
Jujur, Gabby sedikit tersentuh dengan permohonan maaf yang diungkapkan oleh George. Namun buru-buru ia menampiknya. Ia akan mempertimbangkan Marvel yang sudah jelas mencintainya, daripada George yang belum jelas perasaannya pada Gabby.
Wanita itu segera memalingkan wajahnya ketika pria yang ia juluki bermulut sampah itu menolehkan wajahnya.
“Seperti itu, kau keluarkan segala isi hatimu yang membuatmu sedih. Keluarkan saja segala perasaanmu. Anggaplah dirimu sedang sendirian,” ujar George.
“Ck! Bagaimana aku menganggap sedang sendiri, jika kau jelas-jelas berdiri di sampingku! Lama-lama, idemu tak masuk akal,” elak Gabby. Ia ingin George benar-benar meninggalkannya.
“Oke, baiklah. Aku akan pergi, tapi kau harus berjanji tak akan nekat jatuh dari atas sini,” pinta George. Ia ingin memastikan Gabby tak melakukan hal di luar akal sehat.
Gabby semakin menatap tak suka. “Kau pikir aku manusia tak beriman? Hei! Aku tahu jika Tuhan membenci orang-orang yang bunuh diri, karena sama halnya dengan melakukan pembunuhan, meskipun dengan diri sendiri. Aku tahu dosa!”
“Tidak, bukan begitu maksudku. Jika kau jatuh dari atas sini, mungkin kau tak mati. Hanya saja, kau akan patah tulang, lalu lumpuh,” kelakar George.
Kesedihannya berangsur menghilang, terganti dengan kemarahan. “Ku jatuhkan juga kau dari atas sini!” berangnya.
George terkekeh. “Kau lebih cocok galak daripada sedih,” selorohnya. Ia mengelus kepala Gabby sejenak, lalu langsung lari sekencang-kencangnya sebelum mendapatkan amukan lagi.
George tak benar-benar pergi. Ia hanya duduk di tangga untuk menunggu.
Menghela nafasnya berat, Gabby kembali pada posisi seperti yang dicontohkan oleh George.
“Tuhan ... kenapa hidupku seperti ini? Aku juga ingin dicintai seperti Diora ... apa salah jika aku iri dengan saudaraku sendiri? Aku juga ingin merasakan dipeluk Papaku, diperlakukan lembut oleh Papaku. Aku tak sekuat yang orang lain kira, Tuhan ... aku hanya mencoba menjadi kuat karena tuntutan yang selalu diberikan oleh Papaku! Mengapa aku harus terlahir dari wanita yang tak dicintai oleh pasangannya, Tuhan ... aku lelah berpura-pura kuat di depan semua orang! Mengapa Papaku selalu menuntut agar aku tak lemah? Mengapa ia tak menuntut Diora agar sepertiku juga? Mengapa tak adil, Tuhan? Tapi anehnya, mengapa aku begitu menyayangi Diora dan selalu ingin melindunginya? Tuhan ... aku sadar diri jika tak akan ada kondisi yang berubah dalam hidupku. Maka, aku mohon lebih kuatkanlah diriku! Jangan goyahkan pendirianku!”
Gabby terengah-engah setelah meneriakkan semua isi dalam hatinya. Ia lega menumpahkan batu yang mengganjal hatinya.
“Ternyata suaramu cempreng juga,” kelakar George mendekat lagi ke arah Gabby. “Bagaimana? Kau sudah puas?”
Di saat George mendekat, justru Gabby melangkahkan kakinya untuk duduk di kursi kayu yang ada di sana. Sehingga George mengikutinya.
“Lumayan, sepertinya aku harus berterima kasih pada sahabatmu itu karena sudah meminjamimu kapal pesiarnya.”
George mendengus, lalu ia berdecak. “Kau pikir aku meminjam kapal milik Davis?” tanyanya seraya menghempaskan pantatnya di samping Gabby.
“Memangnya tampangku ini seperti orang yang suka meminjam barang orang lain?” George mencengkeram rahang Gabby, namun tak terlalu kuat. Ia hanya ingin wanita itu melihat ke arahnya. “Lihatlah! Setampan aku? Kau kira tukang pinjam?”
Gabby menganggukkan kepalanya lagi. “Memangnya ada jaminan jika orang tampan tak suka meminjam?”
George melepaskan tangannya. “Kau benar-benar buruk sekali menilaiku. Meskipun aku hanya bawahan Davis, tapi perusahaan itu ku bangun berdua dengannya. Sahamku tak kalah banyak di Triple D Corp. Meskipun masih banyak Davis,” jelasnya meluruskan bahwa dirinya bukanlah seorang karyawan biasa.
“Ini kapal pesiarku sendiri, meskipun tak sebesar milik Davis. Tapi aku membelinya dengan hasil jerih payahku sendiri! Maka, jika kau ingin berterima kasih, seharusnya padaku, bukan Davis,” imbuh George menepuk dadanya kuat.
“O ....” Gabby menjawabnya dengan mulut yang membentuk huruf itu.
“Sudah? Hanya itu saja yang kau katakan?”
“Lalu, aku harus mengatakan apa lagi?”
“Terima kasih.” George berucap penuh penekanan dan sangat jelas.
Gabby berdiri, lalu agak menjauh dari George. “Ya, sama-sama.” Bibirnya tersenyum saat berhasil membuat George kesal.
George mengejar wanita itu saat kaki jenjang Gabby berlari meninggalkannya. “Kau mengerjaiku, ya?”
Gabby terkekeh. Ia berlari dengan posisi mundur, tak lupa ia memberikan ejekan menjulurkan lidah.
Setelah lelah, wanita itu pun berhenti. Begitu juga dengan George. Keduanya terengah-engah karena lelah.
“Terima kasih,” ujar Gabby tulus.
“Hm ... ku harap kau sudah tak bersedih lagi. Kau bisa datang padaku jika kau bersedih. Tak perlu malu menunjukkan sisi lainmu padaku, karena aku sudah melihatnya,” balas George. Ia menjatuhkan tubuhnya di lantai, merebahkan dirinya dengan tangan yang ia jadikan sebagai bantal. Matanya menatap langit yang sudah gelap.
Gabby pun duduk di lantai karena kakinya begitu lemas. “Aku bukan orang yang datang hanya saat membutuhkan saja. Aku tak sejahat itu.”
George menghentikan aktifitas menikmati awan hitam di atas sana. Ia duduk dengan kaki kanannya ia tekuk dan tangan kanannya ia taruh di atasnya, sedangkan tangan kirinya ia biarkan menyentuh lantai. “Jika kau tak ingin seperti itu, maka datanglah padaku saat kau senang dan sedih. Aku akan mendengar dan menghiburmu. Sekalipun kau memiliki masalah, datanglah padaku juga. Aku akan mencoba membantumu jika aku bisa.”