
Tubuh yang dipenuhi darah dan tak berdaya itu pun diletakkan di atas brankar. Perawat dan Dokter yang berjaga malam langsung sigap membantu untuk menangani pasien korban kecelakaan itu.
“Saudara pasien?” Dokter itu menyembul keluar dari ruang operasi.
“Ya?” Seorang pria yang menolong Gabby itu langsung berdiri saat mendengar suara Dokter.
“Maaf—” Nada penuh penyesalan dari mulut sang Dokter membuat pria itu senam jantung dan takut akan mendengar berita yang disampaikan oleh pria dengan jas putih itu.
Jantungnya seolah sedang lari marathon saat ini juga. Rasanya ingin keluar dari tempat semestinya. Kedua tangannya saling meremas khawatir.
“Kami sudah melakukan semampu kami—” Semakin dibuat takut saja pria itu dengan Dokter yang terlihat muram.
Mulut pria penolong tak bisa berucap sedikitpun. Ia hanya siap mendengar seluruh penjelasan sang Dokter.
“Korban mengeluarkan darah yang cukup banyak, sehingga membutuhkan transfusi darah.”
“Lakukan!” tegas pria itu tanpa basa basi.
“Golongan darahnya langka, dan kami tak memiliki persediaan di rumah sakit,” jelas sang Dokter dengan nada penuh penyesalannya.
“Tetap pastikan dia hidup, aku akan segera mencari pendonor.” Tanpa menunggu jawaban, pria gagah itu pergi meninggalkan rumah sakit.
Ia tak mau menghabiskan waktu untuk berkeliling rumah sakit di seluruh Kota Helsinki. Hanya membuang-buang waktu saja.
George, pria itulah yang menolong Gabby. Ia yang baru saja pulang karena lembur pun tak sengaja menemukan Gabby yang sudah tak berdaya.
George tak mungkin datang kepada Lord, sebab ia ingat jika pria itu penyakitan. HIV! George juga tak mungkin datang ke Diora, wanita lemah itu bahkan baru saja melahirkan dan juga mendapatkan transfusi darah dari Gabby. Huft ... sungguh tak berguna.
“Marvel. Dia pernah jual beli ilegal. Pasti dia tahu banyak tentang orang-orang yang memiliki golongan darah langka.”
“Ha—” belum sempat Marvel menyapa. George sudah membuka suaranya.
“Kau di mana?” tanya George memburu.
Marvel yang mendengar suara George pun terkejut. Ia melihat nama yang tertera di ponselnya. “Kenapa kau menelfonku dengan nomor Gabby?” Ia bertanya dengan nada kesal.
“Tak perlu banyak bertanya. Katakan padaku, kau di mana? Ini genting, Gabby kecelakaan dan membutuhkan transfusi darah, segera! Bantu aku mencari pendonor darah secepatnya!” George mengatakan dengan tenang, namun sebenarnya ia panik. Hanya saja tak ia perlihatkan.
Marvel terkejut dengan informasi yang diberikan oleh George. Ia lalu meminta alamat rumah sakit di mana Gabby dirawat. Ia juga meminta George bertemu dengannya di rumah sakit saja.
Keduanya sepakat untuk bertemu di rumah sakit. George langsung putar balik untuk kembali. Dan Marvel bergegas pergi tanpa berganti pakaiannya terlebih dahulu.
Sesampainya di rumah sakit, keduanya bertemu di tempat parkir. George sudah menunggu di sana.
Marvel langsung keluar dari mobilnya dan menghampiri George. “Bagaimana keadaannya?”
“Kritis. Aku membutuhkan bantuanmu untuk mencari orang yang mau mendonorkan darahnya untuk Gabby. Berapapun imbalan yang diminta, akan aku berikan.”
“Ck! Kau pikir aku tak kuat membayar orang untuk memberikan imbalan.”
“Ini bukan saatnya kita berdebat.”
Marvel akhirnya menghubungi Jo, sudah tak bekerja dengannya pun masih saja Jo menjadi andalannya. Sebab, segala sesuatu pekerjaannya, Jo yang lebih tahu.
Mereka dapat bernafas lega saat Jo mengatakan jika dirinya memiliki darah yang sama langkanya. O negatif.
Marvel langsung meminta pertolongan Jo agar segera datang ke rumah sakit. Beruntungnya lagi, meskipun Jo pernah bekerja dengan mafia narkoba, ia bersih dari barang laknat itu. Sehingga, bisa mendonorkan darahnya.