
Semalam, Gabby dan George akhirnya bermalam di tengah lautan. Namun keduanya tak satu kamar, hanya bersebelahan saja kamar mereka. George juga memberikan obat tidur pada Gabby, karena ia tahu jika wanita itu selalu sulit untuk masuk ke alam mimpi tanpa bantuan pil itu.
Pagi sekali, kapal pesiar mulai menepi ke dermaga. George mengantarkan Gabby langsung ke apartemen.
“Motormu, akan ku suruh orang untuk membawanya ke mari,” ujar George saat Gabby hendak turun dari mobilnya. Ia baru teringat jika meninggalkan kendaraan roda dua itu di rumah sakit. Tapi sudah terlanjur sampai di gedung apartemen Gabby. “Aku ada rapat penting hari ini, jadi aku tak bisa mengantarmu ke sana. Maaf aku lupa jika kau kemarin membawa motor,” imbuhnya.
“Hm ... tak perlu repot-repot, aku akan mengambilnya sendiri,” tolak Gabby. Ia membuka pintu mobil, lalu mengeluarkan kakinya untuk menyentuh lantai semen di sana, diikuti dengan seluruh tubuhnya yang keluar dari Tesla berwarna abu-abu itu.
Gabby menutup pintunya, namun langsung ia buka kembali. Dirinya nampak ragu akan mengatakan sesuatu. Ia sedikit membungkukkan tubuhnya agar bisa melihat George yang berada di balik kemudi.
“Kenapa? Ada yang tertinggal?” tanya George heran. Baru saja ia ingin mengunci pintu mobilnya, sudah dibuka kembali. Ia menatap ke arah Gabby.
“Em ....” Gabby menggigit bibir bawahnya. Ia ragu untuk mengatakannya.
Jemari George mengetuk bundaran setir kemudinya. Matanya melihat jarum jam yang terus berputar di pergelangan tangannya. “Jika tak ada yang ingin kau katakan, bisa tolong tutup pintunya? Aku harus segera menghadiri rapat.”
Menghela nafasnya, Gabby mengesampingkan egonya. “Terima kasih,” ujarnya lirih, namun George dapat mendengarnya.
“Untuk?” George menggoda Gabby dengan menaikkan sebelah alisnya. Ia ingin mendengar ucapan yang lebih detail lagi.
“Untuk semuanya, terima kasih sudah menghiburku dan menemaniku saat sedih,” jelas Gabby dengan wajah yang merona karena malu mengatakannya.
George melebarkan senyumnya melihat Gabby yang bertingkah tak biasa itu. “Tak masalah,” balasnya.
Gabby tak beranjak. Ia masih di sana memegang pintu agar tak menutup.
“Ada lagi yang ingin kau katakan?”
“Em ... bolehkah aku minta sesuatu padamu?”
George menjawab dengan anggukan.
George tersenyum jahil. “Tergantung apa yang kau tawarkan untuk tutup mulutku?” Ia menaikkan alis kanannya.
“Ck! Mata duitan!” cibir Gabby dengan nada kesalnya. Ia menganggap tutup mulut hanyalah sebuah uang saja. Padahal bisa yang lainnya, misal ciuman mungkin, atau bermain di atas ranjang. Tapi tentu saja Gabby tak memikirkan hal itu. Meskipun otaknya tak polos, tapi dirinya tak akan menjatuhkan harga dirinya sendiri.
George terkekeh. “Tenang saja, aku tak akan mengatakan pada siapapun. Justru aku senang akan hal itu,” balasnya.
Membuat Gabby bingung. “Senang?”
“Ya. Senang karena hanya akulah satu-satunya orang yang mengetahui sisi lainmu,” ujar George bangga.
Gabby bergeming, ia tak menanggapi. Bingung juga dirinya ingin menjawab apa. Perasaannya sungguh campur aduk saat ini. Sungguh sulit untuk dijelaskan.
“Bisa minta tolong kau tutup pintunya? Aku akan terlambat jika tak segera pergi. Atau, jika kau masih rindu bersamaku, masuklah lagi dan ikut bersamaku.”
Gabby mendengus, siapa juga yang masih rindu. Yang ada kesal terus Gabby dibuat George. Ia segera menutup pintu.
George langsung melajukan kendaraannya menuju tempat tujuan.
Dan Gabby menaiki lift untuk ke unit apartemennya.
Sesampainya Gabby di kamar, ia segera mengeluarkan ponselnya. Ternyata ponselnya mati karena kehabisan daya baterainya. Ia pun segera mencharge.
Ponselnya berbunyi saat sudah hidup. Pertanda ada panggilan masuk. Dilihatnya siapa penelfon itu. Ia menggeser tombol hijau untuk mengangkat.
“Ya, pa?” sapanya, ternyata Lordeus—sang Papa peremuk hatinya yang menelfon.
“Bisa kau datang ke rumah sakit tempat Diora dirawat? Ada hal penting yang ingin Papa sampaikan.”
“Bisa.”