
Dua hari tak berpergian, dua hari pula Gabby tak diganggu oleh kehadiran George. Meskipun ada sesuatu yang terasa hampa, tapi ia cukup lega bisa menyembuhkan rasa kecewanya perlahan. Kenyataan yang sungguh menampar hatinya dan meleburkan segala kisah yang sudah ia bayangkan sebelumnya akan menjadi kisah bahagia untuknya.
Hari ini, mau tak mau Gabby harus keluar dari apartemennya. Ia harus mengikuti ujian semester di Universitas tempatnya mengemban ilmu. Dengan berpakaian kemeja navy yang longgar, celana jeans panjang, sneakers senada dengan kemejanya, rambut kuncir kuda, topi, dan tas ransel yang hanya disampirkan satu sisi di bahunya.
Ia bertemu dengan Diora ketika hendak memasuki ruangan ujian, keduanya berjalan bersamaan ke tempat tujuan yang sama.
Satu setengah jam telah berlalu, ujian pun telah usai. Gabby merapikan alat tulisnya dan memasukkan ke dalam tasnya. Ia menghampiri Diora.
“Cafe, yuk,” ajak Gabby yang tak bisa dipungkiri dirinya sedang suntuk.
“Maaf, aku dijemput suamiku,” tolak Diora. Ia usap lembut lengan Gabby, merasa bersalah sudah menolak ajakan sahabatnya. Padahal sahabatnya akan selalu ada untuknya di saat apapun.
“It’s okay,” balas Gabby mencoba biasa saja. Ia memahami jika saat ini kondisi Diora sudahlah bersuami dan pastinya waktu untuknya juga berkurang.
“Aku duluan, ya,” pamit Diora memberikan senyum penuh permohonan maaf tak bisa menemani Gabby.
Gabby menjawab dengan anggukan. “Kita keluar bersama saja, aku juga harus ke tempat parkir mengambil motorku,” ajaknya.
Gabby dan Diora pun keluar ruangan bersamaan, keduanya berpisah ketika di lobby gedung itu. Gabby menuju tempat parkir dan Diora menuju halte.
Gabby yang sudah siap untuk keluar membelah jalanan Kota sore hari ini, memberhentikan motornya di depan halte. Ia melihat Diora masih duduk di sana sendirian.
“Suamimu belum datang?” tanya Gabby setelah ia melepas helm dan ikut duduk di kursi tunggu halte.
“Belum, mungkin sebentar lagi,” balas Diora. Namun berkali-kali ia melihat ponselnya, tak ada balasan dari Davis.
Tak ada pembicaraan antara keduanya, Gabby hanya melihat kendaraan yang berlalu lalang di hadapannya, Diora terus saja melihat ponselnya. Hingga ada sebuah mobil yang berhenti di depan halte.
“Itu, suamiku. Aku duluan, ya,” pamit Diora.
Gabby mengangguk. “Hati-hati.”
Ia melihat seseorang keluar dari balik kursi kemudi ketika Diora memasuki mobil. Gabby menghembuskan nafasnya malas. Ia segera berjalan ke motornya untuk menghindari orang tersebut. Namun, kalah cepat. Orang yang dia hindari sudah menghadang motornya.
“Mana kuncinya.” Orang itu menengadahkan tangannya.
“Berapa kali aku harus mengatakan padamu? Jangan muncul dan usik hidupku lagi!” sentak Gabby.
“Oh, aku belum mengatakan padamu. Aku tak akan menyerah untuk mendapatkanmu!” ujarnya yakin.
“Kau!” Gabby menunjuk wajah pria di hadapannya. “Keras kepala!” Tangannya mengepal. Ingin mengumpat namun sudah tak ada lagi kata-kata yang bisa ia keluarkan karena begitu emosi dirinya saat ini. “Minggir kau!” usirnya mendorong ke samping tubuh kekar itu.
“Jangan panggil aku George Gabriel Giorgio jika menyerah begitu saja.” Ia langsung naik ke motor gede milik Gabby.
Gabby hendak mengusir lagi, namun ponselnya berdering. Ia lihat siapa yang menelfon, hembusan nafas kasar terdengar setelah membaca siapa sang penelfon.
“Kau! Sama saja penganggu!” seru Gabby semakin kesal.