Gabby, My Fierce Girl

Gabby, My Fierce Girl
Part 154



George meninggalkan markas Cosa Nostra saat ia mulai jengah dengan Davis dan Lord yang terus menghasutnya agar mau menggunakan cara licik. Sebab, Gabby akan sangat sulit ditakhlukkan. Walaupun dengan kata cinta yang diucapkan oleh George. Sudah basi dan terlambat jika mengatakannya sekarang.


Blam!


George membanting pintu mobilnya dengan kesal saat mengingat ide gila Lord dan Davis.


“Orang tua macam apa yang menjual anaknya sendiri pada seorang pria!” decaknya.


George melajukan mobilnya. Entah ia pergi ke mana, yang pasti ingin menyegarkan pikirannya.


Sedangkan di ruang bawah tanah Cosa Nostra, Lord dan Davis masih berbincang.


“Sahabatmu itu, kenapa di juga keras kepala sekali!” Lord berdecak saat pendapatnya selalui tak disetujui oleh George.


Davis mengedikkan bahunya. “Memang seperti itu sifatnya.”


“Bantu aku memikirkan ide agar mereka bisa bersatu.”


Davis mengibaskan tangannya seolah meremehkan Lord. “Kau masih memikirkannya?”


Lord mengangguk. “Tentu saja, mereka berdua sama-sama keras kepala. Jika tak menggunakan cara licik, aku takut mereka tak akan bisa bersama.”


“Kau tak perlu pusing. Jika George tak setuju, kita berikan obat keduanya. Beres, kan? Dia orang yang bertanggung jawab. Pasti tak akan lari setelah melakukan pada Gabby,” jelas Davis enteng tanpa beban.


“Bagaimana caranya?”


Davis lalu membisikkan rencana liciknya pada Lord. Rencana licik untuk menjebak George dan juga Gabby agar saling menyatu.


“Bagaimana?” tanya Davis dengan senyum liciknya.


Lord bergeleng kepala. “Kau benar-benar licik.”


Lord mengajak Gabby untuk makan malam di hotel, dengan dalih ingin sesekali makan bersama Gabby. Ia juga mengatakan ingin menebus semua kesalahan yang pernah Lord perbuat pada Gabby, termasuk keegoisannya.


Gabby percaya begitu saja dengan Papanya. Ia juga senang bisa keluar dengan Papanya. Sepertinya, ini adalah kali pertama mereka makan di luar bersama. Apa lagi, hanya berdua. Tak ada Natalie ataupun Diora. Ia sangat senang. Bukannya Gabby jahat, namun ia memang sangat ingin sesekali menghabiskan waktu berdua dengan Papanya.


Meja yang ada di samping kaca menjadi pilihan Lord. Pria tua itu sudah memesannya. Lord menarik kursi untuk Gabby duduk.


Gabby mengulas senyum pada Papanya. Lalu, ia duduk di kursi itu. “Terima kasih, Pa.”


Lord membalas senyuman putrinya dengan hangat. Ia lalu duduk di hadapan Gabby.


Pelayan menghantarkan makanan yang sudah mereka pesan.


Alunan musik romantis menemani sepasang anak dan Papanya itu menyantap hidangan mewah. Hati Gabby berdesir bahagia mendapat perhatian dari Papanya. Perhatian yang tak pernah ia dapatkan.


“Jadi, kapan kau akan menikah dengan Marvel?” tanya Lord. Ia mengusap bibirnya dengan sapu tangan yang tersedia di atas meja, setelah menghabiskan makanannya.


Gabby menghentikan aktifitas tangannya yang masih memotongi steak. Ia mengangkat kepalanya untuk memandang Papanya. “Satu bulan lagi,” jawabnya.


Lord mengangguk dan mencoba mengulas senyum untuk putrinya.


“Apa Papa sudah menyetujui pernikahanku dengan Marvel?” tanya Gabby.


Lord tak menjawab dengan ucapan, ia hanya menjawab dengan senyuman.


Gabby merasa aneh dengan Papanya. Ia tahu betul Papanya juga sama keras kepala seperti dirinya. Tak mudah merubah keputusan Papanya juga.


“Boleh bergabung?” izin Davis yang baru saja menghampiri meja Gabby dan Lord.


Gabby mengalihkan pandangannya yang tengah menelisik Papanya. Ia menatap Davis yang berdiri di samping mejanya. Lagi-lagi jantungnya tak karuan saat manik matanya bertemu dengan George.