
“Bagaimana bisa kau tahu jika hari ini aku ulang tahun?” tanya Gabby seraya menaruh gelas berisi air mineral ke hadapan pria yang mengingat hari bersejarahnya itu. Hari di mana Mamanya berjuang untuk melahirkannya di dunia dan merasakan sakitnya hidup.
“Apa kau lupa? Setiap tahun aku mengirimmu kado,” jawabnya. Tangannya mengambil gelas di meja untuk segera menghabiskan isi di dalamnya. Membasahi tenggorokannya yang terasa kering.
Gabby tak menjawab, matanya melihat ke pintu yang paling ujung. Gudang. Semua kado yang ia dapat masih utuh di dalam sana. Ia mengalihkan pandangan ke pria di hadapannya lagi. Ada rasa bersalah karena selama ini ia mengabaikan pria itu, Marvel. Tapi Marvel tak pernah melupakannya sekalipun. Tak membencinya sedikitpun, justru Marvel semakin menunjukkan betapa seriusnya dirinya.
Apa ini salah satu balasan karena aku pernah mengabaikan seseorang yang tulus padaku? gumam Gabby dalam hatinya.
“Hei! Apa kau sakit?” Marvel menyentuh kedua bahu Gabby dan menggoyangkannya saat mata Gabby terlihat menatapnya kosong.
Gabby tersadar dengan lamunannya. “Tidak, aku baik-baik saja,” jawabnya.
Marvel menempelkan telapak tangannya di dahi Gabby. “Suhu tubuhmu normal. Lalu, kenapa kau melamun?” tanyanya.
“Aku tidak melamun,” elak Gabby. Menarik tubuhnya ke belakang hingga tersandar ke sofa.
Marvel teringat, selain memberikan kejutan pada Gabby, dia juga ingin menanyakan terkait penyembuhannya.
Marvel duduk dengan kedua tangannya yang terpangku di atas pahanya. Matanya lekat mengamati Gabby yang tengah memejamkan matanya. Ia tak tahu apa yang ada di pikiran wanita itu, tapi ia yakin jika Gabby tengah terusik sesuatu. “G2?”
Marvel juga memanggilnya dengan panggilan G2, panggilan sedari kecil karena menirukan Lord.
“Hm?” Gabby tak memandang Marvel. Ia masih menyelami pikirannya yang sedang runyam itu.
“Kapan kau bisa mulai menemaniku untuk terapi penyembuhanku?”
Wanita dengan rambut yang masih di gelung asal itu menegakkan tubuhnya. Kenapa aku bisa lupa tentang hal itu! Ia merutuki dirinya sendiri.
“Maaf, aku terlalu banyak urusan hingga belum sempat memberikanmu kabar. Bagaimana jika malam ini?” tawar Gabby.
“Kau serius?” Ada rasa bahagia saat Marvel mengucapkannya.
“Hm.” Gabby mengangguk. “Tapi, bisa kau membantuku?”
“Apa? Katakan saja,” jawab Marvel cepat dan antusias. Ia senang jika Gabby meminta bantuannya, artinya dia masih dibutuhkan oleh wanita yang ia cintai itu.
“Kau memiliki hacker yang handal?” Marvel menjawab dengan anggukan.
“Malam ini, tolong matikan seluruh CCTV mulai dari apartemenku hingga kita pergi ke tempat rehabilitasimu, aku tak ingin ada satu orang pun yang tahu tentang kepergian kita. Apa kau bisa?”
Dengan cepat, Marvel mengangguk penuh keyakinan. “Aku kan melakukannya.”
Gabby mengulas senyumnya. “Jangan sampai ada yang tahu tentang kemana kita pergi, sampaikan juga pada anak buahmu agar mereka tak mengatakan apapun jika ada orang yang bertanya pada mereka. Aku ingin benar-benar fokus untuk membantumu sembuh, tanpa ada gangguan.”
Lagi-lagi Marvel mengangguk cepat, ia sungguh bahagia. “Aku akan menjemputmu nanti malam.”
“Hm, aku akan memberimu kabar jika sudah siap. Hari ini, aku ada acara yang harus ku hadiri. Aku harus memastikan sesuatu di sana,” ujar Gabby.
“Aku akan menunggu kabar darimu.” Senyum Marvel tak memudar sedikitpun.
Gabby pun demikian, ia juga tersenyum melihat Marvel sebahagia itu. Ternyata ada orang yang bahagia hanya karena hal kecil yang ku lakukan, kemana saja aku selama ini? Hingga mengabaikan orang seperti dia.
“Kau pulanglah dulu, bersiap-siaplah. Aku juga ingin bersiap.” Gabby mengusir Marvel dengan halus.
Marvel pun menurutinya, ia pamit untuk pulang. Senyumnya merekah sepanjang perjalannya.