
“Jangan bercanda, kau!” Gabby tak ingin langsung percaya begitu saja apa yang dikatakan oleh Marvel.
“Aku serius, maka dari itu berjanjilah padaku kau akan mendampingiku selama proses penyembuhanku,” ujar Marvel sungguh-sungguh.
Gabby menatap kedua manik mata pria di hadapannya itu, mencari kebohongan. Namun tak ada, Marvel ternyata sungguh-sungguh akan berhenti.
“Masuklah, kita bicarakan ini di dalam,” ajak Gabby mempersilahkan.
Marvel pun masuk dan duduk di sofa, sedangkan Gabby menuju dapur untuk mengambilkan minuman. Bibir Marvel terlihat kering, sehingga ia mengambilkan air.
“Kenapa kau tiba-tiba mau berhenti?” tanya Gabby seraya meletakkan gelas berisi air dingin ke hadapan Marvel. “Minumlah.” Ia pun duduk di hadapan Marvel.
Marvel menenggaknya, ia memang sangat haus. Mungkin efek dirinya selalu minum alkohol dan tak pernah minum air mineral.
“Karena aku ingin hidup bersama orang yang aku cintai, dan orang itu kau,” ujar Marvel seraya meletakkan gelas ke atas meja kembali.
Gabby tahu itu, bahkan Marvel sudah keseribu kalinya mengatakan cinta padanya. “Ini akan berat untukmu, apa kau sudah memikirkannya?” Ia harus memastikan tekad Marvel untuk berubah.
“Aku sudah memikirkannya, aku akan berhenti, aku tak akan mengungkap jati dirimu sebenarnya, asal kau berjanji akan mendampingiku dan bersamaku terus. Mungkin kita akan hidup miskin karena semua penghasilanku dari bisnis gelap itu, aku akan membuka bisnis baru nantinya jika kau menerimaku.”
Sedalam itukah cinta Marvel pada Gabby hingga ia rela meninggalkan dunianya yang sudah lama ia geluti?
“Bagaimana? Apa kau mau berjanji padaku?” Marvel mengulangi pertanyaannya, sebab Gabby hanya diam dengan pandangan mata kosong. Tak ada jawaban, ia pun menjentikkan jarinya.
“Apa? Kau bertanya apa?”
Marvel berdecak, “sedari tadi kau tak mendengarkan ucapanku.”
Marvel pun mengulangi pertanyaannya kembali.
“Aku tak bisa berjanji, karena aku hanya manusia biasa yang mungkin suatu hari nanti bisa melupakan hal itu. Tapi aku akan mengusahakan jika kau memang bersungguh-sungguh,” jawab Gabby. Tak tahu apakah ini pilihan yang tepat atau tidak untuk mencoba menerima orang yang mencintainya.
Setidaknya ia harus melihat seberapa besar cinta Marvel padanya. Bukankah Tuhan maha membolak balikkan hati hambaNya? Mungkin suatu saat ia bisa membalas cinta Marvel.
“Oke, aku hanya meminta kau mendampingiku terus selama penyembuhanku.”
Gabby mengangguk, “aku akan mengusahakan.”
Tak ada yang ingin dibicarakan lagi dengan Gabby. Keduanya hanya diam tak ada yang memulai pembicaraan.
“Kapan kau akan memulai rehabilitasi?” Akhirnya Gabby memulai untuk bertanya.
“Besok, apa kau bisa menemaniku untuk berkonsultasi terlebih dahulu?” tanya Marvel.
Gabby melihat jadwal di ponselnya, sepertinya besok kosong. “Aku bisa, tapi apa kau akan menyerahkan dirimu kepada pihak berwajib untuk mengakui bisnis gelapmu itu?”
“Jangan gila, sama saja aku menyerahkan nyawaku jika aku menyerahkan diriku.” Marvel bahkan tak dicurigai sedikitpun oleh pihak berwajib karena gudang persembunyiannya jauh dari tempat tinggalnya dan ia tak pernah turun langsung ke sana ataupun bertransaksi langsung. Semua dilakukan oleh anak buahnya.
“Setidaknya kau sudah berhenti, aku menghargai usahamu.”
“Sebentar.” Marvel beranjak dari sofa ketika ada panggilan masuk.
Gabby melihat Marvel yang tengah mendengarkan orang dari seberang telefon sana. Entah apa yang dibicarakan hingga membuat kening pria itu mengkerut, rahangnya mengaras, dan menoleh ke arah Gabby.