
Gabby menyandarkan tubuhnya di motornya. Kedua tangannya terlipat di depan dada. Matanya melihat dari ujung kaki hingga ujung kepala. Seluruh bagian tubuh George lak luput dari tatapan tajam Gabby. Puas dengan hal itu, sebelah bibirnya tersungging, namun langsung kembali ke wajah semulanya. Seolah ia tengah mengejek kepercayaan diri George.
“Memangnya sejak kapan aku mengatakan mau menjadi istrimu?” Tidak, dia tak bertanya. Ia seperti memberikan pernyataan bahwa ia tak ingin menjalin hubungan dengan George.
“Cepat atau lambat, kau pasti akan menjadi istriku.” Kepercayaan diri George tak surut sedikitpun.
“Berhayallah sampai mampus!” hina Gabby. Ia menaiki motornya, namun ia tersadar ketika hendak mencari kunci motornya. Ternyata ia lupa membawa tasnya. Begitu kesal dirinya dengan Diora dan Natalie hingga membuatnya melupakan benda berisi barang-barang penting miliknya itu.
Gabby kembali turun dari motornya. Ia berdecak ke arah George. “Gara-gara kau, tasku tertinggal!” kesalnya. Ia selalu menyalahkan George jika mengalami kesialan.
Gabby kembali mengayunkan kakinya menuju ruang rawat Diora.
George, pria itu sungguh tak gentar. Ia mengikuti Gabby, namun beberapa langkah di belakang wanita itu.
Sesampainya di ruang rawat Diora. Gabby tak langsung masuk. Ia berhenti di depan pintu. Matanya langsung berkaca-kaca melihat pemandangan di dalam ruangan itu dari sela pintu yang sedari ia datang tak tertutup rapat. Lordeus—Papanya, tengah berpelukan bersama dengan Diora dan Natalie—Mama Diora.
Gabby membalikkan tubuhnya, lalu menyandar di dinding. Ia memejamkan matanya untuk menahan air matanya agar tak keluar. Namun gagal, justru lelehan cairan bening itu keluar tanpa permisi begitu deras.
George, ia melihat semua ekspresi Gabby dari awal datang hingga wanita itu menangis dan bersandar. Ia ingin mendekat, lalu merengkuh memberikan kekuatan. Namun ia memilih melirik ke dalam ruangan untuk melihat sesuatu yang membuat Gabby bersedih.
Tak kuat melihat Gabby yang terus menerus mengeluarkan air mata tanpa terdengar sedikitpun isakan dari bibir tipis itu. George hendak merengkuh tubuh yang sekarang sedang rapuh itu.
Namun, ketika George mencondongkan tubuh dan tangannya. Gabby berangsur turun untuk berjongkok, menyilangkan tangannya di atas lutut, dan membenamkan wajahnya di atas tangannya.
Punggung Gabby mulai naik turun seirama dengan sesegukannya karena menahan tangis agar tak mengeluarkan suara. Ia menggigit bibir bawahnya begitu kuat hingga lidahnya merasakan sesuatu yang terasa aneh masuk ke dalam bibirnya dan menyentuh indera pengecapnya.
George tak tega dengan pemandangan itu, ia memilih membuka pintu ruangan Diora. Berulang kali ia menghela nafasnya untuk menahan amarah agar tak melayangkan tinju pada Lord yang sudah membuat wanitanya menangis.
Kedatangan George membuat semua orang di dalam ruangan itu, menoleh ke arahnya. Seketika, suasana yang baru saja mengharu biru di dalam sana langsung kembali normal setelah kedatangannya.
“Darimana, kau?” tanya Davis. “Apa kau tak jadi mengejar Gabby? Atau kau sudah ketinggalan jejaknya?” lanjutnya.
“Bukan urusanmu!” sentak George. Dadanya sudah naik turun, tatapan matanya tak pernah lepas dari Lord. Tangannya mengepal erat di bawah sana.
Davis dan Lord merasa aneh dengan sikap George. Padahal, mereka baru saja mengobrol seperti biasa dan tak ada masalah. Namun, kini pria itu terlihat begitu emosi.
George melihat di mana tas Gabby tertinggal. Ia memilih menyambar benda itu. Meskipun sangat ingin meninju Lord seperti halnya Lord meninju dirinya ketika ia mengecewakan Gabby. Namun ia urungkan, karena ada Natalie dan Diora. Jika saja tak ada kedua wanita itu. Pasti kepalan tangannya sudah mendarat di wajah Lord.