Gabby, My Fierce Girl

Gabby, My Fierce Girl
Part 110



Marvel menceritakan semuanya pada George, mulai dari kejadian saat di rumah sakit, hingga ia kehilangan jejak Gabby dan terjebak kemacetan.


“Tolong kau bantu aku mencari Gabby,” pinta Marvel dengan terpaksa.


“Tenang saja, aku tahu di mana dia berada,” balas George.


“Di ma—” ucapan Marvel terhenti karena George memutus panggilan secara sepihak.


“Shit! Tak sopan! Bisa-bisanya dia mematikannya, aku sudah memberikan informasi kepadanya. Giliran dia tahu sesuatu, tak membagikan padaku,” gerutu Marvel. “Dasar manusia pelit!” Ponsel ditangannya ia banting di atas kursi hingga terpental dan jatuh ke lantai mobil.


“Ponselku ... aku harus berpuasa selama sebulan untuk membelinya.” Jo mengambil ponselnya. Ia bernafas lega setelah melihat kondisi benda berharga itu baik-baik saja. Dia peluk benda pipih itu dan mengelus-elusnya.


“Kurasa kau juga harus ku sekolahkan ke rumah sakit jiwa agar kau waras, ponsel begitu kau sayang-sayang,” cibir Marvel mendengus sebal dengan kelakuan Jo.


Tak berselang lama, kaca mobilnya diketuk seseorang dari luar. Jo segera menurunkan kaca karena mengenal orang tersebut.


“Ada apa tuan memanggilku?” tanya Mark yang sudah tak bertugas untuk memata-matai George.


“Kau datang menggunakan motor?” Marvel menjawab dengan pertanyaan.


Mark mengangguk. “Iya, tuan.”


“Bagus,” ujar Marvel. “Jo, buka kunci centralnya!” titahnya.


“Kau mau kemana, tuan?”


“Mencari Gabby! Kemana lagi? Main ke mall? Kau ini ada-ada saja bertanyanya! Cepat!” sentak Marvel tak sabar.


Marvel pun keluar dari mobil dan mengikuti Mark ke tepi jalan di mana motor Mark terparkir. Mereka melewati kemacetan dengan mudah, sebab bisa menyalip melewati sela antara mobil dan mobil.


Marvel memberikan perintah kepada Mark untuk ke area pemakaman di mana Mama Gabby di kebumikan. Sebab, ia tahu Gabby sering ke tempat itu.


Sesampainya di sana, ternyata Gabby tak ada. Marvel bertanya dengan penjaga pemakaman, dan katanya memang sempat ada seorang wanita muda menggunakan motor. Ciri-cirinya pun persis dengan yang disebutkan oleh Marvel. Namun, sudah pergi lagi beberapa saat yang lalu.


...........


Sementara itu, setelah mendapatkan kabar dari Marvel. George segera membubarkan rapat mingguan bersama para pemegang saham, Davis yang masih belum masuk kerja karena menunggu istrinya yang sakit pun membuat rapat penting itu harus di hentikan.


George melihat ponselnya, ia membuka aplikasi GPS yang terpasang dengan alat pelacak kecil di dalam pelindung ponsel Gabby. Ia sengaja memasang benda itu saat Gabby menginap di apartemennya. Tadinya, ia ingin membuat pertemuan-pertemuan secara mendadak dan tak sengaja yang dibuat-buat agar seolah-olah dirinya dan Gabby memang berjodoh.


“Ternyata, berfungsi juga alat itu.” George sangat senang atas kepintarannya.


George berlari menuju lift khusus untuk dirinya dan Davis. Ia segera ke basement. Langsung masuk ke satu-satunya mobil yang terparkir di tempat khusus pemilik perusahaan.


George menyambungkan GPS di mana Gabby berada, ke monitor kecil di mobilnya. Ia melajukan kendaraan roda empat itu mengikuti titik di mana pergerakan Gabby terlihat di monitor.


“Untuk apa dia ke sana?” gumam George. Ia semakin dalam menginjak gas.


“Shit! Macet!” gerutu George sembari menekan klakson mobilnya.


George melihat antrian kendaraan di depannya. Ia tak bisa sabar. Mobilnya yang sudah di pinggir, ia tepikan agar ketika lalu lintas mulai lancar, tak menghalangi kendaraan di belakangnya.


“Stop!” seru George menghadang seorang pengendara motor.


“Ada apa?” Pria bertubuh gembul dengan tatto penuh di tangannya itu bertanya dengan garang.


George tak takut sedikitpun akan hal itu. “Berapa harga motormu?” tanyanya.


Pria itu pun menyebutkan harga ketika ia membeli motornya dalam keadaan baru.


“Oke, kau turun! Berikan kunci dan helmmu padaku, aku akan membelinya dengan harga sepuluh kali lipat,” tawar George.


“Kau serius?”


“Ya!” ucap George tegas dan lantang. “Tuliskan nomor rekeningmu.” Ia menyodorkan ponsel ke pria itu.


Pria berttato itu pun mengetikkan nomor rekeningnya.


“Sudah ku transfer, kau cek! Sekarang, turunlah!” usir George.


Pria itu pun tersenyum senang mendapatkan rejeki nomplok. Ia turun memberikan helm dan kunci motor pada George.