Gabby, My Fierce Girl

Gabby, My Fierce Girl
Part 53



George sungguh keras kepala, meskipun sudah di usir tetap saja tak pergi. Membuat Gabby semakin geram.


“Kau ingin keluar sendiri atau keluar dengan caraku?” tawar Gabby dengan tegas.


“Aku tetap tak mau keluar, aku akan di sini sampai kau memaafkanku.” George melipat kedua tangannya, menyandarkan kepala di sofa, menatap Gabby dengan senyum mengejeknya. Menandakan bahwa tak semudah itu mengusirnya.


Gabby menyunggingkan sebelah bibirnya. Lalu ia berdiri dan beranjak untuk masuk ke dalam kamarnya.


“Mau kemana, kau?” tanya George. “Aku haus, bukankah sebagai tuan rumah harusnya kau memberikan tamunya minum!” Ia bukan mengingatkan atau menyindir, namun memberikan perintah.


Gabby tetap masuk ke dalam kamarnya, entah apa yang ia lakukan. Sebab, ia langsung keluar lagi menuju dapur untuk membuatkan minum George.


George melihat aktifitas Gabby dari sofa ruang tamu, karena tak ada sekat yang menghalangi pandangan matanya. Ia menyunggingkan senyumnya merasa menang dan seolah mendapatkan angin segar bahwa Gabby memaafkannya. Buktinya, wanita itu mau membuatkan minum untuknya.


Gabby sadar jika dirinya sedari tadi diperhatikan, ia balas sorot mata yang mengarah padanya. Namun langsung membalikkan tubuhnya untuk menyiapkan minuman tamu tak diundangnya.


Setelah siap, Gabby berjalan menghampiri George dengan membawa satu gelas jus apel. “Minumlah!” Ia membungkukan tubuhnya untuk meletakkan gelas ke hadapan George tanpa berekspresi sedikitpun. Sesaat, mereka saling beradu pandang dan Gabby kembali menegakkan tubuhnya dan duduk di sofa tempatnya tadi.


George tak langsung meminumnya. Ia mengamati gerak gerik Gabby terlebih dahulu.


Wanita itu terlihat sangat tenang, membuat George merasa gusar. Pasalnya ia tak bisa membaca isi pikiran Gabby jika tak menunjukkan ekspresi apapun.


“Kau tak memberikan racun, kan?” tanya George.


Gabby mencebikkan bibirnya. “Kau fikir aku sejahat itu?”


“Aku hanya memastikan keselamatanku saja,” elak George.


“Minumlah! Tadi kau yang minta minuman, sekarang sudah susah payah aku membuatkannya malah kau menuduhku yang tidak-tidak! Apa hobimu itu memang berprasangka buruk pada orang dan menyakiti hati orang lain?” berang Gabby. Ini sudah kesekian kalinya ia dituduh hal yang buruk oleh George, meskipun kali ini memang ada sesuatu yang dimasukkan ke dalam minuman itu.


Karena sangat haus, George meminum jus itu hingga habis.


Gabby baru menunjukkan berekspresi wajah liciknya setelah George meletakkan gelas ke atas meja.


Raut wajah George langsung berubah seketika setelah mengetahui bahwa dalam minumannya sudah diberi sesuatu.


“Shit!” umpat George. “Kau mengelabuhiku! Apa yang kau ma—”


Belum sempat George menyelesaikan ucapannya, ia sudah tak sadarkan diri terlebih dahulu.


“Kau mau melawanku? Salah besar!” cibir Gabby.


Gabby menarik tubuh George yang terkulai lemas. Dia seret dengan kasar dan mengeluarkannya dari apartemen.


Brak!


Pintu dibanting dengan kasar, namun George tetap tak terganggu dengan itu.


Masa bodoh apa yang akan tejadi dengan George, Gabby tak perduli. Yang pasti, pria sampah itu sudah tak ada di dalam apartemennya.


Dengan emosinya yang membuncah, Gabby masuk ke dalam kamar dan menghempaskan tubuhnya kasar di atas ranjang.


Moodnya sungguh jelek hari ini, rencananya ingin mendesain, hilang sudah.


Gabby memejamkan matanya sejenak, mencoba mengistirahatkan diri. Namun bunyi notifikasi ponselnya sangat mengganggu.


Dia ambil dengan kasar ponselnya dan melihat siapa orang yang mengganggunya itu. Raut wajahnya mendadak menjadi serius. Dia langsung menghubungi orang itu kembali dan keduanya terlibat pertengkaran pada panggilan telefon itu.