
Tiga bulan berlalu, usia kehamilan Gabby sudah menginjak sembilan bulan. Perutnya sangat buncit sekali. Kakinya juga sudah bengkak.
George yang khawatir dengan kondisi Gabby seperti itu langsung sigap membawa sang istri ke rumah sakit. Ditambah, baru saja istrinya sudah keluar cairan dari jalan lahir sang bayi.
Di dalam mobil, Gabby meringis menahan sakit di perutnya. Meskipun sudah pernah melahirkan, tapi tetap saja setiap kontraksi membuat sekujur tubuhnya seolah remuk.
“Sabar, By,” ujar George menenangkan istrinya. Saat ini ia sedang mengemudi.
Gabby tak menanggapi, ia terus menggigit bibir bawahnya menahan sakit. Tangannya meremas tali seatbelt yang ada di depan tubuhnya.
Tangan George mengelus perut sang istri dengan lembut. “Anak Daddy udah pengen keluar, ya? Sabar ya sayang.” Ia seolah sedang berbicara anak di dalam perut itu.
“Sakit, Ge.” Gabby sungguh tak tahan. Bayinya seolah mendesak ingin keluar.
Jika bisa rasa sakit itu dipindahkan ke tubuh George, ia dengan senang hati akan menggantikan istrinya merasakan sakitnya akan melahirkan.
Marvel tak ikut, anak itu dititipkan ke Davis dan Diora. George tak bisa menjaga anaknya sendirian saat istrinya seperti ini. Sekarang ia merasa kerepotan karena sang istri tak mau memiliki babysitter.
George membopong tubuh istrinya, ia langsung membawa ke ruang bersalin. Sebelumnya ia telah memberitahukan kepada Dokter kandungan yang menangani istrinya.
“Sudah saatnya lahir,” ujar sang Dokter.
Dokter itu memberikan arahan untuk mengejan.
Tangan kanan George menjadi pegangan istrinya. Kuku tajam itu bahkan menancap dan meninggalkan luka di sana, namun ia tak masalah. Justru ia senang karena di persalinan kedua, George bisa lebih dekat dengan wanita yang ia cintai untuk berjuang melahirkan sang buah hati.
“Istriku, cintaku, duniaku, kau wanita yang kuat, hebat, dan tangguh. Kau pasti bisa.” George membisikkan kata-kata semangat untuk istrinya.
Padahal Gabby juga tak akan bisa fokus mendengarnya. Ia hanya fokus mengejan mengeluarkan dua anaknya.
Tangan kiri George mengusap kening istrinya, membenamkan kecupan di sana. Ia terus menyemangati istrinya dan membiarkan tubuhnya dianiaya.
“Selamat, anak pertama laki-laki,” ujar Dokter memperlihatkan bayi mungil itu dan memberikan ke perawat. Ia lalu memberikan arahan kepada Gabby untuk mengejan lagi.
“Selamat, anak kedua perempuan.”
Dua anak George dan Gabby telah lahir ke dunia dengan sehat.
George sungguh senang, persalinan kali ini ia bisa langsung memeluk wanita yang ia cintai, mencium kening istrinya, dan mengucapkan, “terima kasih istriku atas perjuanganmu yang begitu hebat untuk melahirkan buah hati kita.”
Setelah mendapatkan jahitan, Gabby diantarkan ke ruang VVIP yang setara fasilitasnya dengan hotel suite room. Wanita itu dibiarkan istirahat terlebih dahulu setelah melahirkan.
“Mommy ... mommy ....” Suara Marvel memanggil Gabby dari arah pintu menggema di ruangan itu.
Marvel datang bersama Diora, Davis, Danesh, Dariush, Delavar, dan Deavenny.
George memberikan isyarat menggunakan jari telunjuknya ditempelkan di bibirnya agar anaknya tak berisik. “Mommy sedang tidur, jangan diganggu.” Ia berbisik dalam mengucapkannya.
Marvel mengangguk, ia duduk di pangkuan Daddynya yang ada di kursi samping ranjang pasien. Ia ikut mengunggu Mommynya bangun.
“Anakmu mana?” tanya Diora pada George.
“Masih di ruangan bayi.”
Ruangan yang tadi sunyi sebelum kedatangan pasukan enam D itu pun mendadak menjadi ramai dan gaduh.
Gabby yang sedang menyelami alam mimpi pun terganggu dengan ributnya anak-anak Diora yang saling berebut remot televisi.
“Mommy ... terima kasih udah kasih Marvel adik lucu,” celoteh Marvel saat Gabby membuka matanya.
Gabby membalas dengan ulasan senyumnya. “Sama-sama.” Tangannya terulur mengelus pipi putranya.
Mata Gabby beralih menatap suaminya yang tersenyum ke arahnya. “Di mana anak kita?”
“Itu.” George menunjuk dua box bayi yang ada di depan Diora dan Davis.
“Aku mau menggendongnya,” pinta Gabby.
George mengangguk. Ia mendudukkan Marvel di ranjang samping istrinya. Ia mendorong box bayi itu untuk mendekat ke Gabby.
Anak laki-lakinya digendong oleh Gabby, setelah puas ia berikan kepada George dan bergantian dengan anak perempuannya.
“Kita beri nama siapa anak kita?” tanya Gabby masih menggendong anak perempuannya yang cantik seperti dirinya.
“Gerald Gabriel Giorgio dan Geraldine Gabriella Giorgio.”
Gabby mengangguk setuju dengan nama yang diberikan oleh suaminya. Untuk anak kedua dan ketiga memang ia serahkan pada sang suami. Ia sudah cukup memberikan nama untuk anak pertamanya.
“Selamat atas kelahiran anak kedua dan ketigamu, kita bisa menjodohkan anak-anak kita nantinya,” seloroh Diora.
Gabby langsung membulatkan matanya. “Tidak! Tak ada perjodohan, biarkan mereka memilih sendiri jalan cinta mereka. Jangan memaksakan kehendak. Kita cukup mendukung dan mengawasi saja apa yang mereka pilih,” tolaknya.
Dua bayi mungil itu pun digendong oleh Davis dan Diora. Mereka bermain dengan keluarga enam D dan Marvel.
Gabby dan George hanya menatap kehebohan itu dari ranjang pasien.
Tiba-tiba saja George mencium kening istrinya dengan penuh kasih. “Aku sangat mencintaimu, istriku,” ujarnya.
Itu adalah ungkapan cinta yang sudah tak terhingga dari seorang George Gabriel Giorgio untuk Gabby Gabriella. Pria itu setiap harinya mengatakan cinta, pagi, siang, sore, malam. Tak pernah libur. Ia takut kehilangan Gabby untuk yang kedua kalinya, hanya karena terlambat menyatakan cinta.
Gabby mengusap pipi suaminya. “Aku juga mencintaimu, suamiku.”
...........
...TAMAT...