
Kelopak mata yang sudah satu minggu terpejam itu, perlahan terbuka. Mengerjapkan matanya karena silau dengan cahaya lampu yang ada di plafon ruangannya.
Dua pria yang terus berjaga di samping Gabby pun langsung mendekat dan mengucapkan hal yang sama. “Kau sudah sadar?”
Terlihat raut wajah penuh kelegaan saat melihat Gabby sudah kembali ke dunia nyata, setelah selama satu minggu mengalami koma.
“Kenapa di surga tetap ada mereka berdua? Apa tak bisa aku pusing oleh kedua orang itu hanya di dunia saja? Kenapa harus sampai ke surga juga mereka mengikutiku,” gumam Gabby yang merasa dirinya sudah dijemput oleh ajalnya.
Marvel dan George saling berpandangan. Seolah merasa aneh dengan wanita yang sama-sama merebut hati mereka.
“Apa dia jadi berhalusinasi setelah sekian lama tak terbangun?” tanya Marvel pada George.
George mengedikkan bahunya. “Mungkin efek kepalanya terbentur,” tebaknya asal.
Gabby masih memandangi Marvel dan George silih berganti. Ia mengibaskan tangannya mengusir kedua orang itu. “Pergi kalian. Jangan mengikutiku ke surga, biarkan aku hidup di sana dengan tenang. Kembalilah ke dunia.”
Marvel dan George lagi-lagi berpandangan dan mengerutkan keningnya.
“Apa dia pikir sudah mati?”
“Sepertinya begitu.”
Dua pria itu kembali mengalihkan pandangan mereka untuk menatap Gabby yang masih terlihat muram dengan kebingungan.
“Kami masih hidup, kami nyata,” ujar George.
“Kau belum mati, kau masih hidup,” ujar Marvel.
“Tidak mungkin, aku sudah mati sejak malam itu.” Gabby menggelengkan kepalanya pelan. “Aw ....” Ia memekik saat merasakan sakit di kepalanya ketika ia menggerakkan bagian paling atas di tubuhnya itu.
Kenapa aku masih merasakan sakit jika sudah mati? Gabby bergumam dengan hatinya sendiri dengan memejamkan kembali matanya.
Melihat wanita yang mereka perebutkan kembali menutup mata, George dan Marvel berebut untuk memencet tombol memanggil Dokter.
...........
“Keadaannya sudah mulai membaik,” jelas Dokter setelah memeriksa kondisi Gabby.
“Jika sudah membaik, kenapa dia kembali memejamkan mata?” tanya George.
Dokter itu tersenyum. “Mungkin masih lelah dan mengantuk. Biarkan pasien istirahat.”
“Tapi, sedari dia membuka mata, dia selalu mengatakan di surga.” Kini Marvel yang mengajukan pertanyaan pada Dokter.
Dokteri itu kembali tersenyum. “Bisa jadi karena koma yang lumayan lama, sehingga pasien belum bisa membedakan yang nyata dan fana.”
Dua pria tampan dan rupawan itu kembali bernafas lega setelah mendengar penjelasan dari Dokter. Mereka bersamaan duduk di kursi samping tempat tidur pasien. Sama-sama memegang tangan Gabby. Satu sebelah kiri, satu sebelah kanan.
Gabby sesungguhnya tak tidur, ia hanya kecewa saja mengapa tak jadi diambil nyawanya. Mengapa dia harus selamat dan melanjutkan hidup yang menyakitkan.
“Jangan katakan apapun pada Papaku tentang kondisiku ini,” pinta Gabby pada dua pria yang masih memegang tangannya. Matanya sama sekali tak ia buka sedikitpun.
“Siapa yang tak boleh mengetahui kondisi putriku sendiri?” Suara baritone yang menyembul dari balik pintu itu membuat Gabby membuka matanya dan mengalihkan pandangannya ke sana.
Menghirup oksigen dan mengeluarkan karbon dioksida secara perlahan. Gabby tak ingin menanggapi Papanya. Ia membuang pandangannya ke sembarang arah. Masih sakit jika mengingat Papanya yang menentangnya malam itu.
Hentakan pantofel dari kaki Lord semakin mendekat, pria tua itu menatap Marvel dan George bergantian. Lalu melihat tangan putrinya yang berada di genggaman keduanya.