Gabby, My Fierce Girl

Gabby, My Fierce Girl
Part 70



Keesokan harinya, Marvel duduk termenung di kursi kebanggannya. Ia terus memikirkan permintaan Gabby agar dirinya berhenti dari bisnis dunia gelap yang memberinya banyak keuntungan. Antara harta dan cinta. Ia dibuat bingung harus memilih yang mana. Sejujurnya ia ingin keduanya, tapi Gabby tak ingin terlibat dengan pria yang berkecimpung di dunianya saat ini.


“Jo!” panggil Marvel pada asistennya. Ia harus menanyakan pendapat orang lain mana yang harus dia pilih.


“Ya, Tuan,” sahut Jo yang setia berdiri di dekat meja Tuannya.


Marvel meletakkan kedua siku tangannya di meja dan ibu jarinya ia gunakan untuk menopang dagunya. “Jika kau harus memilih, harta dan cinta. Mana yang akan kau pilih?” tanyanya.


“Dua-duanya, Tuan,” jawab Jo. Dan langsung mendapatkan lemparan pulpen yang mengenai keningnya.


“Salah satu, bodoh!”


“Maaf, Tuan. Saya hanya menjawab apa yang saya inginkan,” balas Jo datar. “Jika memilih salah satu, saya akan memilih cinta, Tuan. Karena harta bisa dicari lagi, tapi cinta akan sulit untuk kita jatuh cinta pada orang yang tepat. Kalau Tuan sudah menemukan cinta yang tepat, lebih baik memilih cinta. Karena hidup dengan orang yang dicintai akan terasa lebih bahagia. Meskipun harta juga penting untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga Anda nantinya,” imbuhnya. Ia yang dua puluh empat jam selalu siaga di dekat Tuannya tahu betul jika Tuan Marvel tidak pernah merasa bahagia meskipun hartanya melimpah.


Marvel memijat keningnya yang berdenyut. “Panjang sekali bicaramu, membuatku pusing,” selorohnya.


“Maaf, Tuan,” sesal Jo.


Marvel mengibaskan tangannya mengusir Jo agar keluar. Ia ingin memikirkan matang-matang apakah akan berhenti dari bisnis kotornya atau tidak.


Marvel mengingat kembali bagaimana dia bisa mencintai Gabby. Sedari kecil Papanya dan Papa Gabby berteman sehingga mereka hampir setiap hari bersama. Di dunia Marvel, ia tak pernah mengenal wanita manapun. Hanya Gabby saja. Mungkin itulah yang membuatnya begitu jatuh cinta dengan Gabby.


Disaat ia masih berfikir, Jo mengetuk pintunya dan langsung masuk ke dalam. “Tuan.”


“Tuan Austin menunggu transaksi heroin,” ujar Jo memberitahu.


Marvel berdecak, disaat ia sudah memutuskan untuk berhenti, ada orang yang meminta transaksi dengannya. “Ini yang terakhir, sampaikan padanya,” perintahnya.


“Baik.” Jo pun keluar. Ia bergeleng kepala. “Apakah aku akan menjadi pengangguran jika Tuan Marvel akan berhenti dari bisnis ini?” gumamnya.


...........


Satu hari penuh Gabby menghabiskan waktunya di ruang studio yang tempatnya tersembunyi di balik jejeran baju-bajunya yang menggantung. Ruangan dengan ukuran dua puluh lima meter persegi itu yang bisa memberinya penghasilan banyak setiap harinya. Ia mengalihkan pikirannya yang tengah kacau oleh George dan Marvel. Ia tahu Marvel mencintainya sejak dulu, jika pria itu sungguh mau berhenti, haruskah ia menerimanya sesuai ucapannya? Sedangkan George, pria yang memberikannya patah hati sudah melamarnya, hanya saja pria itu tak mencintainya.


“Argh ....” Rambut yang tertata rapi itu kini berantakan.


Gabby memilih untuk menutup MacBooknya, dan menyudahi kegiatannya. Ia tiduran di atas sofa, menutup matanya dengan tangannya.


Ting ... Tong ...


Bel apartemennya berbunyi, dengan langkah gontai Gabby membukanya. Ia berdecak malas. “Ada apa kau kemari?”


“Aku ingin memberitahumu, aku akan berhenti dari bisnis gelapku, dan aku juga akan berhenti jadi pemakai. Tapi kau harus berjanji untuk mendampingiku selama proses penyembuhanku.” Marvel langsung menyampaikan intinya.


Gabby membulatkan matanya, tak percaya dengan keputusan Marvel. Sial! Semakin pusing dirinya saat ini.