Gabby, My Fierce Girl

Gabby, My Fierce Girl
Part 31



“Anda yakin?” Dokter memastikan kembali permintaan pasiennya, sebab melakukan jahit pada luka tanpa membiusnya pasti akan terasa sakit.


“Yakin!” Gabby menganggukkan kepalanya mantap.


“Gabby! Kau jangan gila!” George menatap tajam Gabby dan berbicara penuh penekanan. Untuk pertama kalinya George mengucapkan nama Gabby.


Gabby tak memperdulikan George. “Lakukan saja, Dok.”


“Ini akan terasa sakit jika tanpa bius, nona.” Dokter itu mencoba menakut-nakuti Gabby agar pasiennya mengurungkan niat gilanya itu.


“Tidak masalah untukku,” timpal Gabby tanpa rasa takut sedikitpun. “Lakukan saja sesuai perintahku!”


Dokter itu masih diam, ia menimbang-nimbang permintaan Gabby.


“Dok, jika kau takut dan ragu melakukannya, biar aku sendiri yang akan menjahitnya!” tegur Gabby. Wanita itu sudah siap menengadahkan tangannya untuk mengambil alih alat yang sudah dipegang oleh Dokter.


Dokter itu menghirup nafasnya dalam-dalam, lalu mengeluarkannya lagi. “Baik, saya akan lakukan, tapi ini akan terasa sakit, nona. Tapi sebelumnya, mohon tanda tangani persetujuan dari anda terlebih dahulu, karena anda ingin melakukan tidak sesuai prosedur rumah sakit. Kami pihak rumah sakit tidak bisa bertanggung jawab banyak jika terjadi sesuatu dengan luka anda,” terangnya.


“Berikan saja dokumennya,” setuju Gabby.


Dokter segera memberikan perintah pada perawat untuk menyiapkan dokumennya. Tak berselang lama, perawat itu kembali dengan membawa selembar kertas.


“Ini, nona.” Perawat itu memberikan kertas yang harus dibubuhi tanda tangan beserta pulpen kepada Gabby.


Gabby langsung mengambilnya dan segera memberikan kembali setelah selesai memberikan persetujuan di kertas itu.


“Baik, saya akan melakukannya sekarang, nona,” ijin Dokter. “Siap, ya?”


Gabby hanya menjawab dengan anggukan.


Dokter itu pun mulai menjahit luka Gabby setelah ia bersihkan. Sesungguhnya Dokter itu juga ragu melakukan jahit tanpa bius, karena bukan termasuk prosedurnya. Tapi karena pasien mendesak ingin melakukan tanpa bius, ia pun mau tak mau melakukannya.


“Dasar keras kepala!” George yang tak bisa merubah keputusan Gabby hanya mampu mencibir dan melihat mimik wajah Gabby selama proses jahit luka berlangsung.


“Sudah selesai, nona. Lukanya jangan terkena air terlebih dahulu, ya?” ujar Dokter memberitahu.


Gabby hanya mengangguk mengerti.


“Saya resepkan obatnya terlebih dahulu, anda bisa menunggu di sini sebentar. Permisi.” Dokter itu pun pergi meninggalkan Gabby dan George berdua, karena perawat yang mendampinginya pun ia ajak pergi untuk ke ruangannya.


Selepas kepergian Dokter dan Perawat itu. George dan Gabby hanya diam, tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut masing-masing.


Gabby hanya memandangi luka di betisnya.


George pun demikian, ia juga memandangi luka itu. “Apa kau tak merasa sakit?” celetuknya. Tanpa sadar ia berbicara begitu lembut.


Membuat Gabby mengalihkan pandangannya dan menatap aneh ke arah sang pemilik suara itu. Apa dia sakit? Atau terbentur sesuatu?


“Tidak, apa kau meremehkanku dengan luka kecil seperti ini?” Gabby tetap menjawab seperti biasa, ketus.


“Oh iya, kau kan anak mafia, pasti kau sudah terbiasa dengan kekerasan dan luka seperti itu.”


“Sudah tahu, masih aja nanya!”


Mendapatkan respon yang tak bagus, George memilih diam. Hingga perawat kembali dan memberikan resep obat.


“Biar aku yang menebusnya.” Gabby hendak mengambil secarik hitam di atas putih itu, namun sudah diambil oleh George.


“Biar aku, aku yang menyebabkan lukamu, maka aku akan bertanggungjawab!”