
“Ini milikmu! Terima kasih sudah mengantarku,” ujar Gabby ketika sudah sampai di depan gedung Apartement Casa De Jule. Ia meletakkan satu kantung papperbag berisi makanan di kursi depan. Tangannya siap membuka pintu, namun ia teringat jika pintu dikunci central oleh George. “Buka pintunya, aku ingin turun!” Ia berucap penuh penekanan.
George bergeming, entah mengapa ia belum rela jika berpisah dengan Gabby secepat ini. “Aku akan membukanya, tapi jawab pertanyaanku dengan jujur.” Ia tak gentar, masih mencoba mengulik Gabby.
“Tiga detik, aku memberi waktu tiga detik untuk mengajukan pertanyaan.” Gabby melihat jarum jam tangan yang terus berputar.
“Apa kau mengenal—” Ucapan George terhenti ketika Gabby sudah membuka suaranya lagi.
“Tiga! Waktumu habis untuk mengajukan pertanyaan. Dan pertanyaanmu yang tak jelas itu, ku rasa tak perlu aku jawab, kau seharusnya tahu sendiri jawabannya!” tegas Gabby yang tahu bahwa George menanyakan hal yang sama dengan sebelumnya. “Buka sekarang juga! Atau ku hancurkan kaca mobilmu sekarang juga!” ancamnya tak main-main.
George masih diam, tak rela berpisah begitu saja dengan Gabby. Dia mencuri pandang melalui kaca spion depan.
“Aku tak main-main dengan ucapanku!” Gabby mengeluarkan knuckle dari dalam tasnya, ia masukkan jari-jarinya ke dalam setiap lubang alat itu dan siap untuk memecahkan kaca mobil Tesla milik George. “Ku hitung sampai tiga, jika kau tak segera membukanya, maka jangan salahkan aku jika kaca ini sungguh akan pecah!”
“Satu.”
“Dua.”
“Ti—”
“Sudah ku buka, dasar wanita bar-bar!” umpat George. Ia membuka lock door tepat saat knuckle yang berada di tangan Gabby hampir menyentuh kaca. Meskipun kaya dan bisa membeli lagi mobilnya, namun George tak rela jika mobilnya tersakiti hanya demi mencegah seorang wanita.
George hanya bisa menghela nafasnya panjang dan menatap punggung Gabby yang kian menjauh.
Setelah Gabby tak terlihat lagi, George melajukan kembali mobilnya menuju apartemennya sendiri.
Hanya butuh waktu sepuluh menit, ia sampai di basement apartemennya. Ia membuka pintu dan turun. Kakinya mengayun ke arah lift yang ada di basement itu, namun seketika ia teringat dengan makanan yang dibelikan oleh Gabby. Ia pun kembali ke mobilnya, membuka pintu samping kemudi dan mengambil papperbag.
Mata George terhenti ketika ia menyadari ada suatu benda yang sedikit mencolok karena bahannya yang mengkilap sehingga memantulkan cahaya dari lampu penerangan basement. Benda yang berada di kursi belakang. Ia langsung mengambil benda itu. Menutup kembali pintu mobil dan berjalan ke unit apartemennya.
George meletakkan semua yang ia bawa ke atas meja makannya. Matanya menatap datar ke benda kotak itu.
“Milik siapa? Gabby atau Sophie?” gumam George. “Ah nanti juga dicari oleh pemiliknya jika tersadar barang berharganya hilang.”
George meninggalkan ruang makannya dan memilih masuk ke dalam kamar untuk membersihkan tubuhnya.
Tubuh George kini telah polos, hanya tertutup oleh busa-busa di dalam bathup. Fikirannya tertuju pada dompet yang tertinggal di mobilnya tadi. Ya, benda itu adalah dompet.
“Sial! Kenapa sekarang aku jadi punya rasa ingin tahu yang tinggi!” umpat George pada diri sendiri. Ia yang biasanya cuek dan tak perduli dengan lingkungan sekitarnya, mendadak merasa aneh dengan dirinya sendiri yang mulai berbeda.
George pun menyudahi acara berendamnya, ia membersihkan dirinya di bawah guyuran shower. Segera memakai bathrobenya dan keluar menuju tempat makan dimana ia meninggalkan dompet tadi.