
Langkah kaki lebar dan nafas memburu dari pria dengan kemeja hitam yang digulung hingga sebatas siku itu menarik perhatian seluruh pengunjung Restoran Ravintola. Tujuannya adalah meja yang berada di dekat kaca yang langsung bisa memperlihatkan jalanan Kota Helsinki dimana Gabby dan George duduk berhadapan.
Ia langsung mengambil kotak perhiasan, menutupnya dengan penuh emosi, dan melemparkannya hingga mengenai kening George. “Lancang kau melamar calon istriku!” berangnya, tatapannya sangat tajam. Bahakan jika dibandingkan George, ia lebih tajam dan menakutkan.
Kehadirannya langsung membuat ricuh dan menyita perhatian pengunjung restoran itu, bahkan ada yang mengabadikan dengan ponsel mereka. “Jaga mata kalian! Dan jika kalian masih sayang dengan nyawa kalian, hapus semua video yang diam-diam kalian ambil!” Sorot mata tajamnya menatap satu persatu pengunjung di sana. Membuat semuanya langsung menunduk dan tak berani melihat ke arahnya.
George dan Gabby masih terkejut dengan kehadiran pria yang baru datang langsung membuat onar dan mengaku calon suami Gabby. Mata mereka mengikuti dari pria itu berdiri hingga duduk di samping Gabby dan merengkuh bahu wanita yang dicintainya itu.
“Kau tak menerimanya, kan?” tanyanya penuh penekanan, namun matanya tetap tajam menghunus George.
George sadar dari keterkejutannya, ia bukan terkejut karena pria yang duduk satu meja dengannya sangat arogan. Melainkan dari pernyataan yang mendeklarasikan bahwa Gabby adalah calon istrinya.
“Cih! Apa aku harus percaya dengan bualanmu itu?” cibir George. Ia tak mau kalah dengan pria yang terlihat lebih muda darinya itu. Harga dirinya serasa diinjak-injak jika takut dengan pria tengil yang dimatanya sok terlihat angkuh.
Pria itu tertawa mengejek dan diakhiri dengan senyuman sinis. “Kau tanyakan saja langsung dengan wanitaku ini.” Ia menatap Gabby yang masih diam lalu membisikkan sesuatu pada wanita itu hingga membuat Gabby mengeratkan giginya.
“Brengsek, kau!” bisik Gabby. Meskipun pelan, namun terdengar penuh penekanan.
Gabby merasa risi sejujurnya, tapi bukankah cinta memang butuh pembuktian? Butuh perjuangan? Mungkin inilah waktunya George membuktikan sebesar apa perjuangannya untuk mendapatkan Gabby dengan sebongkah batu sebagai rintangannya.
George menunggu jawaban dari mulut wanita satu-satunya di mejanya. Ia sudah menajamkan telinganya. “Benarkah apa yang dikatakan olehnya?”
Menghela nafasnya sejenak untuk menjawab pertanyaan itu. Haruskah Gabby berbohong dan mengikuti permainan pria di sampingnya? Pria itu bisa lebih nekat dan membahayakan siapa saja yang menghalangi jalannya. Bahkan ia tak akan segan membunuh George jika Gabby mengaku pernah memiliki perasaan dengan orang lain.
“Ya! Bukankah sudah cukup jelas dengan apa yang kau lihat saat ini?” jawab Gabby tak ada keraguan.
George melihat bagaimana Gabby berlama-lama bersandar pada pria angkuh itu.
“Kalian fikir aku akan percaya begitu saja? Bahkan, kau Gabby, kau masih menyimpan gelang pemberianku dan selalu mengingat janjiku. Artinya, kau masih menungguku!” tegas George.
Janji? Pria berstatus saingan George itu menjadi bertanya-tanya tentang janji apa yang sudah pernah dibuat. Ia akan mencari tahu nanti. Saat ini, ia harus mengamankan wanitanya dari pria lain.
“Terserah kau mempercayainya atau tidak, yang pasti tidak ada yang boleh memiliki Gabby Gabriella kecuali aku! Marvel Salvatrucha!” Pria bernama Marvel itu sudah menobatkan Gabby sebagai hak miliknya.