
“Gabby, Diora.” Dengan lirih Lord memanggil kedua anaknya.
Kedua putrinya itu mendongakkan kepalanya untuk menatap Papanya.
“Papa ingin melihat wajah kalian,” pinta Lord.
Gabby dan Diora langsung mengurai pelukannya dan menaikkan badannya agar mudah dilihat oleh Lord.
Kedua tangan Lord meraih pipi masing-masing anaknya. Ia mengusap membersihkan cairan yang membasahi kulit bersih putrinya.
“Kalian harus berjanji dengan Papa. Sebagai saudara, kalian harus saling menjaga, saling menyayangi, mengasihi, dan saling membantu satu sama lain. Jangan saling membenci agar Papa tenang meninggalkan kalian di dunia,” pinta Lord.
Gabby dan Diora meraih tangan Papanya. Mengelus lembut kulit yang meruam itu. Gabby sebisa mungkin menghindari infus ditangan Papanya. Keduanya tak bisa mengeluarkan suara, hanya anggukan terus menerus yang bisa ia berikan sebagai jawaban.
Lord menurunkan tangannya, ia merentangkan kedua tangannya dan mengulas senyumnya. Matanya sudah mulai terlihat sayu dan tak fokus. “Bisa kalian semua memelukku?” pintanya.
Keempatnya mengangguk. Mereka memeluk Lord bersamaan. Keempatnya menggigit bibir bawah mereka untuk menahan agar suara isakan tak keluar dari mulut.
Nafas Lord mulai berat, oksigen seolah semakin sulit untuk masuk ke dalam paru-parunya. Matanya sudah mulai lemas ingin menutup. Tangannya masih berada di punggung putrinya. Semakin melemah tangan itu.
“Tak apa kalian mengantarkan kepergianku dengan tangisan. Aku bahagia, tandanya kalian menyayangiku. Namun, berjanjilah setelah ini kalian jangan menangisiku lagi. Cukup hari ini kalian bersedih. Hiduplah bahagia meskipun tanpa pria tua ini.” Lord berucap dengan terbata karena nafasnya yang sudah tak lancar lagi.
Tak bisa lagi mereka berucap, keempatnya tercekat tenggorokannya. Bahkan dua pria tanpa ekspresi itu pun ikut menitikan air mata. Ikut merasakan kesedihan, Lord sudah seperti sahabat mereka juga meskipun berbeda generasi.
Kelopak Mata Lord mulai terpejam. Nafasnya semakin tersengal dan sulit untuk menyalurkan oksigen ke paru-patunya. Masih dalam pelukan empat orang yang penting di dalam hidupnya. Lord menghembuskan nafas terakhirnya.
Tangannya terkulai lemas, terlepas dari pundak kedua putrinya.
Monitor yang berada di samping ranjang pasien itu berbunyi dan menunjukkan garis lurus. Lord telah tiada, batas umurnya sudah habis. Jantungnya sudah tak berdetak lagi.
Gabby dan Diora terisak tersedu-sedu. Sangat sedih, sedih sekali. Meskipun Gabby selalu menjadi boneka hidup Papanya, tapi tetap ia sedih. Tak ada anak yang berbahagia jika ditinggal pergi orang tuanya untuk selama-lamanya.
Dokter yang berjaga mulai menghampiri Lord yang sudah tak bernyawa.
George dan Davis menarik pasangan mereka masing-masing agar mengurai pelukan dengan Lord saat Dokter hendak melakukan tugasnya.
Pria berjas putih itu meminta persetujuan keluarga untuk menggunakan defibrilator sebagai kejut jantung pasien. Petugas medis itu masih mencoba untuk menyelamatkan nyawa pasien sebisa mungkin. Sesuai dengan tugasnya.
Kain putih itu perlahan menutupi tubuh Lord yang telah tak bernyawa.
Gabby dan Diora terisak tiada hentinya di dalam pelukan pasangan masing-masing.
Terlalu mendalami kesedihan mereka, dua wanita itu pun terkulai lemas dan tak sadarkan diri.
...........
Keesokan harinya. Peti berwarna putih itu sudah siap di ruang tengah kartel milik Lord. Tubuh tak bernyawa itu telah dibersihkan dan digantikan pakainnya menggunakan setelan jas rapi serta pantofel kesukaan mendiang.
Wajah itu sudah pucat, kedua tangan sudah saling bertumpukan di atas perut. Foto Lordeus dalam bingkai yang indah, terpampang nyata di depan petu mati itu.
Suasana di kartel Lord sedang mengharu biru. Anggota Cosa Nostra juga ikut merasakan kesedihan atas kepergian mantan ketua mereka.
Gabby dan Diora sudah tak bisa memberikan sambutan atau ucapan terakhir. Mereka hanya bisa menangis terus-menerus.
Peti itu perlahan mulai ditutup rapat dan dibawa menuju mobil ambulan untuk ke pemakaman.
...........
Jenazah Lord dikebumikan tepat diantara kedua istrinya. Komplek pemakaman elit itu sudah dipesan untuk keluarganya.
Setelah upacara pemakam jenazah selesai, peti itu juga sudah tertutup rapat oleh tanah, doa sudah selesai dipanjatkan, dan seluruh pelayat sudah pergi meninggalkan area pemakaman. Gabby dan Diora lagi-lagi bersimpuh di atas rumput yang akarnya belum menempel dengan tanah itu. Mereka memeluk nisan dan foto Papanya.
Davis dan George hanya bisa mengelus memberikan semangat dan kekuatan.
“Ayo kita pulang, langit sudah mulai gelap,” ajak George. “Ingat yang disampaikan Papamu, kalian harus bahagia setelah kepergiannya. Jangan membuatnya bersedih di alam sana, jangan memberatkan jalannya untuk kembali pada Sang Pencipta,” imbuhnya.
“George benar, kita jangan bersedih terus. Lepaskan kepergiannya agar dia tenang,” ujar Davis.
Gabby dan Diora mengusap air matanya. Mereka mengelus nisan itu. Dan mencoba mengulas senyumannya.
“Pa, terima kasih untuk segalanya, dan maaf untuk segala kesalahanku padamu. Aku akan tetap menjaga kakakku, Diora. Seperti yang kau amanatkan untuk kami saling mengasihi,” ujar Gabby dengan menatap nisan lalu bergantian ke Diora.
“Pa, terima kasih atas perlindunganmu selama ini dengan mengirimkan adikku, Gabby, sebagai sahabatku yang selalu ada disaat aku membutuhkan pertolongan. Aku akan mengasihinya sebagaimana amanat terakhir yang kau berikan,” ujar Diora dengan menatap nisan dan beralih menatap Gabby.