang menekan pada salah satu bagian tubuhnya.


“Iyuh!” Gabby segera menaikkan kembali kakinya ketika tak sengaja menginjak benda yang aneh di sana.


Gabby menunduk, melihat apa yang ada di bawahnya. “Kau! Kenapa kau tidur di sini?” herannya.


George duduk mengelus bendanya yang diinjak secara tak sengaja oleh Gabby. “Kau boleh menginjak tubuhku, mana pun. Kepala, kaki, tangan, perut. Asal jangan senjata bertelurku yang kau injak, ini adalah aset masa depanku,” gerutunya.


“Aku tak sengaja tertidur di sini.” George berucap jujur, ia memang tak sengaja tertidur di sana setelah lelah memandangi Gabby dan memikirkan perkataan Gabby ketika di Ravintola. Sampai sekarang ia tetap tak tahu jawabannya.


Gabby menghela nafasnya. Ia tak ingin memperpanjang urusannya dengan George. Ia akan membatasi bicara dengan pria itu untuk mengurangi resiko bertambahnya rasa sakit hatinya, jika George mengucapkan kata-kata yang tak ingin ia dengar.


Gabby memilih meraih ponselnya untuk melihat siapa yang menelfonnya. Matanya memicing untuk membaca nama yang tertera di sana. Ia tak ingin balik menghubungi, ia merubah mode ponselnya menjadi berdering. Jika sang penelfon ada urusan penting dengannya, pasti ponselnya akan kembali berdering.


Benar, rupanya ponselnya kembali menunjukkan sebuah nama yang tengah memperjuangkan cinta untuknya. Jempolnya langsung menggeser tombol hijau untuk mengangkat.


“Hm? Ada apa?” tanya Gabby.


“Kau di mana?” tanya Marvel sang penelfon. Ia berpura-pura tak tahu agar Gabby tak mencurigainya menaruh mata-mata di sekitar wanita itu.


Gabby melirik sekilas ke arah George, membuat pria itu menaikkan sebelah alisnya.


George membalas lirikan itu dengan sebuah pertanyaan, “siapa?” Namun tanpa suara.


Gabby tak menjawab, ia memilih memalingkan wajahnya. “Aku di apartemen.” Benar, ia memang di apartemen, namun bukan miliknya. Ia tak ingin menyebutkan jika dirinya berada di tempat George. Ia tak ingin melihat perkelahian diantara George dan Marvel.


Marvel, di tempatnya saat ini tengah merasakan perasaan tak karuan. Ia ingin marah tapi ditahan, Gabby berbohong dengannya. Pikirannya sudah takut jika Gabby akan memilih George, bukan dirinya.


“Kau tak lupa, kan? Hari ini kau akan menemaniku berkonsultasi? Kau sudah janji denganku akan menemaniku selama proses penyembuhanku.” Marvel mengingatkan. Ia harus selalu dekat dengan Gabby agar wanita yang ia cintai itu tak bisa didekati oleh pria lain.