Gabby, My Fierce Girl

Gabby, My Fierce Girl
Part 139



Dengan hati gembira, Marvel mengajari Gabby memotong bawang bombay dan juga mencincang daging. Tangan Gabby kaku sekali, terlihat jika tak pernah memegang pisau sama sekali.


“Ah ... lebih baik aku memegang MacBook daripada pisau ini,” kesal Gabby yang tak bisa melakukan sesuai instruksi Marvel. Hasil potongannya sangat tak beraturan, bahkan terlalu besar.


Marvel terkekeh melihat wajah Gabby yang cemberut. Hingga tak terasa jika ia sudah mencondongkan wajahnya mendekat ke wajah Gabby.


Cup!


Kecupan di pipi yang reflek di berikan oleh Marvel pun membuat Gabby membelalakkan matanya dan menengok secepat kilat ke arah Marvel.


“Kau mau mati, ya?” Gadis cantik itu menudingkan pisau yang ada di tangannya.


Marvel mundur ke belakang untuk menghindari pisau tajam itu. Kedua tangannya naik ke atas seperti seorang tersangka yang sudah tertangkap basah. “Ampun ... aku hanya gemas dengan wajahmu yang cemberut saat tak bisa memotong bawang bombai itu dengan rapi,” celetuknya.


Gabby menurunkan tangannya, meletakkan pisau yang ia genggam. Menghembuskan nafasnya kasar saat melihat hasil potongannya. “Aku memang tak berbakat untuk memasak,” gumamnya.


“Tak apa, biar aku yang memasak untukmu.” Marvel tak mempermasalahkannya.


“Aku wanita, seharusnya aku yang memasak untukmu,” elak Gabby.


“Kita tinggal di Eropa, tak selalu wanita yang memasak. Bahkan, chef pun kebanyakan pria daripada wanita. Kau hanya cukup membalas cintaku saja, itu sudah cukup untukku,” balas Marvel.


Gabby terdiam sejenak, cinta? Ia takut tak bisa menumbuhkan cinta untuk Marvel. Namun ia tetap harus berusaha. Mungkin akan tumbuh seiring berjalannya waktu, mungkin akan tumbuh karena terbiasa juga.


“Tapi, tetap saja aku ingin bisa memasak.”


“Baiklah, kita belajar dari yang termudah dulu. Sandwich. Aku akan mengajarimu untuk membuatnya.”


Marvel menuju ke kulkas untuk mengambil selada, tomat, dan telur. Meletakkan semuanya di atas meja. Lalu meraih roti yang ada di atas meja. Ia tak mengambil daging dan bawang bombay karena sudah ada di atas meja sejak tadi.


“Aku akan memberikanmu contoh bagaimana membuat sandwich, kau amati dan setelah itu baru kau menirukannya,” ujar Marvel.


Mulai dari Marvel yang memasukkan roti ke pemanggang, menggoreng telur, memanggang daging, mencuci selada, membuat caramelize onions, bahkan memotong tomat pun tak lepas dari pandangannya.


Marvel mulai menata sandwich itu. Mulai dari roti lalu ia olesi mayonais dan saus, kemudian daging, telur, selada, tomat, diolesi lagi dengan mayonais dan saus, kemudian ditutup dengan roti lagi.


“Sandwich ala Marvel yang tampan, sudah jadi.” Marvel mengangkat piring berisi makanan itu. Menunjukkannya pada Gabby.


Gabby sontak bertepuk tangan sebagai apresiasi atas hasil karya Marvel.


“Kau mau mencicipinya?” tawar Marvel menyodorkan sandwich.


Mengangguk cepat Gabby memberikan jawaban. Ia hendak mengambil makanan itu, namun sudah terlebih dahulu diambil oleh Marvel.


“Buka mulutmu,” perintah Marvel. Ia hendak menyuapi Gabby.


Gabby nampak ragu, ia merasa aneh jika makan disuapi oleh seorang pria. Karena ia belum pernah.


“Apa kau tak mau aku suapi?” Marvel terlihat kecewa karena Gabby tak juga membuka mulut.


Wanita itu meraih tangan Marvel yang hendak meletakkan kembali sandwich ke atas piring. Ia mengarahkan tangan itu untuk menyuapinya. Ia mengigit sedikit, namun semua komponen di dalamnya tergigit dan mulai menyatu di rongga mulutnya saat ia mengunyahnya.


Marvel menunggu komentar Gabby tentang makanan yang ia buat. Ia tak henti-hentinya memandang mulut dan pipi yang terus bergergerak seirama dengan kunyahannya.


“Bagaimana?”


Gabby mengangguk. “Enak, aku suka.”


Marvel bangga dengan mahakaryanya sendiri setelah mendapatkan respon positif dari Gabby. Lagi-lagi, ia memeluk Gabby. Ia selalu memeluk wanita yang ia cintai saat merasa senang.