Gabby, My Fierce Girl

Gabby, My Fierce Girl
Part 37



“Kalau Gabby, bagaimana?” tanya Diora pada kedua pria di hadapannya yang masih memandang dirinya dan juga Gabby tanpa berkedip.


Hening, tak ada yang menanggapi. Baik George maupun Davis hanya mengatupkan bibirnya tanpa berniat mengeluarkan suara mereka.


Davis melirik dan menyenggol tangan George menunggu sahabatnya membuka suara, karena tak mungkin dirinya memuji wanita lain sedangkan ada istrinya di hadapannya. Namun George terlihat biasa saja dengan tatapan mata datar seperti biasanya.


Mata George menelisik dari ujung kepala hingga ujung kaki Gabby. Tetap tak memberikan tanggapan. Ia malah melenggangkan kakinya untuk mulai menyusuri Desa Adat Panglipuran.


Diora merasa tak enak karena menanyakan hal tersebut. Ia melirik ke arah Gabby, wanita itu terlihat seperti biasanya tak ada menunjukkan raut kecewa ataupun sakit hati karena tak ada yang memujinya seperti Diora.


“Kau cantik menggunakan itu,” puji Diora berbisik di telinga Gabby. Ia memberikan usapan pada punggung sahabatnya agar tetap percaya diri.


“Terima kasih,” balas Gabby mencoba mengulas senyumnya.


Gabby sadar diri, wanita seperti dirinya mana mungkin terlihat cantik dengan busana feminim. Bahkan dirinya sendiri juga merasa aneh dan tak nyaman memakainya. Beruntung dia bukanlah wanita yang haus akan pujian, jadi ketika tak ada yang memujinya, dia biasa saja tak kecewa sedikitpun.


“Kalian mau berdiam di situ terus atau mau melanjutkan perjalanan? Jika hanya ingin berdiam diri saja, lebih baik pulang daripada menghabiskan waktu sia-sia.” George berucap dengan lantang dari jarak yang sudah lumayan menjauh.


Membuat Gabby, Diora, dan Davis langsung menyusul.


Davis memberikan tatapan pada Gabby dengan pertanda agar wanita itu menjauh dan membiarkannya jalan berdua dengan istrinya karena Diora terus saja menggandeng Gabby tanpa melepas sedikitpun.


Gabby yang paham pun langsung membuka suaranya. “Kau berjalanlah dengan suamimu, temani dia. Aku kesulitan berjalan jika kau terus saja menempel denganku,” kilahnya seraya melepas tangan Diora.


Gabby pun berjalan sendiri di belakang, dengan langkah yang lambat karena sulit untuknya melangkah.


“Menyusahkan!” gerutu Gabby. Ia yang tak sabar pun menaikkan bawahan kebayanya untuk mempermudah berjalan.


“Ck! Dasar wanita jadi-jadian,” hina George ketika Gabby melewati pria itu yang sengaja berhenti.


“Diam, kau mulut sampah!” sentak Gabby. Ia tak memperdulikan George.


“Apa kau sengaja menaikkan bawahanmu itu agar orang iba dengan luka di betismu atau mau menggodaku? Sayangnya aku tak akan tergoda dengan wanita yang tak pantas dikatakan sebagai wanita.”


Gabby menghentikan langkahnya, membalikkan tubuhnya menghadap George. Menarik nafasnya dalam-dalam lalu menghembuskannya kasar. Ia melirik sekilas di sekitarnya, memang sudah tak ada orang lain. Hanya ada mereka berdua saja. Apa pria itu tergoda dengan pahanya yang sedikit terekspose? Ah tidak mungkin.


“Aku sungguh ingin merobek mulut sampahmu itu! Jika kau tak bisa bertuturkata santun, maka lebih baik diam! Kau bisa melukai hati orang lain dengan perkataanmu itu!” Gabby berucap dengan penuh penekanan.


George menyunggingkan senyum sinisnya. “Apa orang sepertimu bisa sakit hati? Bahkan kurasa kau tak memiliki hati, hanya keras kepala yang kau miliki.”


“Kau berbicaralah dengan angin, aku malas menanggapimu!” Gabby berbalik, ia memilih meninggalkan George.


“Ada apa denganku? Kenapa jika dengannya aku banyak bicara? Dan kenapa aku tak rela dia menyudahi pembicaraan denganku?” gumam George. Ia merutuki dirinya sendiri. Ia juga tak paham mengapa bersama Gabby selalu ingin mengobrol, karena ia tak tahu ingin mengatakan apa, apa lagi George memang tak bisa berkata manis atau memuji ataupun kata-kata romantis, itulah sebabnya hanya sebuah cacian yang bisa ia lontarkan.