Gabby, My Fierce Girl

Gabby, My Fierce Girl
Part 153



Bukannya George tak ingin memperjuangkan cintanya untuk mendapatkan hati Gabby. Namun, ia merasa tak ingin ikut campur dengan keputusan wanita itu. Ia sudah berusaha memberikan bukti bahwa dirinya perduli dan cinta kepada Gabby. Hanya saja, ia memang tak suka mengatakan kata cinta. Geli saat mengatakannya. Lebih baik membuktikannya.


George menghargai keputusan Gabby yang memilih Marvel. Meskipun hatinya sakit dan hancur, tapi ia akan mengikhlaskan asalkan wanita yang ternyata ia cintai itu bahagia. Walaupun ia terluka.


“Jadi, bagaimana? Apa kau mau membantuku?” tanya Lord mengulang kembali pertanyaannya pada George. “Aku bukannya tak suka dengan Marvel. Aku suka dengannya, tapi hanya sebatas menjadi teman Gabby, bukan menjadi suaminya. Aku bukannya egois memikirkan diriku sendiri, justru aku memikirkan masa depan anakku. Aku tak ingin dia menjadi janda diusia muda, dan aku juga tak ingin dia ikut terserang penyakit berbahaya seperti diriku. Aku tak tahu sampai kapan masih bisa hidup, semakin hari tubuhku semakin lemah digerogoti oleh penyakit. Aku hanya ingin memastikan dia hidup bahagia dan ada orang yang menjaganya sebelum aku meninggal. Aku lebih percaya denganmu, George.”


George terdiam. Dia mencerna semua yang dikatakan oleh Lord. Ia juga ingin menjaga wanita yang ia cintai itu. Tapi sayangnya, wanita itu sungguh keras kepala. Apapun yang dikatakan orang lain, tak akan bisa merubah pendirian Gabby.


George berdecak saat mengingat sifat Gabby. “Katakan padaku, bagaimana caraku agar Gabby mau menerimaku?” Ia sekarang antusias ingin menolong Lord. Ia juga tak ingin masa depan Gabby hancur. Apa lagi membayangkan jika Gabby ikut terserang penyakit akibat perbuatan masa lalu Marvel yang seorang pecandu. “Jangan lupakan sifatnya yang keras kepala itu.”


Lord menopang kedua sikunya di meja. Ia memberikan isyarat dengan tangannya agar George mendekat.


George paham, ia berangsur maju dan siap mendengarkan saran dari Lord.


“Tiduri dia,” cetus Lord dengan berbisik, namun Davis yang tak mendekat juga masih bisa mendengar.


George langsung mengempaskan tubuhnya hingga tersandar di sandaran kursi. Ia bergeleng kepala dan membelalakkan matanya. “Kau gila? Anakmu sendiri kau jual kepadaku?” Ia tak habis pikir dengan jalan pikiran Lord.


“Hanya itu yang bisa kita lakukan. Aku sendiri juga bingung dengan sifat keras kepalanya itu. Mungkin, dengan kau menidurinya, dia akan mempertimbangkanmu.”


“Aku akan menaruh obat padanya. Maka akan dengan mudah kau mendapatkannya,” celetuk Lord.


“Tidak! Aku tak setuju, aku tak mau menyentuhnya tanpa seizinnya. Aku bukan hewan yang tak memiliki moral,” tolak George.


Lord mengatupkan kedua tangannya. Ia mengiba pada George agar mau menolongnya. “Ku mohon, bantu aku sebelum aku benar-benar meninggalkan dunia ini. Agar aku tenang meninggalkan anak-anakku di sini jika sudah ada orang yang bisa menjaga mereka.”


George memejamkan matanya sejenak, menghirup dalam-dalam oksigen untuk disalurkan ke dalam otaknya agar lancar untuk berpikir. Ia membuka kembali kelopak matanya. “Aku akan membantumu,” ujarnya.


Ada angin sepoi-sepoi yang dirasakan oleh Lord. “Serius?”


George mengangguk. “Tapi tidak dengan cara licik seperti itu. Aku bukan Davis yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan istrinya.”


Davis yang disindir biasa saja, karena apa yang diucapkan George memang seperti itu adanya.


“Lalu, kau mau memikat Gabby bagaimana? Kau tahu sendiri, dia tak akan merubah pendiriannya.”


George mengedikkan bahunya. “Kau pikirkan caranya. Aku akan berjuang dengan caraku sendiri, dapat atau tidak. Yang pasti aku sudah mencoba membantumu.”