Gabby, My Fierce Girl

Gabby, My Fierce Girl
Part 92



Ternyata, pria berpakaian serba hitam yang berada di samping motor Gabby, adalah satpam baru apartemen itu. Ia sengaja menunggu di sana untuk memberikan kunci motor yang ia amankan karena ia temukan masih menyangkut di atas motor. Ia menunggu semalaman, namun tak ada orang yang mencari kunci di pos satpam. Sehingga, ia berinisiatif untuk memberikannya secara langsung dengan menunggu sang pemiliknya.


Gabby dapat bernafas lega, akhirnya ketemu juga kuncinya. Ia lagi-lagi menyalahkan George karena kejadian itu. Jika saja semalam George tak memaksanya untuk masuk ke dalam mobil dengan terburu-buru. Pasti ia tak akan lupa mencabut kunci.


Setelah menemukan kuncinya, Gabby kembali ke apartemennya untuk membersihkan diri.


Marvel pun ikut. Ia ingin memboncengkan Gabby, tapi ditolak oleh Gabby dengan alasan hanya ada satu helm dan Gabby tak ingin jika terjadi sesuatu di jalan akibat hal tersebut. Marvel pun menerimanya.


Setelah selesai membersihkan diri, Gabby dan Marvel pergi ke pusat rehabilitasi untuk bertemu dengan terapis.


Di sana, Gabby dan Marvel dijelaskan tentang tahap-tahap penyembuhan mulai dari detoksifikasi, rehabilitasi nonmedis, tahap bina lanjut, dan kemungkinan lamanya penyembuhan Marvel.


“Lamanya penyembuhan bermacam-macam, tergantung motivasinya juga untuk sembuh. Jika dilihat dari tekad Tuan Marvel, kemungkinan bisa kurang dari satu tahun,” jelas sang terapis.


“Apa ada lokasi rehabilitasi yang terletak di pedesaan?” tanya Marvel.


“Ada, sepertinya Anda lebih suka tempat yang asri, ya?” Terapis itu lalu menunjukkan beberapa foto di tempat rehabilitasi yang ada di pedesaan dengan hamparan hijau yang luas. “Di sana udaranya sangat sejuk. Anda ingin melakukan penyembuhan di sana?” tanyanya.


Marvel mengangguk. “Ya.” Kemudian Ia melihat ke arah Gabby setelah memberikan jawaban.


Gabby yang merasa diperhatikan pun menengok ke arah Marvel dengan alis yang sedikit di naikkan. “Kenapa?” tanyanya tanpa suara.


Meskipun Gabby tak terbiasa dengan perlakuan berlebihan seperti itu, ia mencoba menerimanya. Ia akan mencoba untuk mulai menerima Marvel. Mungkin bisa membuat perasaannya dengan George perlahan terkikis.


Gabby pun membalas senyuman itu dengan ulasan yang sama.


“Apa Gabby bisa ikut? Aku ingin selalu melihatnya selama penyembuhanku,” izin Marvel pada sang terapis. Matanya tak ia alihkan dari wanita cantik yang sudah sangat lama ia cintai itu, dan mungkin sebentar lagi akan ia miliki.


Terapis itu terkekeh dengan keromantisan Marvel. Terlihat jelas betapa besar cinta pria itu. “Boleh, tapi tak bisa satu ruangan. Demi menjaga keamanan Nona Gabby. Tuan Marvel bisa melihatnya setiap hari dari ruangan kaca. Karena kita tak tahu nantinya reaksi tuan ketika proses penyembuhan seperti apa. Tuan bisa melakukan hal di luar kendali saat itu. Apa tak masalah?”


Marvel segera mengangguk untuk memberikan jawaban. “Asalkan aku bisa terus melihatnya.” Ia pun akhirnya berhenti membelai Gabby.


“Bagaimana, nona? Apakah nona tak masalah?” Terapis itu menanyakan kesediaan Gabby.


Gabby berpikir sejenak, ia sedikit ragu. Tadinya, ia pikir proses penyembuhannya akan dilakukan di Helsinki. Ia melirik Marvel yang menunggu jawaban darinya. Gabby nampak menggigit bibir bawahnya selama berpikir, membuat Marvel begitu takut jika Gabby tak mau menemaninya.


Marvel takut jika Gabby akan memilih tinggal di Helsinki, alih-alih ikut dengannya ke pedesaan. Ia memilih pedesaan karena ingin menjauhkan Gabby dengan George.


“Kau sudah bilang padaku akan menemaniku selama penyembuhan, kau tak bisa ingkar.” Marvel meraih tangan Gabby. Ia ingin meyakinkan wanita itu jika dirinya sangat membutuhkan Gabby untuk motivasinya sembuh.