
“Kau mau kemana?” tanya Marvel. Ia menutup lubang kunci motor Gabby saat wanita itu sudah menaiki motor dan hendak pergi. Ia khawatir dengan Gabby yang terlihat sedang tak baik-baik saja.
Sejak di dalam ruang rawat Diora hingga keluar dari sana, Marvel mengamati semua ekspresi Gabby. Ia yang peka dengan wanita itu, tahu jika sedang terusik akan sesuatu. Namun, ia tak ingin menanyakannya. Jika memang Gabby tengah bersedih karena Papanya akan menikah lagi, ia hanya bisa menghibur dan menemani saja. Ia tak mungkin bisa membantu membatalkan pernikahan Lord.
“Tolong, biarkan aku sendiri, aku sedang tak ingin diganggu,” tegas Gabby dari balik helm fullface nya, sorot matanya menajam menutupi kesenduannya.
“Dengan kondisimu seperti saat ini?” Marvel bergeming, ia tak ingin terjadi hal buruk dengan wanita yang ia cintai itu. “Aku tahu kau sedang tak baik-baik saja, naiklah ke mobilku. Aku akan mengantarkanmu kemanapun kau mau. Aku tak ingin terjadi sesuatu denganmu jika kau memaksakan diri untuk pergi dalam kondisi seperti ini,” ajaknya.
Marvel memegang pergelangan tangan Gabby. Ia hendak memaksa wanita itu agar turun dari motor. Namun, Gabby menghempas kasar dan mendorong tubuh Marvel sekuat tenaganya hingga tubuh jangkung itu sedikit terhuyung ke belakang.
Gabby segera memasukkan kuncinya dan menghidupkan mesin. Kedua tangannya sudah berada di setang motor. Tuas gas sudah ia tarik mengeluarkan bunyi aungan kendaraan roda dua yang terlihat gagah itu. Tangan kirinya mulai menarik kopling, kakinya menginjak tuas gigi. Ia pun akhirnya melesatkan motor kesayangannya itu.
Marvel tak bisa mengejarnya dengan berlari. Ia pun masuk ke dalam mobilnya.
“Jo! Cepat kejar dan ikuti Gabby!” titahnya setelah menutup pintu.
Jo mengangguk dan melesatkan BMW S Class itu. Melenggak lenggok menyalip kendaraan demi kendaraan.
Gabby begitu lihai mengendarai motornya, kedua rodanya memutar dengan sangat cepat. Gabby sudah seperti pembalap profesional saja.
Tin ...
Jo memencet klakson ketika terjebak kemacetan dan kehilangan jejak Gabby.
“Shit!” umpat Marvel menonjok kursi di depannya yang kosong.
“Maaf, tuan. Aku tak bisa menghindari kemacetan, dan Nona Gabby juga sudah tak terlihat,” terang Jo. Ia sudah mencoba keluar untuk melihat kemana arah perginya Gabby, namun hanya terlihat rentetan mobil-mobil saja yang memadati jalanan.
“Kita cek lokasi Nona Gabby menggunakan zenly saja, tuan? Bukankah nomornya terhubung dengan milik tuan?” Jo mencoba memberikan ide.
“Kau benar!” Marvel mengeluarkan ponselnya, ia segera membuka aplikasi gps itu. “Shit!” umpatnya lagi.
“Ada apa, tuan?”
“Dia mematikan lokasinya agar tak terlacak!” Semakin frustasi saja Marvel. Ia tak akan sekhawatir ini jika Gabby pergi dalam kondisi yang biasa saja, tapi kali ini sedang terlihat sedih.
“Berapa lama lagi kira-kira kita terjebak di sini?” tanya Marvel.
“Mungkin, bisa tiga puluh menitan, tuan,” jawab Jo asal. Ia juga tak tahu sebenarnya, penyebab kemacetan saja belum terlihat karena sangat panjang.
Marvel berdecak, matanya terus melihat ke depan dan mengumpati semua kendaraan yang menghalangi jalannya. “Rasanya ingin ku jungkir balikkan semuanya!” berangnya. “Tapi sayangnya aku bukan hulk,” kelakarnya kemudian, ditutup dengan helaan nafas frustasi.
Jo menahan tawanya dengan celetukan tuannya yang asal itu. Terdengar lucu di telinganya.
“Aku sangat mengkhawatirkannya, Jo!” Marvel menggigiti jari-jarinya.
Huft, lagi-lagi tuannya itu cemas berlebihan. Ingin rasanya Jo memberikan obat seperti biasa, tapi ia sedang tak membawanya di mobil.
“Aku punya ide, tuan.”
Marvel langsung menatap serius pada tangan kanan kepercayaannya itu. “Apa?” Ia sangat antusias untuk mendengarkan ide itu.
“Tuan hubungi saja Tuan George, mungkin dia bisa membantu mencari kemana perginya Nona Gabby,” cetus Jo.