Gabby, My Fierce Girl

Gabby, My Fierce Girl
Part 82



“Sudah? Kembalilah ke kamarmu jika kau sudah selesai, aku lelah dan ingin istirahat,” usir Gabby. Hatinya saat ini tengah bergemuruh menahan gejolak perasaan yang selalu ditampik oleh logikanya.


Selagi George belum tahu dimana posisi Gabby pada hatinya, Gabby akan membentengi diri agar tak hanyut oleh perasaannya sendiri.


Gabby tak ingin menjadi satu-satunya orang yang jatuh cinta, ia tak ingin seperti Mamanya yang hidup penuh kebahagiaan semu. Apa lagi, di matanya, George masih menyimpan rasa pada sang mantan dan menjadikannya hanyalah pilihan lain yang tak dicintai.


George mengangguk sebagai jawaban. “Tidurlah, semoga kau bisa menerima penjelasanku itu, aku sungguh tak ada maksud memperlakukanmu dengan kasar. Jika saja kau langsung mengatakan dirimu yang sesungguhnya padaku, kau bisa menunjukkan gelang pemberianku jika kau berfikir aku tak akan percaya denganmu, pasti aku akan memperlakukanmu dengan baik,” ujarnya.


Gabby memalingkan wajahnya, bisa saja ia mendebat pernyataan George yang seolah menyalahkan dirinya karena tak mengungkap jati dirinya yang sesungguhnya pada pria itu. Namun, ia memilih diam tak menanggapi.


Lagi pula, untuk apa dia mengatakan pada George jika dirinya gadis kecil yang dijanjikan oleh pria itu? Pertemuan keduanya setelah sekian lama tak bertemu adalah saat Gabby tak sengaja melihat George jalan bersama dengan wanita lain begitu mesra.


Ia yakin jika itu kekasih George, mana mungkin adik atau saudara sangat mesra hingga sang wanita mencuri-curi kecupan. Uhh! Membayangkan adegan yang sudah lama tak sengaja ia lihat itu, membuat hatinya semakin bergemuruh saja.


Gabby juga wanita, ia memikirkan bagaimana perasaan wanita lain, jika tiba-tiba ia menagih janji George. Gabby tak sejahat itu melukai hati orang lain.


Gabby menatap punggung George yang mulai menjauh dari sofa ketika ia mendengar langkah kaki pria itu.


“Kenapa aku harus berada pada pilihan yang sulit? Marvel atau pria bermulut sampah itu? Mana yang akan aku pilih? Hati dan pikiranku bertolak belakang semua, hatiku memilih George, namun logikaku memilih Marvel.” Gabby mendesahkan nafasnya melengkapi kebingungannya.


Gabby buru-buru memiringkan tubuhnya menghadap sandaran sofa ketika pintu kamar George terdengar terbuka, ia tak ingin terlihat tengah memperhatikan George. Akan besar kepala pria itu, pasti.


George datang membawakan selimut. Melihat Gabby yang sepertinya sudah tidur, ia langsung menutupi tubuh yang meringkuk itu dengan kain tebal di tangannya. “Agar kau tak kedinginan.” Menepuk tiga kali bahu Gabby, sebelum ia kembali ke kamarnya lagi.


...........


Sudah satu jam lamanya, Gabby hanya membolak balikkan badannya. Ia tak bisa memejamkan mata dan berselancar ke alam mimpinya. Lupa, jika dirinya sudah ketergantungan dengan obat tidur.


“Mataku pasti akan hitam jika seperti ini terus.”


Percumah Gabby mencoba memejamkan matanya, ia tak akan bisa tidur. Ia pun memilih untuk membuka ponselnya, melihat-lihat video yang sudah ia posting di youtube.


“Oh ... jadi si pria bermulut sampah itu adalah pemilik akun Baymax yang membeli desainku tahun lalu,” gumam Gabby saat ia melihat komentar di salah satu videonya, kemudian memastikan ke emailnya, dan membandingkan desainnya dengan hunian George.


George membeli desain Gabby dengan satu unit mobil Hummer H1 yang dikirim langsung ke Universitas oleh dealer tempat George membelinya. Gabby memang sengaja tak ingin bertransaksi langsung oleh penggemar di youtubenya. Sehingga ia sengaja meminta dikirim ke tempatnya kuliah dan meninggalkan langsung ke satpam.


Gabby berdecak, “ternyata pria itu salah satu sumber penghasil kekayaanku.” Gabby terkekeh, ternyata selama ini George begitu mengaguminya. Mengaguminya sebagai seorang arsitek, bukan seorang wanita.


Miris!